
"Mas? Ko bengong?" tanya Alena membuyarkan lamunan panjang seorang Alvin. Jujur, otaknya traveling ke mana-mana, membayangkan kira-kira sebesar apa ukuran 34 milik Alena.
"Astaga!" Alvin mengusap wajahnya kasar mencoba untuk menepis pikiran-pikiran kotor yang sempat memenuhi otak kecilnya kini.
"Mas Alvin kenapa? Mas tidak sedang membayangkan ini 'kan?" Alena seketika menelungkupkan kedua telapak tangannya di dada.
"Hah? Hahahaha! Tentu saja tidak dong, memangnya saya ini laki-laki ca*ul apa?"
"Syukurlah, aku kira Mas Alvin benar-benar sedang membayangkan dada aku."
Alvin hanya tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali. Suasana mendadak canggung, baik Alena maupun Alvin merasa salah tingkah entah mengapa.
Dret! Dret! Dret!
Ponsel Alvin seketika bergetar, laki-laki itu sempat terkejut pada awalnya. Namun, dia segera merogoh saku celana yang dia kenakan dan meraih ponsel dari dalamnya.
📞 "Halo," sapa Alvin mengangkat telpon.
📞 "Iya halo. Kalian di mana? Saya sudah sampai di sini," tanya Fazril samar-samar di dalam sambungan telpon.
📞 "Kami ada di hotel."
📞 "Hotel?"
📞 "Jangan salah sangka dulu, Fazril. Meskipun kami di hotel, kami sama sekali tidak melakukan hal apapun. Aku sama Alena cuma beristirahat. Saya kirimkan alamat hotelnya ya, saya tunggu kamu di sini."
📞 "Oke."
Tut! Tut! Tut!
__ADS_1
Sambungan telpon pun seketika terputus. Alvin segera mengirimkan alamat hotel di mana dirinya menginap bersama Alena. Jika boleh berkata jujur, hati seorang Alvin benar-benar merasa lega. Dirinya semakin merasa gugup saja jika terlalu lama berada hanya berdua saja di dalam kamar hotel tersebut.
"Abang hilang apa?" tanya Alena kemudian.
"Dia akan kemari, saya sudah memberitahukan alamat hotel ini."
"Syukurlah." Alena seketika menghembuskan napas merasa lega.
Wanita itu merasakan hal yang sama juga ternyata. Dia sudah mulai tidak nyaman berada di dalam kamar hotel bersama laki-laki bernama Alvin, bukan karena dia tidak menyukai laki-laki itu, tapi dirinya tidak ingin sampai melewati batas dan tergoda dengan sesuatu yang akan membuatnya menyesal seumur hidup nantinya.
"Eu ... Bagaimana kalau kita menunggu di bawah? kebetulan saya lapar," pinta Alvin dan segera di jawab dengan anggukkan oleh wanita bernama Alena. Keduanya pun masuk lalu keluar dari dalam kamar tersebut.
* * *
Setelah menunggu di Restoran hotel selama 30 menit, akhirnya yang tunggu pun datang. Fazril nampak berjalan menghampiri mereka yang baru saja selesai menyantap makanana. Kakak laki-laki Alena itu pun duduk bersama mereka.
"Bagaimana keadaan Lian, Bang? Apa dia nyariin aku?" tanya Alena.
"Kasihan Lian. Aku merasa bersalah sama dia, seharusnya aku ada di sampingnya saat ini, tapi aku malah berada di sini."
"Mau gimana lagi, keadaannya memang tidak memungkinkan. Abang tahu bagaimana perasaan kamu, Len. Kamu berat untuk meninggalkan Lian, sementara kamu juga harus mencari keberadaan Lani. Abang harap kamu bisa tegar menghadapi semua ini, jangan pernah merasa sendiri, karena masih ada Abang, Ibu dan Ayah, ada calon suami kamu juga di sini."
"Hah? Ca-lon su-suami?" Alena seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut tentu saja.
"Ehem!" Alvin berdehem, tenggorokkannya tiba-tiba saja merasa gatal entah mengapa.
"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapan Abang?" tanya Fazril menatap wajah adik juga sahabatnya secara bergantian.
"Calon suami? Siapa?" Alena mendadak amnesia, wajahnya pun berubah polos seolah tidak mengerti dengan apa yang baru saja di katakan oleh sang kakak.
__ADS_1
"Si Alvin 'lah, siapa lagi. Kalian bahkan sudah menginap di hotel segala. Awas ya kamu, Vin. Kalau sampai kamu tidak menikahi Alena, kamu akan berhadapan dengan saya."
"Hah?" Alvin.
"Abaaaaaang! Kami belum melakukan apa-apa, kami berdua hanya istirahat doang di sini. Gak ngelakuin apapun," rengek Alena merasa kesal.
"Belum? Berarti, 'akan?'"
"Ya, nggak 'lah, Alena tidak serendah itu sampai berani melakukan hal yang di luar batas. Saya juga bukan laki-laki mes*m yang tega melakukan hal yang tidak senonoh dengan wanita yang bukan istri saya," ujar Alvin melakukan pembelaan tentu saja.
"Hmm! Kalian benar-benar ya. Abang bangga sama kalian berdua, walau bagaimana pun saya benar-benar berharap kamu bisa menjaga Alena bukan hanya sebagai Dosen yang menjaga mahasiswinya, tapi sebagai suami yang menjaga istrinya suatu saat nanti."
Wajah Alena seketika memerah, dia memalingkan wajahnya hanya untuk menyembunyikan roda di kedua sisi wajahnya itu. Wanita itu nampak menahan senyuman di bibirnya, diam-diam dia pun mengaminkan ucapan sang kaka di dalam hatinya.
'Amin, Bang. Semoga harapan Abang benar-benar terkabul,' batin Alena.
"Amin, Zril. Semoga saja masalah Alena bisa cepat selesai agar saya bisa serius mendekati adik kamu yang cantik ini," jawab Alvin membuat wajah Alena semakin memerah saja kini.
"Panggil saya dengan sebutan Abang dong, saya 'kan calon kakak ipar kamu."
"Hahahaha!" Alvin seketika tertawa nyaring.
📞 "Halo."
Alena tiba-tiba saja mengangkat telpon membuat Fazril dan juga Alvin seketika menyudahi tawa mereka lalu menatap wajah Alena lekat.
📞 "Apa? Baik, Pak. Saya akan segera ke sana," ujar Alena, wajahnya seketika tersenyum senang.
"Siapa yang nelpon, Len?" tanya Alvin merasa penasaran.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...