Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Cinta


__ADS_3

Lani terdiam sejenak seraya menatap wajah pemuda bernama Rendi. Atas dasar apa laki-laki ini menanyakan hal seperti itu? Jantung seorang Lani tiba-tiba saja berdetak tidak beraturan. Gadis itu seketika merasa salah tingkah entah mengapa.


"Kenapa diam saja, Lan?" tanya Rendi membuyarkan lamunan panjang Lani.


"Hah? Eu ... aku gak apa-apa ko. Hmm! Bagaimana kabar Ayahmu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lani dengan sengaja merubah topik pembicaraan.


"Ayah baik-baik saja, beliau sudah beraktivitas seperti biasa. Apa kamu ingin ketemu sama beliau? Ayah pasti senang sekali bisa ketemu lagi sama kamu."


"Hmm! Akhir-akhir ini aku sibuk banget, Ren. Kapan-kapan deh, hehehe!"


"Ya udah gak apa-apa. O iya, pertanyaan saya tadi gak di jawab?"


"Pertanyaan yang mana?" Lani seketika menoleh dan menatap wajah Rendi dari arah samping.


"Yang masalah pacar itu. Kamu itu cantik, Lan. Masa iya belum punya pacar?"


Lani tersipu malu. Dirinya memang sudah sering mendengar pujian seperti ini dari banyak laki-laki di luaran sana, tapi entah mengapa rasanya berbeda ketika dia mendengarnya dari laki-laki ini. Hati seorang Lani merasa berbunga-bunga, diam-diam gadis itu menahan senyuman di bibirnya.


"Ko malah senyum-senyum kayak gitu?" tanya Rendi menatap lekat wajah Lani seraya tersenyum kecil.


"Siapa yang senyum-senyum?" tanya Lani seketika memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.


"Ya kamulah, siapa lagi? Di sini 'kan hanya ada kita berdua, saya dan kamu."


Lagi-lagi Lani mencoba untuk menahan senyuman. Sementara Rendi semakin lekat menatap wajah gadis itu. Jujur, sebenarnya sudah lama sekali dirinya ingin bertemu dengan gadis ini, tapi karena berbagai alasan dirinya terpaksa menahan keinginannya itu.

__ADS_1


"Jadi gimana?" tanya Rendi benar-benar merasa penasaran.


"Gimana apanya?"


"Astaga, Lani. Langsung ke intinya saja. Apa kamu sudah punya pacar?"


"Belum dan tidak pernah."


"Serius?"


"2 rius."


"Akh! Saya tidak percaya, kamu cantik lho, masa iya tidak pernah pacaran sekalipun? Mungkin pernah-lah yang namanya merasakan cinta monyet."


"Tidak pernah sama sekali. Jujur, aku tidak percaya dengan yang namanya cinta. Cinta itu bisa berubah kapan pun. Bahkan ketika mereka sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama," lirih Lani seketika menundukkan kepalanya.


"Karena aku pernah melihatnya dengan kedua mata aku sendiri. Kedua orang tuaku bercerai setelah mendiang Ayahku ketahuan berselingkuh, dan rasanya sakit sekali. Terutama aku dan adikku yang menjadi korban perceraian mereka. Waktu itu aku masih terlalu kecil dan masih belum paham dengan apa yang terjadi dengan mereka, tapi semakin aku dewasa aku semakin sadar, bahwa Ayah selingkuh karena perasaan cintanya sudah berubah kepada Ibuku," jelas Lani panjang lebar, pikirannya seketika melayang memikirkan masa lalu, dan rasa sakit itu kembali terasa begitu menyiksa.


"Jadi karena itu, saya turut prihatin atas apa yang menimpa ke dua orang tua kamu, Lan, tapi setiap manusia punya garis hidupnya masing-masing. Ke dua orang tua kamu berpisah karena takdir mereka memang seperti itu. Kamu tahu, jodoh manusia sudah di tentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Termasuk jodoh ke dua orang tua kamu, juga jodoh kamu. Saya yakin Tuhan telah menyiapkan jodoh untuk kamu," jelas Rendi.


"Ya, aku juga paham, Rendi. Namun, rasanya sulit sekali melupakan semua itu. Jujur, aku takut, selama ini aku tidak pernah terlalu dekat dengan laki-laki karena selalu dihantui dengan bayang-bayang masa lalu. Aku masih ingat betul kesakitan yang dirasakan oleh Mommy kala itu. Meskipun aku hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi aku punya mata dan telinga. Aku mendengarkan apa yang orang-orang dewasa itu bicarakan waktu itu, dan rasanya--" Lani menahan ucapannya. Kedua mata gadis itu seketika memerah tatkala mengingat betapa menderitanya sang Ibu kala itu.


"Lani, dengarkan saya. Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu sendiri belum pernah mencobanya? Cinta itu tidak semenyeramkan seperti apa yang bayangkan. Ya ... meskipun patah itu rasanya sakit, tapi orang-orang yang berada di dunia ini tidak akan pernah merasa kapok untuk yang namanya jatuh cinta. Sekarang saya mau tanya sama kamu. Apa Ibu kamu sudah menikah lagi?"


Lani menganggukkan kepalanya lalu kembali menoleh dan menatap wajah Rendi.

__ADS_1


"Nah 'kan? Ibu kamu aja gak kapok untuk jatuh cinta dan menikah lagi meskipun beliau sudah merasakan bagaimana sakitnya di khianati oleh cinta. Karena apa? Karena obat patah hati adalah dengan jatuh cinta lagi. Cobalah buka hati kamu, rasakan betapa indahnya yang namanya jatuh cinta. Kamu bisa memulainya dengan saya," celetuk Rendi membuat wajah Lani seketika memerah.


"Hah? Ma--maksud kamu?" Terbata-bata Lani merasa tidak mengerti, atau dia hanya berpura-pura tidak mengerti.


"Hahahaha! Saya hanya bercanda, Lani. Pesan saya untuk kamu, jangan larut dalam masa lalu yang menyakitkan karena itu hanya akan menahan langkah kamu ke depan. Jadikan masa lalu sebagai kenangan yang cukup di simpan tanpa perlu di ingat lagi. Masa depan kamu masih panjang, melangkahkan dengan penuh percaya diri, tatap ke depan karena di depan kamu ada saya."


"Hah? Hahahaha! Kamu bisa aja, Ren. Hmm ... walau bagaimana pum terima kasih karena telah mengatakan semua ini. Aku akan mencoba untuk melupakan masa lalu aku itu. Ayah kandungku sudah tenang di surga, dan Mommy sudah bahagia dengan suami barunya. Sementara aku, aku pun akan berusaha untuk membuka hatiku untuk laki-laki. Indahnya cinta yang kamu katakan tadi, aku akan mulai mencobanya."


"Dengan saya?"


Lani seketika terdiam seraya tersenyum kecil. Laki-laki ini pandai sekali membuat hatinya bergetar. Dia pun seketika merasa salah tingkah entah mengapa. Jantungnya pun terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Hati gadis yang tahun ini genap berusia 21 tahun itu merasa berbunga-bunga. Apakah dia sudah mulai merasakan yang namanya jatuh cinta? Entahlah, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang tahu.


"Cie-cie! Ehem!" tiba-tiba saja terdengar suara Lian berdehem seraya tersenyum cengengesan menghampiri mereka berdua.


"Apaan si, Dek? Gak jelas banget," decak Lani seketika berdiri tegak menghampiri sang adik.


"Ngobrolnya serius banget sih. Seneng deh ngeliat kakakku yang cantik ini pacaran. Saya sempat berfikir bahwa Kak Lani ini gak normal lho!" canda Lian dan seketika itu juga mendapatkan pukulan dari kakaknya.


Plak!


"Argh! Sakit, kak," ringis Lian mengusap bahunya.


"Kalau ngomong itu jangan sembarangan ya, enak aja. Kaka normal ko."


"Iya-iya, sekarang saya yakin kaka itu wanita normal, buktinya saya bisa melihat cinta dari mata kaka. Selamat ya, Kak Rendi, kaka telah berhasil menaklukkan hati Kak Lani. Hehehehe!"

__ADS_1


'Astaga, Lian apaan sih? Bisa malu kalau kayak gini,' batin Lani.


BERSAMBUNG


__ADS_2