Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Gebetan


__ADS_3

Ckiiit!


Mobil yang dikendarai oleh Lani berhenti tepat di depan halaman kediaman Fazril Om mereka. Lani segera turun dari dalam mobil begitupun dengan Lian dan juga Naila adik bungsu mereka. Ketiganya masuk ke dalam rumah dengan tersenyum sumringah.


"Akhirnya kalian datang juga," ucap Nuri yang memang sedang menunggu kedatangan mereka.


"Tante Nuri apa kabar?" tanya Lani menyalami sang Tante ramah dan sopan.


"Kabar Tante baik-baik saja. Kamu sendiri apa kabar, sayang? Makin cantik aja deh perasaan," jawab Nuri.


"Akh ... Tante bisa aja. Eu ... Om Fazril di mana, Tan?"


"Ada di belakang. Biasa lagi ngobrol sama supir pribadinya."


"Oke, aku ke belakang dulu, Tante," pamit Lani kemudian.


Sementara itu, sang Tante mulai menyapa keponakan lainnya yaitu, Lian dan Naila. Keduanya nampak mengalami Nuri secara bergantian, ramah dan sopan.


"Kalian apa kabar? Lama sekali baru berkunjung ke mari," tanya Nuri mengusap kepala Naila lembut.


"Kabarku baik, Tan. Eu ... Stela di mana Tante?" tanya Naila menatap sekeliling.


"Dia ada di kamarnya. Biasa anak itu lagi belajar, ajak main gih. Setiap hari kerjaannya belajar terus."


"Aku ke kamar Stela dulu kalau begitu."


Nuri menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah. Dia pun mengalihkan pandangan matanya kepada Lian juga tersenyum ramah kepadanya.


"Tante, saya ke belakang dulu ya. Saya juga mau ketemu sama Om Fazril, kebetulan ada yang ingin saya bicarakan sama beliau."


Nuri kembali menganggukkan kepalanya.


.


Lani berjalan menuju halaman belakang di mana Fazril sang Om berada di sana. Gadis itu nampak tersenyum tatkala melihat Fazril sedang duduk seraya mengobrol santai bersama seseorang. Gadis itu pun segera menghampiri dan berdiri tepat di sampingnya kini.


"Lani! Astaga, kapan kamu datang? Kamu sama siapa ke sini? Tumben anak perawan mau keluar rumah?" tanya Fazril sontak berdiri dan memeluk sekejap tubuh sang keponakan.


"Aku datang sama adik-adik aku, Om. Om apa kabar?"

__ADS_1


"Kabar Om baik-baik saja."


Keduanya pun kembali mengurai pelukan. Lani tersenyum ramah. Dia pun mengalihkan pandangan matanya menatap laki-laki yang juga ikut berdiri tidak jauh dari tempatnya berada saat ini. Keduanya nampak saling menatap satu sama lain dengan kening yang dikerutkan.


"Kamu?" ujar Lani menunjuk jari telunjuknya ke arah wajah laki-laki tersebut merasa terkejut.


"Kamu Lani? Lani yang waktu itu--" Laki-laki itu menahan ucapannya seraya tersenyum lebar terlihat sangat senang.


"Kalian saling kenal?" Tanya Fazril kemudian.


"Kenapa kamu bisa ada di sini, Rendi?" tanya Lani mengabaikan pertanyaan sang Om.


"Waaah! Dunia ini sempit juga ternyata. Senang sekali bisa bertemu dengan kamu, Lani," ujar Rendi mengulurkan telapak tangannya untuk berjabatan tangan.


"Benar juga, tapi ngomong-ngomong kamu sedang apa di sini? Dari mana kamu bisa kenal sama Om Fazril? Astaga!" Lani menerima jabatan tangan laki-laki itu seraya tersenyum ramah.


Fazril menatap ke dua orang itu secara bergantian. Laki-laki itu seketika merasa heran. Dari mana keduanya bisa saling kenal. Rendi adalah supir pribadinya yang baru bekerja selama 2 minggu dengannya.


"Sudah sapa-sapaanya?" tanya Fazril.


"Eu ... Iya, Pak. Maaf, saya tidak menyangka bahwa ternyata Lani ini adalah keponakannya Bapak," jawab Rendi menyudahi jabatan tangannya bersama gadis bernama Lani.


"Maaf, Om. Aku tak nyangka karena bisa ketemu sama dia sini, hehehe!" Lani tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.


"Sekarang jawab pertanyaan saya, dari mana kalian bisa saling kenal?"


"Om Fazril!"


Belum sempat Lani menjawab pertanyaan Om-nya, Lian tiba-tiba saja datang menghampiri mengalihkan pandangan mata mereka juga mengalihkan pembicaraan.


"Lian? Kamu ada di sini juga? Apa kabar keponakannya Om yang paling ganteng?" tanya Fazril merentangkan ke dua tangannya lalu memeluk sekejap tubuh keponakannya itu.


"Kabar saya baik, Om. O iya, saya sengaja datang ke mari karena ada yang ingin saya bicarakan sama Om. Biasa masalah lowongan pekerjaan di kantor Om itu."


"Hmm! Masalah itu, kita bicara di ruangan kerja Om kalau begitu. Eu ... Kalian lanjutkan temu kangennya. Saya masuk dulu," pamit Fazril.


"Temu kangen? Kaka kenal sama laki-laki ini?" tanya Lian tersenyum menertawakan.


"Apaan sih, Dek? O iya, Ren. Dia adikku, namanya Lian," ujar Lani mengenalkan.

__ADS_1


"Kak Rendi pacarnya Kaka?"


"Lian? Jangan ngaco deh!" decak Lani dengan wajah memerah merasa malu.


"Kenalkan, nama saya Rendi. Kami tidak pacaran ko, tapi entahlah untuk kedepannya," jawab Rendi mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


Mereka berdua pun saling berjabatan tangan. Lian nampak tersenyum cengengesan seraya menatap wajah sang Kaka dengan perasaan senang entah mengapa.


"Cie-cie, katanya gak mau pacaran, tapi punya gebetan," ledek Lian membuat sang Kaka semakin merasa malu.


"Lian! Astaga, anak ini benar-benar ya!"


"Sudah-sudah! Kalian ini. Lian ikut sama Om ke ruangan kerja Om, jangan godain Kaka kamu terus. Kasihan dia," ujar Fazril.


"Siap, Om. Ehem ... Cie-cie Kaka!" Lian kembali menggoda sang Kaka seraya berjalan mengikuti Fazril.


Wajah Lani benar-benar memerah. Dia berdiri canggung tidak tahu harus berkata apa lagi. Jantungnya berdetak kencang entah mengapa.


"Eu ... Ucapan adikku gak usah di ambil hati, dia memang jail," ujar Lani seraya tersenyum cengengesan.


"Gak apa-apa, santai aja."


Suasana pun kembali hening. Baik Rendi maupun Lani sama-sama merasa canggung satu sama lain. Keduanya menatap ke arah lain seraya menahan senyuman di bibir masing-masing.


"Lani."


"Rendi."


Keduanya secara bersamaan.


"Kamu duluan," ujar Lani.


"Tidak kamu duluan saja."


"Tidak, kamu saja. Aku lupa mau bilang apa tadi. Hehehe!" Lani seketika tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepala yang tiba-tiba saja terasa gatal entah mengapa.


"Baiklah kalau begitu. Eu ... Lan, apa kamu beneran belum punya pacar? Gadis secantik dan sebaik kamu masa tidak punya pacar?"


"Hah?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2