
Alena tertegun. Dia menatap lekat wajah putrinya dengan tatapan mata sayu. Sepertinya Lani mulai merindukan Lian sang adik membuat hatinya merasa terhenyak. Sebagai seorang ibu dirinya tentu saja merasakan hal yang sama seperti Lani, bahkan dadanya terasa akan meledak karena memendam rindu yang terasa begitu menggebu.
"Lani sayang, sini di gendong sama Daddy," ucap Alvin seketika meraih tubuh sang putri lalu menggendongnya kemudian.
"Dad, aku ingin ketemu sama Dede Lian," rengek Lani menatap lekat wajah sang ayah sambung.
"Sayang, dengarkan Daddy sebentar ya. Daddy tahu kamu kangen banget sama Dede Lian. Daddy juga sama, apalagi Mommy, tapi Dede tidak ada di sini, sayang. Dede ada di suatu tempat dan dia baik-baik saja," lirih Alvin mencoba untuk menenangkan.
"Tapi aku ingin ketemu sama Dede."
"Iya, sayang. Daddy mengerti, Daddy yakin kamu pasti akan ketemu sama Dede suatu saat nanti."
"Kapan, Dad? Kapan aku bisa ketemu sama Dede? Aku kangen banget sama dia, hiks hiks hiks!" Tangis Lani kembali terdengar lirih.
Alvin memeluk erat tubuh Lani kini, dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Dirinya benar-benar bingung. Hanya pelukan hangat yang bisa dia persembahkan, semoga pelukan ini bisa meredakan kerinduannya kepada sang adik.
"Dari pagi Lani nangis terus, makannya saya antarkan kemari," ujar Fazril yang saat ini berdiri tepat di depan Alena bersama Nuri tentu saja.
"Pantas saja perasaan aku gak enak terus dari semalam. Ternyata Lani memang sedang rewel," jawab Alena mengusap punggung sang putri lembut dan penuh kasih sayang.
"Sebaiknya kita ke Vila. Kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh," pinta Alvin dan segera di jawab dengan anggukan oleh semua yang ada di sana.
.
Sesampainya di Vila.
Lani tertidur di dalam gendongan Alvin selama perjalanan menuju Vila. Bahkan sampai mereka tiba pun Lani masih tertidur dengan begitu lelapnya. Laki-laki itu segera menidurkan sang putri di dalam kamar.
"Kasihan Lani, Mas. Dia pasti sangat merindukan adiknya," lirih Alena duduk tepat di tepi ranjang seraya mengusap kepala sang putri lembut dan penuh kasih sayang.
"Kamu juga pasti sangat merindukan Lian."
Alena diam seraya menundukkan kepalanya. Jika di tanya apakah dirinya merindukan sang putra? tentu saja dia sangat-sangat merindukan Lian. Rasa rindunya terasa begitu menyiksa, hanya saja dia pernah mengatakan apapun karena tidak ada gunanya mengatakan hal itu dia rasa. Dirinya cukup memendamnya di dalam sana seraya berdoa. Semoga saja dia di pertemuan kembali dengan sang putra.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" tanya Alvin seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Alena.
"Aku baik-baik saja, Mas," jawab Alena seketika mengusap wajahnya kasar.
"Saya berharap kita bisa bertemu lagi dengan Lian suatu saat. Kamu yang sabar ya, saya yakin Lian baik-baik saja."
Alena menganggukkan kepalanya lalu meringkuk tepat di samping sang putri.
.
Sementara itu. Nuri nampak sedang berjalan di dalam Vila mencari keberadaan Fazril sang kekasih bercinta. Dia celingak-celinguk menyisir setiap sudut ruangan itu. Nuri mengerutkan kening, dia merasa bingung kemana kekasihnya itu menghilang? Padahal mereka baru saja sampai.
"Mas Fazril kemana sih?" gumam Nuri membuka sebuah pintu. Dia tidak tahu jika pintu itu adalah pintu yang menghubungkan ruangan yang tersebut dengan area kolam renang.
Ceklek!
Pintu berukuran besar itu pun di buka lebar. Nuri menatap sekeliling dengan kedua mata yang berbinar juga mulut yang di buka lebar. Dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa Vila itu berada di atas ketinggian, dan kolam renang yang berada di hadapannya ini seolah menjadi pembatas anatara Vila dan pemandangan indah di bawah sana.
"Ya Tuhan, tempat ini indah sekali," gumam Nuri mulai melangkahkan kaki ke area kolam renang, bibir gadis itu nampak tersenyum lebar merasa takjub.
Fazril tiba-tiba saja menyembur keluar dari dalam air membuat Nuri merasa terkejut. Dia sama sekali tidak mengetahui bahwa kekasihnya itu sedang menyelam di bawah kolam. Laki-laki itu nampak bertelanjang dada, memperlihatkan dada bidangnya juga perut kotak-kotak bak roti sobek.
"Mas Fazril? Di sini kamu rupanya. Pantas aku cari kemana-mana ndak ada," decak Nuri berjalan semakin mendekati area kolam.
"Kamu nyariin saya? Baru gak ketemu selama beberapa menit udah nyariin aja," jawab Fazril berjalan menuju tepi kolam.
"Ish, aku nyariin kamu karena aku ndak tahu mau ngapain sekarang."
"Mau berenang sama saya?"
"Hah? Nggak, aku ndak mau."
"Ayolah, temani saya berenang. Kamu gak tahu betapa indahnya pemandangan di bawah sana."
__ADS_1
"O ya? Eu ... Tapi ndak akh, aku ndak bisa berenang."
"Saya akan mengajari kamu berenang."
Nuri nampak menatap jernihnya air kolam. Jujur, sebenarnya dia ingin sekali memasukkan tubuhnya ke dalam sana. Apalagi disuguhkan dengan pemandangan indah di depannya. Nuri mengigit bibir bawahnya keras, perlahan dia pun mulai mendekati area kolam hingga kedua kakinya pun mulai terendam air.
"Kenapa gak ganti pakaian dulu?" tanya Fazril mengulurkan tangannya dan segera di raih oleh Nuri.
"Ganti baju pakai apa?"
"Pakai baju renang 'lah."
"Ish, maunya Mas itu si."
"Hahahaha! Tahu aja," jawab Fazril tertawa nyaring.
Keduanya pun berjalan menuju tepian di mana pemandangan indah tersaji di bawah sana. Dinginnya air kolam mulai menembus pakaian yang saat ini dikenakan olah Nuri. Terasa menusuk, tapi juga begitu menyegarkan. Dia menggegam erat telapak tangan kekasihnya. Sampai akhirnya mereka pun tiba tepat di tepi kolam. Fazril memeluk tubuh Nuri dari arah belakang.
"Gimana, indah bukan?" tanya Fazril tersenyum kecil.
"Indah sekali, Mas. Aku ndak menyangka bisa melihat pemandangan seindah ini. Semuanya masih seperti mimpi buat aku," jawab Nuri menatap indahnya pemandangan di bawah sana.
"Apa ini pertama kalinya kamu melihat pemandangan seindah ini?"
Nuri menganggukkan kepalanya lalu menoleh ke arah samping di mana wajah Fazril berada sangat dekat dengannya kini.
"Saya akan membawa kamu lagi ke sini ketika kita berbulan madu kelak."
Nuri kembali menganggukkan kepalanya, bibirnya pun nampak tersenyum begitu manisnya. Tatapan mata mereka benar-benar saling bertemu, sampai akhirnya satu kecupan pun mendarat singkat di bibir Nuri.
Cup!
"Kalian? Astaga!" Tiba-tiba terdengar suara Alena, terdengar menggelegar juga mengejutkan mereka berdua.
__ADS_1
BERSAMBUNG