Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Merasa Kecil Hati


__ADS_3

Nuri menuruni satu-persatu anak tangga usai mendatangi kamar sang majikan yang merupakan kekasihnya sendiri. Dia pun sampai di ujung tangga dan hendak berbalik menuju dapur. Namun, gadis itu seketika menghentikan langkah kakinya ketika Nyonya besarnya memanggil dengan nada suara lantang.


"Nuri!" teriak Nyonya Inggrid dari ruang tamu.


"I-iya, Nyonya," jawab Nuri berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di depan mereka berdua.


"Gimana, Fazril udah bangun?"


"Sudah, Nyonya. Den Fazril sudah bangun, sebentar lagi juga turun."


April menatap dari ujung kaki hinga ujung rambut gadis bernama Nuri tersebut. Siapa gadis ini sebenarnya, hingga dia bisa dengan bebas masuk ke dalam kamar Fazril? Jelas sekali terlihat dari tatapan mata April bahwa dia dapat menangkap sesuatu yang aneh dari gelagat sang asisten rumah tangga.


"Dia siapa, Tante?" tanya April mengerutkan kening.


"Dia asisten rumah tangga di sini."


"Maksudnya pembantu?"


"Seperti itulah kira-kira."


"Hmm! Begitu rupanya," jawab April menaikan ujung bibirnya.

__ADS_1


"Eu ... Saya permisi, Nyonya," pamit Nuri merasa tidak nyaman dengan tatapan mata wanita bernama April.


"O iya, dia ini adalah calon istrinya Fazril. Namanya Aprilia," ucap Nyonya Inggrid mengenalkan, dan hanya ditanggapi dengan anggukan kecil oleh Nuri.


Jujur, Nuri merasa tidak percaya diri jika harus bersaing dengan wanita sekelas Aprilia. Di lihat dari segi manapun, dirinya kalah jauh dari wanita ini. Wajah April terlihat cantik lengkap dengan polesan make up tebal. Pakaiannya pun terlihat berkelas lengkap dengan tas branded yang berada di pangkuan wanita itu. Nuri merasa kecil berhadapan dengan wanita ini.


"Kamu boleh kembali ke belakang," pinta Nyonya Inggrid kemudian.


"Baik, Nyonya. Saya permisi," jawab Nuri benar-benar berbalik lalu berjalan menuju belakang di mana segudang pekerjaan rumah tangga sedang menunggunya saat ini.


Di saat bersamaan, Fazril nampak sedang berjalan di tangga hendak turun ke lantai satu. Dia menatap wajah Nuri yang saat ini melintas tepat di depannya. Laki-laki itu nampak tersenyum dan berharap bahwa kekasihnya itu akan menoleh ke arahnya. Namun, harapannya sia-sia ternyata, Nuri menatap lurus ke depan jangankan menoleh melirik pun tidak, membuat Fazril merasa kecewa sebenarnya.


Sialnya, April menyaksikan pemandangan itu, dia bisa melihat cinta dari tatapan mata laki-laki itu. Tatapan yang pernah di tunjukan kepadanya kala itu. Jujur, ada rasa kecewa yang saat ini terselip di dalam lubuk hati seorang Aprilia. Diam-diam dia mengepalkan kedua tangannya. Dirinya merasa tidak terima jika harus kalah saing dari gadis yang hanya berstatus sebagai asisten rumah tangga.


"Gak apa-apa, Tante. Fazril masih tetep tampan ko meskipun memakai pakaian seperti itu," timpal April tersenyum ramah.


"Calon istri? Siapa? Dia?" jawab Fazril berjalan menghampiri seraya tersenyum sinis menatap wajah April.


"Apa maksud kamu, Nak? Jangan seperti akh, ibu tidak suka. Ibu mendidik kamu dengan baik selama ini, ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap kurang sopan seperti ini."


"Ibu tidak tahu siapa dia sebenarnya."

__ADS_1


Nyonya Inggrid seketika mengerutkan kening. Sementara April menundukkan kepalanya menahan rasa geram. Dia semakin merekatkan kepalan tangannya kini.


"Jelaskan sama ibu, apa maksud kamu mengatakan hal seperti itu?" tanya Nyonya Inggrid semakin merasa penasaran.


"Tante, ada yang ingin aku katakan sama Tante," sela April belum sempat Fazril mengatakan apa yang ingin dia ucapkan.


"Kamu mau mengatakan apa, Nak. Katakan saja jangan sungkan, Tante 'kan calon ibu mertua kamu."


"Setiap manusia memiliki masa lalu. Setiap manusia juga pernah melakukan sebuah kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini termasuk aku, Tan. Aku harap Tante bisa memaafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu."


"Aku benar-benar menyesal, cinta itu datang tanpa di undang sampai akhirnya pergi dan membuatku tersadar bahwa aku telah melabuhkan cinta kepada laki-laki yang salah dan aku menyesal, sungguh," ucap April panjang lebar membuat Nyonya Inggrid semakin merasa tidak mengerti dengan situasi yang ada saat ini, terutama dengan apa yang baru saja diucapkan oleh calon menantunya.


"Alah! Jangan terlalu berbelit-belit, langsung saja kepada intinya. Jangan menjadikan maaf sebagai senjata dan jangan menjadikan kata khilaf sebagai pembelaan, April," tegas Fazril penuh penekanan.


"Tunggu! Ibu benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan. Katakan, ada apa ini? Kenapa April meminta maaf sama ibu? Kesalahan apa yang telah dilakukan oleh dia?" tanya Ibu mematap tajam wajah sang putra.


"Ibu ingin tahu dia ini siapa? Wanita ini, wanita ini--" Fazril menahan ucapannya. Bola matanya memerah, jari telunjuknya dia arahkan tepat lurus ke depan dimana wajah April terlihat pucat pasi saat ini.


"Dia adalah wanita yang telah merusak rumah tangga Alena. Wanita ini adalah mantan selingkuhan si brengsek Alviano, wanita yang telah membuat adik kesayangan saya menumpahkan banyak air mata gara-gara perbuatan dia. Dia--" Lagi-lagi Fazril menahan ucapannya. Dadanya terasa sesak, mengingat penderitaan yang telah dilewati oleh Alena.


"Jadi-- Jadi kamu--" Sang ibu terbata-bata tidak kuasa menahan rasa keterkejutannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2