
"Tunggu, Pak. Anda pasti salah, saya memang memukul laki-laki itu, tapi tidak terlalu parah sampai harus di bawa ke kantor polisi segala. Ini hanya perkelahian biasa, perkelahian 2 laki-laki yang memperebutkan satu wanita," ujar Alviano melakukan pembelaan.
"Silahkan Anda berikan keterangan di kantor polisi," jawab petugas Polisi tersebut, kedua tangan Alviano pun mulai di pasangkan borgor agar laki-laki itu tidak melarikan diri.
"Tunggu, Pak. Apa yang kalian lakukan. Ini hanya fitnah, saya tidak salah di sini, Pak."
"Anda bisa memberikan keterangan di kantor."
"Tapi, Pak--"
"Tunggu! Putra saya mau di bawa ke mana?" tanya ibu yang baru saja keluar dari dalam kamar setelah mendengar suara keributan.
"Putra ibu melakukan tindakan penganiayaan."
"Tidak mungkin, Pak. Putra saya anak yang baik, mana mungkin dia melakukan tindakan penganiayaan ujar sang ibu merasa tidak terima.
Kedua orang polisi itu sama sekali tidak mengindahkan ucapan Alviano maupun ibunya. Mereka membawa Alviano meskipun laki-laki mencoba untuk berontak. Sampai akhirnya dia pun pasrah dengan perasaan kesal. Rasa dendam dan benci itu semakin menjadi-jadi kini. Dia bertekad akan menuntut balas atas semua ini. Alviano benar-benar telah berubah menjadi monster yang mengerikan.
'Brengsek kamu, Alvin. Lihat saja, aku akan menghabisi kamu nanti,' batin Alviano penuh rasa dendam.
* * *
Alena dan juga Alvin kembali ke hotel setelah mendatangi kantor polisi. Mereka akan menunggu kabar dari pihak berwajib, selain itu keduanya pun tidak tahu harus mencari Lani ke mana lagi. Semua tempat sudah mereka datangi, mereka pun sudah menyusuri jalanan semalaman tiada henti.
Sudah saatnya bagi keduanya untuk menyerahkan urusan ini kepada pihak berwajib. Semoga saja mereka segera menemukan sang putri.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" tanya Alvin, menghampiri Alena yang saat ini sedang berdiri di balkon kamar hotel mereka.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja, Mas. Bagaimana aku bisa baik-baik saja di saat aku masih belum menemukan Lani? Di mana, bagaimana dan seperti apa dia saat ini aku benar-benar merasa khawatir, Mas," jawab Alena, tatapan matanya menatap lurus ke depan melayangkan tatapan kosong.
Alvin seketika memeluk tubuh Alena, bak sebuah magnet Alena balas memeluk tubuh laki-laki itu erat. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvin. Wanita itu benar-benar sedang membutuhkan sandaran yang akan memberinya kekuatan.
"Saya yakin Lani baik-baik saja di suatu tempat. Saya yakin itu, polisi juga akan segera menemukan dia secepatnya," ujar Alvin mengusap punggung Alena lembut menenangkan.
Alena hanya menganggukkan kepalanya samar.
"Eu ... Saya melupakan sesuatu, sebentar." Alvin tiba-tiba saja mengurai pelukan, dia masuk ke dalam kamar hotel dan mengambil sebuah bungkusan. Laki-laki itu pun kembali keluar lalu menyerahkan bungkusan tersebut.
"Saya membelikan kamu beberapa stel pakaian. Semoga saja cocok untuk kamu, saya hanya menebak-nebak ukuran pakaian yang biasa kamu kenakan," ujar Alvin kemudian.
"Hah? Kapan Mas membeli ini?" tanya Alena tersenyum senang.
"Hmm! Makasih banget, Mas. Aku memang udah gak nyaman banget pakai baju ini, 2 hari lho aku gak ganti pakaian."
"3 hari, bukan 2 hari."
"O ya? Hahahaha! Ko kamu bisa ingat, aku aja lupa berapa hari gak ganti pakaian. Eu ... Aku ganti baju dulu kalau begitu," ujar Alena hendak pergi.
"Tunggu, Len."
Alena sontak menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Ya?"
"Ada pakaian dalamnya juga di sana. Eu ... Semoga ukurannya pas."
"Hah? Astaga, Mas Alvin. Walau bagaimana pun terima kasih banyak."
Alvin hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Sementara itu, Alena masuk ke dalam kamar hotel lalu segera menuju kamar mandi. Dia melucuti pakaiannya satu-persatu hingga tidak lagi bersisa kini.
Alena meraih satu stel pakaian dalam, dia pun merentangkan penutup tebal berwarna hitam tepat di depan wajahnya. Ukuran benda bulat itu pun nampak sesuai dengan dadanya, wanita itu mengerutkan kening. Dari mana Alvin tahu ukuran dadanya? Apakah laki-laki itu hanya menebak? Atau, dia memang memiliki pengalaman lebih tentang hal ini? Maksudnya dia tahu ukuran-ukuran dada seorang wanita? Batin seorang Alena seketika penuh tanda tanya.
Wanita itu pun mulai memakai pakaian tersebut. Dress pendek selutut berwarna merah marun pun membalut tubuh langsingnya, dress tersebut pun begitu pas dia rasa. Tidak kekecilan maupun kebesaran.
"Hmm! Semuanya pas, ko bisa?" gumam Alena menatap tubuhnya sendiri.
Tidak ingin terlalu larut dalam pikiran yang penuh tanda tanya, Alena pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar mandi. Dia berjalan menghampiri Alvin yang saat ini masih berada di tempat yang sama.
"Mas, kenapa ukurannya bisa pas begini?" tanya Alena berjalan menghampiri.
"Wah, kamu cantik sekali, Lena. Pakaiannya juga pas banget di tubuh kamu," jawab Alvin menoleh dan menatap wajah Alena dengan tatapan mata berbinar.
"Itu dia. Ko bisa pas begini? Pakaian dalam aku juga pas lho. Dari mana kamu bisa tahu kalau ukuran dada aku 34?" tanya Alena membuat wajah Alvin seketika memerah. Dia pun menatap bagian dada Alena dengan perasaan yang berdebar dan jantung yang berdetak kencang.
'Jadi tebakan saya benar? Saya bahkan tidak tahu seberapa besar ukuran dada 34 itu? Tahan, Vin. Tahan, jangan membayangkan hal yang bukan-bukan,' batin Alvin menelan ludahnya kasar.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...