Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Hilang


__ADS_3

"Lani!" Alvin berteriak memanggil nama putrinya seraya berlari ke sana ke mari di area kediaman sang ibu.


Akan tetapi, sang putri tidak ada di mana pun di tempat itu. Alvin merasa khawatir tentu saja, dia takut bahwa Lani benar-benar kabur seperti yang di katakan oleh ibundanya. Namun, kekhawatirannya seketika lenyap saat dia mengingat bahwa Alena pun berada di kota itu sekarang.


"Alena! Dia pasti telah membawa Lani diam-diam. Sial, kenapa saya bisa kecolongan seperti ini," umpatnya merasa kesal.


Laki-laki itu mengira bahwa Alena masih berada di kota itu, tapi pada kenyatannya Alena sudah kembali ke kota bahkan sudah sampai di sana. Lalu, ke mana perginya Lani?


Alvin berjalan masuk ke dalam rumah, dia meraih ponsel lalu melakukan sambungan telepon dengan mantan istrinya.


Tut! Tut! Tut!


Suara telepon yang belum di angkat. Sepertinya Alena memang sengaja tidak mengangkat telpon darinya, membuat Alvin semakin merasa kesal saja kini. Dia melemparkan sembarang ponsel miliknya di atas kuris. Laki-laki itu duduk seraya mengusap wajahnya kasar.


"Gimana, apa kamu sudah menemukan Lani?" tanya ibu duduk di samping Alvin.


"Tidak, saya tidak menemukan dia, bu. Sepertinya Alena telah membawa dia diam-diam tanpa sepengatahuan saya."


"Tidak mungkin, ibu sama sekali tidak melihat Alena ke sini, jika dia diam-diam membawa anak kamu, maka ibu pasti tahu. Ibu hanya meninggalkan Lani sebentar, gak mungkin Alena luput dari pandangan ibu jika dia memang datang ke mari?"


Alvin seketika mengerutkan kening. Perasaannya kembali merasa khawatir. Apa Lani benar-benar kabur? Lalu ke mana dia pergi? Alvin lagi-lagi mengusap wajahnya kasar seraya memejamkan kedua matanya kini.


"Sebaiknya kamu segera mencari Lani sebelum dia semakin jauh, semoga saja dia masih berada di daerah sini," pinta ibu yang juga merasa khawatir akan keselamatan cucu kesayangannya itu.


"Baik, bu. Saya akan mencari dia sekarang juga." Alvin bangkit dan berdiri lalu keluar dari dalam rumah tersebut.

__ADS_1


'Maafkan Daddy, Lani. Semoga kamu belum pergi terlalu jauh. Daddy lebih berharap kamu benar-benar di bawa sama Mommy kamu, setidaknya Daddy yakin bahwa kamu baik-baik saja,' batin Alvin semakin merasa khawatir.


* * *


Di Rumah Sakit.


"Kenapa telponnya gak di angkat, Lena? Siapa tahu penting," tanya ibu duduk di bersama Alena di dalam ruangan di mana Lian di rawat saat ini.


"Aku malas angkat, bu. Mas Vian yang nelpon," jawab Alena mengusap punggung Lian yang saat ini berada di dalam pangkuannya.


"Justru itu, siapa tahu penting. Perasaan ibu gak enak, ibu takut Lani kenapa-napa."


Alena meraih ponsel miliknya lalu menatap layarnya lekat. Entah mengapa dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Bayangan saat Lani menangis histeris semalam seolah memenuhi otaknya kini, membuat perasaan seorang Alena merasa resah tatkala mengingat hal itu.


"Aku telpon balik kalau begitu, semoga saja Lani baik-baik saja," ucap Alena menekan tombol dial melakukan sambungan telpon.


Tut! Tut! Tut!


📞 "Halo, Mas," sapa Alena sesaat setelah mantan suaminya mengangkat telpon.


📞 "Iya halo, Len. Eu ... Apa Lani sedang bersama kamu?"


📞 "Lani? Bukannya semalam kamu tidak mengizinkan aku untuk membawa dia? Kenapa sekarang tiba-tiba saja kamu menanyakan Lani kepadaku? Dia baik-baik saja 'kan? Lani ada bersama kamu 'kan, Mas?" tanya Alena tubuhnya seketika merasa gemetar.


Dia pun meminta sang ibu untuk menggendong Lian yang saat ini berada di dalam pangkuannya. Alena berjalan keluar dari dalam ruangan lalu melanjutkan pembicaraan.

__ADS_1


📞 "Kamu tidak bohong 'kan, Len? Lani ada bersama kamu 'kan?"


📞 "Apa maksud kamu, Mas? Jadi, putriku tidak ada di sana? Ke mana dia Mas? Jawab aku!" Alena seketika berteriak histeris penuh emosi, kedua kakinya semakin terasa gemetar.


📞 "Maafkan saya, Lena."


📞 "Lani ke mana Mas Vian? Katakan, putriku ada di mana sekarang?!"


📞 "Lani hilang, Len. Dia tidak ada di rumah, saya kira dia di jemput sama kamu."


Bruk!


Tubuh Alena seketika ambruk. Ponsel yang semula dia letakan di telinganya pun seketika terjatuh di atas lantai. Wanita itu menatap lurus ke depan melayangkan tatapan kosong. Jiwanya seolah melayang saat mendengar kabar bahwa putri kesayangannya ternyata menghilang.


"Astaga, Alena. Kamu kenapa?" tanya Alvin yang kebetulan baru saja datang dengan membawa beberapa bungkusan.


Laki-laki itu segera berlari menghampiri dan berjongkok tepat di depan Alena kini. Kedua telapak tangannya dia letakan di kedua sisi wajah Alena seraya menatap wajahnya lekat merasa khawatir.


"Lena, Alena sayang. Kamu kenapa? Ada apa? Kenapa kamu duduk di sini?" tanya Alvin kemudian.


Alena diam membisu. Dia bahkan tidak membalas tatapan mata Alvin, kedua matanya tetap saja melayangkan tatapan kosong. Jiwa seorang Alena seolah sedang tidak berada di tempatnya.


"Alena! Sadar, Len. Kamu kenapa? Ya Tuhan!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2