
Alena benar-benar merasa lega, satu masalahnya selesai di atasi. Meskipun ada masalah lain yang saat ini masih belum terselesaikan, putrinya masih belum diketemukan sampai saat ini. Hati Alena masih berduka karena hal itu, tapi dirinya akan mencoba untuk kuat dalam menghadapi semua ini karena dia tidak sendirian, ada sang kaka dan juga laki-laki bernama Alvin yang dengan setia selalu menemani dan membantunya bahkan tanpa dia minta.
"Kita pulang sekarang," ujar Fazril setelah Alviano benar-benar di jebloskan ke dalam sel.
"Tunggu, Bang. Aku masih mau menanyakan tentang laporan anak hilang," jawab Alena menatap wajah sang kaka sejenak lalu mengalihkan pandangannya kepada petugas polisi.
"Eu ... Pak, bagaimana dengan laporan anak hilang yang saya laporkan tadi pagi? Apa sudah ada perkembangannya?" tanya Alena kemudian.
"Masih belum, Mbak. Kami sedang berusaha untuk mencari, kami juga memasang iklan di media sosial resmi kepolisian. Jika kami sudah mendapatkan kabar, kami akan segera menghubungi Anda," jawab sang polisi membuat Alena merasa sedikit kecewa tentu saja.
"Hmm ... Baiklah, saya mohon tolong bantu saya dalam menemukan putri saya, Pak. "
"Pasti, Mbak. Kami akan melakukan yang terbaik agar putri Mbak bisa segera diketemukan."
Fazril mengusap punggung Alena sang adik. Dia pun merasa sedih karena keponakannya masih belum di ketahui keberadaanya. Dia sangat menyayangi gadis itu, kehilangan Lani adalah duka terbesar di dalam hidup seorang Fazril saat ini.
"Kamu yang sabar ya, Abang yakin Lani akan segera ketemu. Kita serahkan urusan ini kepada pihak berwajib, Abang yakin mereka akan menemukan Lani secepatnya," lembut Fazril mencoba untuk memberikan dukungan moril.
"Betul sekali, Lena. Saya juga yakin Lani pasti baik-baik saja di suatu tempat. Lebih baik sekarang kita kembali ke hotel, sepertinya kamu kelelahan, kamu butuh istirahat," ucap Alvin yang duduk tepat di sampingnya kini.
Alena menganggukkan kepalanya menatap wajah sang kaka juga Alvin secara bergantian. Dia pun tersenyum kecil, dirinya akan berusaha untuk percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh kedua laki-laki ini bahwa, Lani akan segera diketemukan dan dia baik-baik saja di suatu tempat.
__ADS_1
Ketiganya pun keluar dari dalam kantor polisi dan akan kembali ke hotel di mana mereka tinggal saat ini. Fazril mengendarai mobilnya sendiri, sedangkan Alena menaiki mobil milik Alvin.
* * *
Di perjalanan.
Alena tidak mengatakan sepatah katapun. Hal yang sama pun dilakukan oleh Alvin, dia menatap lurus ke depan fokus dalam menyetir mobil. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Alena, dia ingin sekali kembali ke kota sebenarnya, walau bagaimana pun dirinya memikirkan kesehatan si bungsu yang saat ini masih di rawat di Rumah Sakit. Namun, dirinya tidak kuasa untuk meninggalkan kota kecil itu jika Lani masih belum dia ketahui keberadaanya. Apalagi jarak dari kota kecil ke kota di mana Rumah Sakit itu berada lumayan jauh, butuh waktu 6 jam perjalanan untuk tiba di sana.
Sementara Alvin, ada hal lain yang menganggu pikirannya saat ini. Sebenarnya ada hal yang belum dia ceritakan kepada Alena prihal ibu kandungnya yang sebenarnya tinggal di kota yang sama. Dirinya terlalu fokus dalam menghadapi masalah wanita itu sampai-sampai dia melupakan fakta bahwa sang ibu berada dekat dekat dengannya saat ini.
"Eu ... Len, saya lupa mengatakan sesuatu sama kamu," ujar Alvin memecah keheningan.
"Sebenarnya, ibu kandung saya tinggal di daerah sini juga."
"Hah? Kenapa Mas Alvin baru bilang sekarang? Astaga!" Alena membulatkan bola matanya merasa terkejut tentu saja.
"Saya ingin fokus dalam pencarian Lani, makannya saya tidak mengatakan apapun sama kamu."
"Apa Mas Alvin tidak ingin ketemu sama beliau? Kapan terakhir kali Mas ketemu sama ibu Mas itu?"
__ADS_1
"Sudah lama sekali saya tidak bertemu sama ibu. Terakhir saya ke sini saat saya lulus SMA, setelah itu saya tidak pernah kembali ke sini karena saya harus berkuliah di luar negeri waktu itu. Saya memang putra yang jahat," lemah Alvin, raut kesedihan terlihat jelas dari wajahnya kini.
"Ya sudah, mumpung kita sedang ada di sini bagaimana kalau kita kunjungi rumah ibu kamu. Sekalian aku juga ingin berkenalan sama beliau."
Alvin nampak terdiam. Dia merindukan sang ibu sebenarnya, sangat rindu hingga perasaanya terasa akan meledak. Namun, lama tidak bertemu membuat rasa canggung itu begitu terasa di hatinya. Apakah sang ibu masih menerima kehadirannya setelah dia melupakan dan terlalu fokus dalam menjalani hidupnya sendiri?
"Kenapa Mas Alvin diam saja? Apa Mas tidak merindukan ibu?" Tanya Alena seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Alvin.
"Saya rindu ibu, Len, tapi saya malu untuk ketemu sama beliau."
"Kenapa harus malu? Ibunya Mas pasti akan merasa sangat senang karena putranya akhirnya pulang setelah sekian lama."
"Beliau pasti marah sama saya."
"Mas, seorang ibu tidak akan pernah marah kepada anaknya hanya karena dia tidak pulang dalam waktu yang lama. Justru sebaliknya, ibunya Mas pasti menunggu kepulangannya Mas. Beliau juga pasti merindukan Mas."
Alvin tersenyum kecil, dia pun menoleh dan menatap wajah Alena. Benar apa yang di katakan oleh wanita ini, ibu tidak mungkin marah kepadanya, ibu pasti sedang menunggu kepulangannya.
"Ya sudah, kita ke sana sekarang. Sekalian saya akan mengenalkan calon menantu kepada beliau." Alvin seketika menginjak pedal gas.
(Jangan lupa like ya Reader)
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...