Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Rindu Daddy


__ADS_3

Fazril masuk ke dalam kamarnya. Dia pun menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang berbaring terlentang menatap langit-langit kamar. Jujur, kegagalan adiknya dalam membina rumah tangga membuatnya berpikir 2 kali untuk memulai sebuah pernikahan.


Dia ingin lebih memantapkan hati, mencari wanita yang benar-benar mampu menggetarkan jiwanya, agar dia tidak tergoda oleh wanita lain lagi ketika dirinya telah menjadikan wanita itu seorang istri nantinya.


"Sebenarnya wanita seperti apa yang saya inginkan? Saya juga bingung. Saya ingin wanita yang spesial," gumamnya seketika memejamkan kedua matanya.


Tok! Tok! Tok!


"Abang, ini aku? Aku masuk ya?"


Ceklek!


Pintu di ketuk dan buka, suara Alena pun terdengar nyaring sebelum dia benar-benar masuk ke dalam kamar. Fazril sontak membuka kedua matanya. Dia pun menatap wajah sang adik bersama Lian yang saat dia gendong.


"Lian pengen tiduran di sini katanya," ujar Alena berjalan menghampiri.


"Wah, tumben banget keponakan Om yang ganteng ini pengen tidur sama Om. Sini, berbaring di samping Om," jawab Fazril ramah.


Lian mengerucutkan bibirnya. Wajahnya terlihat kuyu dan juga lesu. Balita yang sebentar lagi menginjak usia 4 tahun itu berbaring tepat di samping Fazril. Dia melingkarkan satu tangannya di perut Om yang sudah seperti ayahnya sendiri itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? Ko cemberut kayak gini?" tanya Fazril mengusap rambut sang keponakan lembut dan penuh kasih sayang.


"Lian ngambek, katanya dia ingin ikut sama Daddy-nya," jawab Alena mewakili sang putra menjawab pertanyaan Fazril sang kakak.


"O ya? Kamu 'kan lagi tidak enak badan, sayang. Hmmm! Gini aja, besok 'kan hari minggu gimana kalau Om ajak kamu jalan-jalan ke mall. Kita nonton film di bioskop, main time zone, belanja mainan juga, mau?"


Lian seketika tersenyum lebar.


"Mau, Om. Mau ..." Jawabnya merasa senang.


"Ya sudah, sekarang kamu tidur sama Om di sini. Karena besok kita mau jalan-jalan, kamu harus banyak istirahat, jangan lupa di minum obatnya juga, oke?"


Lian menganggukkan kepalanya. Dia pun mengalihkan pandangan matanya menatap wajah sang ibu kemudian. Raut wajah Lian seketika berubah serius membuat Alena seketika merasa heran.


"Eu ... Anu, Mommy--" Alena tidak meneruskan ucapannya karena dia memang tidak tahu harus berkata apa.


"Sayang, bukankah besok kita memang akan melakukannya? Kita bakalan jalan berempat, Om, Mommy, Kaka Lani sama kamu," ujar Fazril mencoba untuk menghibur.


"Itu beda, Om. Gak ada Daddy-nya. Aku kangen Daddy," lemah Lian, wajahnya seketika terlihat murung.

__ADS_1


Baik Alena maupun Fazril tidak mampu mengatakan apapun lagi kini. Tidak ada yang salah dengan apa yang saat ini dirasakan oleh anak ini. Dia hanya merindukan sosok sang ayah, Lian hanya rindu bagaimana rasanya berkumpul bersama kedua orang tuanya. Anak kecil ini hanya ingin keluarganya utuh kembali sepertu dulu, sayangnya hal itu sangat mustahil untuk terjadi.


"Sayang! Putranya Mommy. Nanti kapan-kapan kita lakukan apa yang kamu katakan tadi," lemah Alena duduk tepat di tepi ranjang.


"Beneran? Kita bisa kumpul bareng lagi? Bobo bareng lagi? Jalan-jalan bersama lagi?" tanya Lian, dengan begitu polosnya membuat Alena dan juga Fazril seketika merasa tercengang.


"Ti-tidak, sayang. Kita hanya akan jalan-jalan berempat saja. Maaf, karena Mommy tidak bisa melakukan apa yang kamu inginkan. Mommy benar-benar minta maaf," jawab Alena. Rasa bersalah itu tiba-tiba saja mendera hatinya.


Rasanya sakit sekali ketika dia tidak bisa memenuhi keinginan sang putra. Perasaanya pun kembali merasa terluka saat mengingat bahwa kedua putra-putrinya menjadi korban perceraian mereka, tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur dan waktu tidak dapat lagi di putar. Rumah tangganya yang sudah berakhir tidak mungkin kembali utuh seperti keinginan putra kesayangannya itu.


"Mom," lirih Lian membuyarkan lamunan panjang seorang Alena.


"Iya, sayang," jawab Alena mengusap kepala sang putra lembut dan penuh kasih sayang.


"Aku ingin pulang, bisakah kita menginap di rumah Daddy barang sehari saja."


Perasaan Alena seketika merasa terhenyak.


'Maafkan Mommy, Nak. maaf, Mommy tidak bisa memenuhi keinginan kamu. sekali lagi Mommy mohon maaf,' batin Alena seketika di landa rasa bersalah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2