Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Terima Kasih


__ADS_3

"Daddy serius?" tanya Alvin masih tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang ayah.


"Tentu saja, kenapa? Kamu gak suka?"


"Suka, Dad. Saya benar-benar berterima kasih sama Daddy karena sudah berubah pikiran."


"Berterima kasihlah sama Mommy kamu ini, dia yang telah membujuk Daddy. Jika saja tidak ada Mommy Rieta, mungkin Daddy masih tetap pada pendirian Daddy. Mommy kamu berhasil meyakinkan Daddy, bahwa di dunia ini janda maupun perawan tidak ada bedanya. Bahkan banyak perawan, tapi rasa janda. Kamu mengerti apa yang Daddy katakan?"


Alvin seketika menoleh dan menatap wajah sang ibu tiri. Kenapa rasanya sulit sekali untuk sekedar mengatakan kata, 'terima kasih' kepada beliau. Rasanya canggung sekali mengatakan hal itu.


"Kenapa diam saja? Dasar tidak tahu terima kasih, atau kamu lupa caranya berterima kasih?" tanya sang ayah tegas dan penuh penekanan.


"Te-terima ka-sih," ujar Alvin pelan.


"Apa? Kamu ngomong apa? Daddy gak denger?"


"Cukup, Mas. Berterima kasih tidak perlu di ucapkan dengan kata-kata," sela Nyonya Rieta.


"Terima kasih, Mommy," ucap Alvin sedikit menaikan nada suaranya.


"Sama-sama, Alvin. Kapan-kapan, bawa calon istri kamu untuk makan malam di sini. Mommy akan memasakan makanan spesial untuk dia, Mommy juga berharap ketika kamu sudah menikah nanti, kalian bisa tinggal di sini biar Mommy ada teman."


"Baik, akan saya sampaikan kepada Alena. Eu .. Saya permisi," pamit Alvin, tiba-tiba saja Laki-laki itu merasa gugup entah mengapa. Dia pun bangkit lalu berjalan menuju kamar lalu masuk ke dalamnya kemudian.

__ADS_1


Sang ibu tiri benar-benar menepati janjinya untuk membujuk Tuan Irawan ayahnya. Jujur, hati seorang Alvin memang sedikit luluh karena hal itu, tapi hal tersebut tidak serta-merta menghilangkan rasa bencinya kepada wanita yang telah menggeser posisi ibu kandungnya di dalam hati sang ayah.


"Jangan terlalu keras sama putramu, Mas," ujar Nyonya Rieta mengusap punggung suaminya lembut dan penuh kasih sayang.


"Gimana Mas gak keras, dia selalu bersikap seperti itu sama kamu. Padahal kamu ibu sambung yang baik lho, kamu yang telah membesarkan dia," jawab Tuan Irawan penuh penekanan.


"Mungkin karena Alvin masih menyimpan dendam sama aku, Mas. Wajar jika kemudian dia bersikap seperti itu, anak mana yang rela ibunya di gantikan dengan wanita lain."


"Ya,tapi 'kan kejadiannya sudah lama sekali. Sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu, masa sikap dia masih saja begitu. Lagi pula, Mas yang salah karena lebih kamu di bandingkan Annisa ibu kandungnya. Kamu tahu, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Percuma juga Mas mempertahankan rumah tangga Mas dengan si Anisa jika tenyata Mas mencintai wanita lain yaitu kamu, lebih baik Mas melepaskan dia dari pada dia semakin tersakiti nantinya," jelas Tuan Irawan. Pikirannya seketika melayang ke masa lalu.


Ya ... Dia memang salah kala itu. Dirinya jatuh cinta kepada wanita bernama Rieta di saat dia masih menyandang status sebagai suami dari ibu kandung putranya. Walau bagaimana pun Irawan tidak bisa mengendalikan perasaanya, dia pun tidak ingin semakin menyakiti hati Annisa, itu sebabnya dia melepaskan wanita itu dan lebih memilih menikahi Rieta dan menjadikanya ibu sambung untuk sang putra.


"Aku yakin suatu saat Alvin akan menerima aku sebagai ibunya. Karena dia sendiri akan merasakan bagaimana menjadi ayah sambung bagi anak-anak tirinya kelak. Di situ Alvin akan sadar, bahwa tidak mudah menjadi orang tua sambung. Dia juga akan mengerti bagaimana perasaan aku selama ini. Walau bagaimana pun, aku juga sayang sama Alvin layaknya anak kandung aku sendiri. Aku juga ingin dia menganggap aku seperti ibunya sama halnya seperti aku yang menganggap dia anak kandung sendiri,' ujar Nyonya Rieta terlihat sedih. Sekian lama dia mendampingi Alvin, kehadirannya tetap saja tidak di anggap oleh laki-laki itu.


"Mau bagaimana lagi, sekian lama kita menikah Tuhan masih belum memberi kesempatan untuk aku mengandung dan memiliki seorang anak."


Tuan Irawan seketika memeluk tubuh istrinya. Dia mengusap punggung sang istri lembut dan penuh kasih sayang. Walau bagaimana pun, wanita bernama Rieta itu telah menemani dirinya sampai saat ini, meskipun kehadirannya tidak pernah di anggap oleh putra semata wayangnya.


.


Satu minggu kemudian.


Akhirnya pertemuan 2 keluarga pun diadakan. Baik Alena maupun Alvin terlihat begitu bahagia. Kedua calon besan pun sepertinya cocok satu sama lain, mereka mengobrol banyak hal. Sampai akhirnya tanggal pernikahan pun di tetapkan. Mereka akan menikah 3 bulan dari sekarang.

__ADS_1


"Kami pamit dulu, semoga persiapan pernikahan bisa berjalan dengan lancar, senang sekali bisa memiliki calon menantu seorang calon Dokter," ujar Tuan Irawan berdiri berpamitan.


"Hati-hati di jalan, semoga kita bisa menjadi besan yang akur ya, saya juga senang karena memiliki calon menantu laki-laki yang baik seperti Alvin, terlebih dia adalah seorang Dosen yang hebat," jawab Nyonya Inggrid tersenyum ramah.


"Mereka benar-benar pasangan yang cocok. Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa, laki-laki yang hebat diciptakan untuk wanita yang hebat. Sama halnya seperti mereka berdua, mereka sama-sama hebat."


Baik Alvin maupun Alena seketika tersenyum senang mendengar orang tua mereka saling memuji satu sama lain. Itu artinya, tidak ada yang mengganjal di hati 2 keluarga itu. Mereka berdua pun terlihat begitu bahagia, satu tangan Alvin diam-diam meraih telapak tangan Alena lalu menggenggamnya erat.


'Lama banget sih harus nunggu 3 bulan segala? Kenapa tidak bulan depan saja kami menikah?' batin Alvin merasa tidak sabar.


.


3 bulan kemudian.


Ceklek!


Sebuah pagar tinggi terbuat dari besi di buka lebar. Alviano nampak keluar dari dalamnya dengan membawa tas berukuran besar. Laki-laki itu baru saja bebas setelah menjalani masa hukuman selama 5 bulan lamanya karena terjerat pidana penganiayaan.


Alviano merentangkan kedua tangannya. Dia pun menarik napas panjang seolah sedang menghirup udara segar setelah terkurung dia dalam sangkar. Senyuman pun nampak mengembang sempurna dari kedua sisi bibirnya kini. Dia memejamkan kedua matanya sejenak lalu kembali membukanya lebar-lebar.


"Akhirnya aku bebas juga. Sudah saatnya aku melakukan pembalasan, hahahaha!" tawa Alviano terdengar menggelegar.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2