
Tidak berselang lama, Alena kembali ke dalam kamarnya. Wanita itu tiba-tiba saja merasa gugup, apa karena malam ini terasa berbeda? Mereka hanya berdua saja tanpa Lani yang biasanya berada di tengah-tengah mereka setiap malamnya. Hal yang sama pun dirasakan oleh Alvin. Mengingat 2 minggu pernikahan mereka, keduanya terpaksa menahan malam pertama dengan berbagai alasan juga atas kesepakatan bersama.
Alvin menatap wajah Alena yang kian memerah. Dia yang saat ini tengah duduk di atas ranjang seketika turun dan berjalan menghampiri istrinya seraya tersenyum begitu lebarnya kini. Alvin memeluk tubuh istrinya mesra.
"Apa Lani sudah tidur?" tanya Alvin meletakan kepalanya di pundak istrinya tercinta.
"Iya sudah, dia segera tidur setelah aku antar ke kamar ibu."
"Hmm! Syukurlah, akhirnya kita bisa berduaan seperti ini."
"Maaf karena telah membuat Mas menunggu terlalu lama."
"Eu ... Apa kamu sudah siap untuk kita--" Alvin menahan ucapannya.
Dia seketika mengurai pelukan lalu menatap lekat wajah Alena kini. Alvin mengusap wajah istrinya dengan jari telunjuk membuat Alena sontak memejamkan kedua matanya kini. Jantung wanita itu berdetak kencang kini, gairah di dalam jiwanya pun perlahan mulai naik kepermukaan. Dia menatap wajah suaminya dengan tatapan mata sayu.
"Malam pertama yang akan kita lewati mungkin akan berbeda dengan malam pertama pada umumnya karena aku seorang janda, aku harap kamu tidak kecewa dengan hal itu, tapi aku akan mencoba untuk memberikan pelayan yang terbaik agar Mas Alvin tidak dapat melupakan malam ini," lirih Alena, seketika itu juga dia segera mendaratkan bibirnya di bibir suaminya mesra juga penuh gairah.
.
Bruk!
Tubuh Alvin terkulai lemas tepat di samping raga istrinya. Napasnya tersengal-sengal tidak beraturan. Bibirnya tersenyum puas, peluh dan keringat nampak membasahi hampir seluruh tubuhnya kini. Ternyata seperti ini rasanya surga dunia. Rasa yang banyak di buru oleh manusia di luaran sana. Tidak sedikit dari mereka bahkan rela melakukan hal tersebut secara terlarang, karena rasanya memang luar biasa nikmatnya.
"Kamu luar biasa, Alena. Bagaimana saya bisa kecewa sama kamu, jika kamu sangat pandai dalam hal bermain di atas ranjang?" lirih Alvin, meringkuk dengan menopang kepalanya menggunakan telapak tangan.
"Mas Alvin apaan sih? Aku 'kan jadi malu," jawab Alena dengan wajah memerah merasa malu.
__ADS_1
"Kenapa harus malu, sayang? Kamu istri saya. Tadi kamu mengatakan bahwa saya mungkin akan merasa kecewa karena kamu hanya seorang janda, nyatanya kamu janda yang luar biasa."
Wajah Alena semakin memerah saja kini. Wanita itu seketika memutar badan membelakangi suaminya. Hal itu justru membuat Alvin semakin merasa gemas. Dia mengecup punggung polos Alena seraya membisikkan sesuatu yang membuat Alena sontak membulatkan bola matanya.
"Milik kamu juga masih sempit dan mengigit membuat Mas-mu merasa ketagihan," bisik Alvin seraya tersenyum tipis memeluk tubuh Alena dari arah belakang.
"Mas Alvin? Ikh ... Dasar ca*ul yah!" decak Alena kembali memutar badan, menatap wajah suaminya dengan tatapan mata tajam.
"Ko ca*ul? Itu fakta lho."
"Fakta apaan? Memangnya Mas tau yang gak sempit itu seperti apa?"
"Hah? Hahahaha! Pertanyaan kamu ada-ada aja. Ya ... Mana Mas tahu. Mas cuma tahu yang ini, milik kamu yang akan membuat Mas merasa kecanduan. Kamu harus selalu siap jika Mas meminta kamu melayani Mas setiap malam."
"Jangankan setiap malam, sehari 3 kali pun akan aku layani," jawab Alena seketika mendaratkan ciuman di bibir suaminya mesra.
"Dengan senang hati suamiku," jawab Alena.
Mereka pun kembali melakukan kegiatan yang menguras keringat itu. Kegiatan yang begitu memabukkan yang membuat jiwa keduanya terasa melayang ke angkasa lepas. Mereka bahkan melakukannya sepanjang malam sampai pagi menjelang, keduanya benar-benar memuntahkan hasrat yang selama ini di tahan sedemikian rupa. Menjadikan malam ini sebagai malam yang spesial untuk mereka berdua.
.
Keesokan harinya.
Alena dan suaminya berjalan menuruni satu-persatu anak tangga menuju lantai satu. Rambut keduanya nampak basah, wajah Alena pun terlihat segar. Bibirnya mengembang sempurna tersenyum lebar. Mereka berdua terlihat begitu ceria.
"Ehem! Ada yang basah nih!" celetuk Fazril yang saat ini baru saja keluar dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Abang apaan sih? Gak jelas banget," decak Alena mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.
"Kenapa? Abang cuma suka aja liat rambut panjang kamu yang basah kayak gini. Kelihatanya segar banget, beneran deh." Fazril tersenyum cengengesan.
"Zril, mau nggak saya kenalkan sama salah satu mahasiswi di kampus? Dia calon Dokter juga lho. Kayaknya kamu terlalu lama menjomblo deh," ujar Alvin.
"Ish, dasar adik ipar gak sopan. Pertemanan kita itu cuma masa lalu ya, sekarang kamu adik ipar saya. Jadi, panggil saya dengan sebutan Abang, gimana sih?"
"O iya, saya lupa. Maaf, Abang Fazril, puas?"
"Hahahaha! Begitu dong,itu baru namanya adik ipar yang baik."
"Jadi gimana? Mau tidak saya kenalkan sama salah satu mahasiswi saya di kampus? Dia cantik lho, berprestasi lagi. Apalagi bodynya yang aduhai, beuh ... Kamu pasti suka deh sama dia."
Alena seketika menoleh dan menatap wajah suaminya dengan tatapan mata tajam. Apa selama ini diam-diam suaminya itu suka jelalatan kepada wanita lain? Rasa cemburu tiba-tiba saja datang terasa begitu membakar hati seorang Alena kini.
"Kamu kenapa liatin saya seperti itu?" tanya Alvin menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Hmm! Jadi begitu ya, diam-diam mata Mas jelalatan, suka banget memperhatikan cewek-cewek cantik di kampus? Sampai-sampai Mas tahu yang namanya body aduhai segala? Hebat! Hebat!" ketus Alena berjalan meninggalkan mereka berdua dengan wajah masam.
"Hah? Astaga, sayang. Kamu kenapa? Ko kamu tiba-tiba marah kayak gini? Tunggu Mas, sayang. Kamu salah paham, saya tidak pernah jelalatan sama wanita manapun selain sama kamu, sumpah deh!" teriak Alvin, seraya berlari mengejar istrinya.
Fazril menatap keduanya dengan tatapan mata penuh rasa bahagia. Senang sekali rasanya melihat sang adik menemukan suami yang cocok setelah melewati berbagai masalah yang begitu menguras emosi selama ini. Ini adalah buah dari kesabaran Alena, akhirnya dia bisa menikah dengan laki-laki yang tepat.
"Kenapa saya jadi mendadak pengen nikah juga ya? Astaga, kalian bikin iri saja, sumpah!" decak Fazril mengusap wajahnya kasar.
BERSAMBUNG
__ADS_1