Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Ingin Bertemu Kakak


__ADS_3

Alvin sontak tersenyum lebar juga refleks menoleh dan menatap wajah Alena dengan perasaan bahagia. Dia tidak menyangka bahwa Alena akan membalas ucapan cinta darinya. Apa itu artinya mereka sudah resmi berpacaran sekarang?


"Apa? Kamu bilang apa tadi?" tanya Alvin hanya ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.


"Hah? Eu ... Emang aku bilang apa?" Alena balik bertanya, dirinya sempat terlalu larut dalam lamunan, membuatnya antara sadar dan tidak sadar saat mengatakan hal itu.


"Kamu bilang, i love you too, tadi."


Alena sontak membulatkan bola matanya. Jantung seorang Alena seketika berdetak sangat kencang hingga dadanya terasa berguncang. Wanita itu tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal entah mengapa.


"O ya? Apa aku benar-benar mengatakan hal itu?"


Alvin tersenyum lebar, satu tangannya seketika bergerak meraih telapak tangan wanita itu lalu menggenggamnya erat. Laki-laki itu seketika mengecup punggung tangan Alena mesra dan wanita itu pun hanya pasrah saat dia melakukan hal itu. Alena hanya bisa menatap wajah Alvin seraya tersenyum manis merasa sangat bahagia.


* * *


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka pun sampai di kota besar. Keduanya pun langsung menuju Rumah Sakit di mana Lian di rawat saat ini. Perlahan, mobil yang di kendarai Alvin mulai memasuki area Rumah Sakit lalu berhenti tepat di parkiran.


"Kamu ke dalam sendiri gak apa-apa? Saya mau membeli sesuatu dulu, saya juga mau membelikan makanan untuk kamu, kita bahkan tidak sempat sarapan tadi pagi," ujar Alvin sesaat setelah dia menghentikan mobilnya.


"Baiklah, aku masuk dulu," jawab Alena membuka pintu mobil dan hendak keluar dari dalamnya.


"Tunggu, Alena."

__ADS_1


Wanita itu sontak menahan langkah kakinya lalu menoleh dan menatap wajah Alvin.


Grep!


Alvin tiba-tiba saja memeluk tubuh Alena erat. Dia pun mengusap punggungnya lembut dan penuh kasih sayang.


"Saya yakin kamu adalah wanita yang kuat. Tetaplah berdiri tegak, tetaplah tegar dalam menghadapi semua ini. Ingat, ada saya yang akan selalu menemani kamu, Lena," bisik Alvin, dia pun mengurai pelukan dan mendaratkan kecupan di kening Alena mesra. Alena sontak memejamkan kedua matanya. Lagi-lagi dia seperti mendapatkan sebuah kekuatan.


"Terima kasih, Mas. Aku masuk dulu," jawab Alena meneruskan langkah kakinya, dia pun benar-benar keluar dari dalam mobil.


* * *


Ceklek!


Pintu ruangan di mana Lian di rawat pun di buka. Alena masuk ke dalamnya tersenyum menatap wajah Lian yang saat ini tengah di gendong oleh neneknya. Anak itu sontak merentangkan tangannya seraya merengek seolah begitu merindukan sang ibu.


"Sayangnya Mommy. Maaf karena Mommy harus meninggalkan kamu di sini," jawab Alena segera menggendong tubuh putranya.


"Kaka Lani mana? Katanya Mommy sedang menjemput Kaka?" tanya Lian menatap sekeliling.


"Kak Lani menginap di rumah Daddy, Mommy 'kan harus menjaga kamu di sini, jadi Daddy membawa Kaka untuk beberapa hari."


"Benarkah? Padahal aku ingin bertemu dengan kaka."

__ADS_1


Alena hanya tersenyum seraya menimang tubuh Lian yang kian kurus setiap harinya, kepala anak itu terkulai lemas di bahu Alena sang ibu. Nyonya Inggrid menatap lekat wajah putrinya, dia mencoba untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Apa mungkin Alviano mantan suami putrinya ini menahan Lani? Atau, apa yang di katakan oleh Alena ini jujur apa adanya? Dia akan menanyakan hal itu nanti ketika Lian sudah tertidur lelap. Dia tidak ingin Lian mendengar pembicaraan mereka.


* * *


Sementara itu di kediaman orang tua Alvin. Ibu masuk ke dalam kamar di mana cucunya berada saat ini. Sepiring makanan pun dia bawa, wanita paruh baya itu akan menyuapi cucunya.


"Lani sayang, makan dulu ya. Nenek suapin," ujar ibu menatap sekeliling kamar dan seketika mengerutkan kening karena kamar itu terlihat kosong.


"Lani?!" teriaknya lagi seraya keluar dari dalam kamar.


"Ada apa, bu? Kenapa teriak-teriak kayak gitu?" tanya Alviano yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Lani gak ada, Vian! Apa dia bersama kamu?"


"Tidak, aku baru saja selesai buang air besar."


"Astaga, Lani ke mana, Vian? Jangan-jangan putri kamu itu nekat kabur dari rumah ini!"


"Ya Tuhan, Lani!"


Alviano berlari keluar dari dari dalam rumah dengan perasaan khawatir. Dia mencari putrinya di setiap sudut halaman bahkan di dalam rumah sang ibu, tapi Lani sang putri tidak terlihat di mana pun di tempat itu.


"Lani!" Alviano berteriak kencang dengan perasaan berkecamuk.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2