
Nuri hampir saja hilang kendali. Jujur, ini adalah ciuman pertamanya. Bagi seseorang yang tinggal di kampung, berciuman adalah hal masih tabu untuk dilakukan. Gadis berusia 20-han itu bahkan belum pernah berpacaran, meskipun laki-laki yang mengejar-ngejar dia tidak terhitung jumlahnya.
Fazril melepaskan tautan bibirnya, dia pun mengusap ujung bibir Nuri yang terlihat basah dengan saliva. Fazril tersenyum manis menatap lekat wajah Nuri kini.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di kening Nuri. Gadis itu sontak memejamkan kedua matanya. Rasa cinta itu benar-benar telah tumbuh dan menjalar di lubuk hatinya kini.
"Terima kasih karena telah menerima cinta saya," lirih Fazril memeluk tubuh Nuri erat.
"Lebih baik Den Azril keluar dari sini secepatnya. Sebelum Nyonya besar melihat Aden nanti," pinta Nuri mengurai jarak di antara mereka.
"Jangan panggil saya dengan sebutan Aden ketika kita sedang berdua seperti ini, Nuri."
"Lalu, aku harus memanggil Den Azril dengan sebutan apa?"
"Mas! Panggil saya dengan sebutan Mas, paham?"
"Mas?"
Fazril menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. Terlihat sangat bahagia.
"Baiklah, akan aku coba. Mas Azril."
"FAZRIL!"
"O Iya, aku lupa. Mas Fazril. Seperti itu?"
"Pintar, satu lagi. Pokoknya saya tidak mau mendengar kamu berbicara bahasa Jawa. Kalau kamu mau melakukan hal itu, ajari dulu saya bahasa Jawa."
"Iya-iya. Aku ndak akan berbicara bahasa Jawa lagi. Kalau bahasa Inggris boleh?"
__ADS_1
"Hah? Hahahaha! Memangnya kamu bisa bahasa Inggris? Orang kampung seperti kamu bisa bahasa asing?" Fazril mengerutkan kening.
"Of course I can. Hi my beloved, I love you very much. Be a good lover from now on. Okay (Tentu saja aku bisa. Hi kekasihku, aku sangat mencintaimu. Jadilah kekasih yang baik mulai sekarang. Oke)"
Fazril menggelengkan kepalanya. Dia baru tahu bahwa gadis desa ini bisa berbicara dengan bahasa asing segala. Ya ... Meskipun logat medoknya itu masih terdengar, karena sepertinya gaya bicara Nuri yang seperti itu tidak bisa di hilangkan dan itu sudah menjadi ciri khas orang-orang yang tinggal di pedesaan.
"Astaga, kamu! Ternyata kamu bisa bicara bahasa Inggris juga? Benar-benar luar biasa. Hahahaha!" Fazril tertawa nyaring.
"Sttt! Mas Fazril, jangan ketawa gitu. Nanti ada yang dengar bagaimana?"
"Ups! Maaf, saya lupa, sayang. Saya terlalu senang soalnya."
Tok! Tok! Tok!
"Den! Aden sudah bisa keluar sekarang. Nyonya besar sudah masuk ke kamarnya."
Tiba-tiba terdengar suara Bibi, mengetuk dan memanggil nama Fazril di luar sana. Hal itu tentu saja membuat keduanya merasa terkejut bukan kepalang.
"Den, buru keluar. Nanti keburu ketahuan Nyonya besar!" Bibi semakin menaikan suaranya.
Ceklek!
Nuri akhirnya membuka pintu kamar. Keduanya keluar dengan wajah memerah juga tersenyum cengengesan. Baik Nuri maupun Fazril merasa malu, mereka takut Bibi akan berpikir yang bukan-bukan tentang mereka berdua.
"Ck! Ck! Ck! Kalian," decak Bibi menatap wajah Nuri dan juga Fazril secara bergantian.
"Kami ndak melakukan apa-apa di dalam. Sungguh, kami hanya--"
"Bibi tidak nanya. Bibi juga tidak menuduh kalian melakukan hal yang bukan-bukan. Kalian sudah dewasa untuk membuat pilihan, kalian juga bukan anak kecil lagi yang bisa di larang-larang. Kalian berdua sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan," ucap Bibi panjang lebar.
"Maaf, Bi--"
__ADS_1
"Jangan minta maaf sama Bibi. Memangnya Bibi siapanya kalian?"
Baik Nuri maupun Fazril seketika menundukkan kepalanya. Keduanya benar-benar merasa malu. Semua yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu benar adanya. Mereka sudah sama-sama dewasa untuk melakukan apapun yang menurutnya baik. Keduanya pun sudah sama-sama tahu perbuatan yang baik dan buruk untuk dilakukan.
"Tunggu apa lagi, Den? Cepat masuk ke dalam sebelum Nyonya melihat Den Fazril di sini," pinta Bibi penuh penekanan.
"Ba-baik, Bi. Terima kasih, Bi. Saya akan memberikan Bibi bonus untuk bulan ini," jawab Fazril lalu berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya.
"Ck! Ck! Ck! Di jodohkan dengan wanita sempurna malah jatuh cinta sama seorang pembantu," decak Bibi menatap kepergian majikannya seraya menggelengkan kepala merasa heran.
Nuri seketika merasa gugup. Dia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal tanpa sebab yang jelas. Gadis itu pun sedikit membungkukkan tubuhnya lalu pamit hendak kembali ke kamarnya.
"Eu ... Aku permisi, Bi," pamit Nuri berbalik dan hendak masuk ke dalam kamar.
"Tunggu."
Nuri seketika menghentikan langkah kakinya seraya memejamkan kedua matanya.
"I-iya, Bi," jawab Nuri terbata-bata.
"Ikut sama Bibi. Ada yang ingin Bibi bicarakan sama kamu. Kita bicara di kamar Bibi."
"Ba-baik, Bi."
Ceklek!
Blug!
Pintu kamar pun di buka lalu kembali di tutup setelah keduanya masuk ke dalam kamar.
'Sebenarnya apa yang ingin bibi bicarakan? Apa Bibi mau melarang aku untuk berhubungan dengan Mas Fazril,' batin Nuri seketika merasa khawatir.
__ADS_1
BERSAMBUNG