
"Abang bilang apa tadi?" tanya Alena bola matanya mulai memerah lengkap dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini.
"Ibu bilang, si Alviano membawa Lani dari rumah, Len," lemah Fazril dengan nada suara berat.
"Tidak, itu tidak boleh terjadi. Mas Vian tidak boleh membawa Lani pergi, tidaaaak!"
"Tenang, Alena. Memangnya kenapa kalau mantan suami kamu itu membawa Lani? Bukankah mereka sering melakukan hal itu. Nanti juga si Alviano itu membawa pulang Lani lagi."
"Tadi kami sempat ketemu laki-laki itu di kantin. Dia bilang akan mengajukan hak asuh anak-anak, Zril. Sepertinya dia tidak main-main," jelas Alvin berjalan menghampiri sahabatnya.
"Apa? Si brengsek itu bilang begitu? Astaga, gila tu orang."
"Apa yang harus aku lakukan, Bang? Kalau Mas Vian benar-benar membawa kedua anakku, bagaimana? Aku gak mau, aku gak mau berpisah dengan mereka berdua, hiks hiks hiks!" tangis Alena seketika pecah, dia menutup mulutnya dengan telapak tangan agar suara tangisnya tidak membangunkan Lian yang saat ini masih tertidur dengan begitu lelapnya.
"Brengsek, biar Abang kasih pelajaran tuh orang, memangnya dia bisa apa ngurus anak-anak," geram Fazril hendak pergi, tapi segera di tahan oleh Alena tentu saja.
"Tidak, Bang. Biar aku saja yang pergi," tahan Alena.
"Lian bagaimana, Len? Kalau dia bangun dan nanyain kamu, bagaimana?"
Alena seketika mengusap wajahnya kasar. Dirinya benar-benar di landa rasa dilema. Dia tidak ingin jika sampai putri sulungnya di bawa oleh Alviano, tapi dirinya juga tidak mungkin meninggalkan Lian yang saat ini dalam keadaan sakit. Dada seorang Alena benar-benar merasa sesak kini. Tubuhnya seketika melemas. Alena hampir saja tumbang, tapi tubuhnya segera rain dan di tahan oleh Alvin.
"Tenang, Len. Saya akan menemani kamu ke sana, kita datangi rumah mantan suami kamu, tapi kita harus meminta Tante Inggrid untuk datang ke mari dan menjaga Lian di sini," lemah Alvin mencoba untuk menenangkan.
"Ya Tuhan, kenapa masalahnya sampai serumit ini sih? Di brengsek itu benar-benar keterlaluan. Pokoknya kalau sampai Abang ketemu sama dia, Abang bakalan hajar tuh orang. Dasar laki-laki tidak tahu diri, brengsek gila," umpat Fazril benar-benar merasa kesal.
__ADS_1
"Tolong Abang juga Lian di sini. Aku akan mendatangi rumah Mas Vian. Aku akan mengambil Lani kembali, aku gak mau Lani di bawa sama dia. Aku gak mau," rengek Alena dengan berat hati akan meninggalkan putra bungsunya di sana.
"Saya akan menemani kamu, Len. Kita berangkat sekarang," ujar Alvin menatap penuh rasa iba wajah Alena yang saat ini masih dia tahan tubuhnya.
"Tolong jaga adik saya, Alvin. Saya percaya sama kamu."
Alvin menganggukkan kepalanya. Sementara Alena, dia menatap sekejap wajah sang putra sebelum akhirnya berjalan keluar dari dalam kamar bersama laki-laki bernama Alvin.
* * *
Ckiiit!
Mobil yang kendarai oleh Alvin dan Alena akhirnya sampai di tempat tujuan. Kediaman Alviano, rumah yang pernah di tinggali oleh Alena ketika dirinya masih menyandang status sebagai istri dari laki-laki itu. Dia pun turun dari dalam mobil dengan tergesa-gesa dan segera memasuki halaman lalu mengetuk pintu saat itu juga.
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
"Lani! Ini Mommy, apa kamu ada di dalam? Lani!" Alena kembali berteriak histeris.
"Sepertinya rumah ini kosong, Len. Mobil si Alviano juga gak ada di sini," ujar Alvin menatap sekeliling.
"Astaga, aku sampai melupakan hal itu. Kalau mobil Mas Vian gak ada, itu artinya dia memang tidak pulang ke rumah ini. Bagaimana ini, Mas? Lani di bawa ke mana? Putriku di bawa kemana? Hiks hiks hiks!" Tangis seorang Alena kembali pecah, tangis pilu yang menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Grep!
__ADS_1
Alvin seketika memeluk wanita itu erat. Hatinya pun merasakan rasa sakit saat melihat wanita yang dia cintai dalam keadaan terluka hatinya.
"Sabar, Len. Pasti ada jalan keluar dari semua masalah ini," lirihnya kemudian, laki-laki itu mengusap punggung Alena lembut dan penuh kasih sayang.
"Lani di bawa ke mana, Mas. Kenapa dia tidak ada di sini? Kemana Mas Vian membawa putriku? Aku takut Lani kenapa-napa! Hiks hiks hiks!"
"Lani gak akan kenapa-napa, Alviano ayahnya, dia tidak mungkin menyakiti putrinya sendiri."
Alena menangis sesenggukan di dalam dekapan laki-laki bernama Alvin. Dia benar-benar memuntahkan semua kesedihan yang saat ini terasa menyiksa dan memuat dadanya merasa sesak.
"Apa mungkin Alviano membawa Lani ke rumah orang tuanya, mantan mertua kamu?" Tanya Alvin membuat Alena seketika mengurai pelukan.
"Benar juga, tapi Mas. Rumah kedua orang tua Mas Vian ada di kampung, butuh waktu selama 6 jam berkendara untuk sampai di sana."
"Saya akan mengantarkan kamu ke sana. Kamu tidak usah khawatir, saya akan selalu menemani kamu. Saya akan selalu ada di sisi kamu, Lena."
"Terima kasih, Mas Alvin. Aku benar-benar berterima kasih, hiks hiks hiks!" Alena kembali memeluk tubuh Alvin juga menangis di dalam dekapannya kini.
* * * *
"Kita mau ke mana, Dad? Kata Daddy kita mau ke Rumah sakit?" tanya Lani duduk di dalam mobil bersama Alviano sang ayah.
"Kita mau ke rumah nenek kamu di kampung, sayang," jawab Alviano, tatapan matanya fokus menatap ke depan.
"Apa? Nggak, aku gak mau, Dad. Aku mau pulang. Aku mau ketemu sama Dede Lian, aku mau sama Mommy, hiks hiks hiks!" tangis gadis kecil itu seketika pecah memekikkan telinga.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...