
"Benar juga. Bagaimana caranya Om Arman bisa menghubungi ku kalau nomorku saja tak punya? Sebentar, ini ponsel aku silahkan masukan nomor Om Arman ke dalam ponselku ini," jawab Lani tersenyum kecil.
Senyuman yang begitu manis, senyuman yang membuat hati seorang Rendi terasa bergetar. Untuk beberapa saat, Rendi hanya diam mematung seraya menatap wajah Lani lekat.
"Ren? Malah bengong lagi," decak Lani seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Rendi.
"Hah? Eu ... Iya maaf, saya melamun tadi. Ayah tak punya ponsel, gak apa-apa 'kan kalau save nomor saya saja?" jawab Rendi kemudian.
"Tak masalah. Sama saja."
"Baiklah."
Rendi meraih ponsel milik Lani, dan melakukan sambungan telpon terhadap ponselnya. Setelah itu dia pun kembali memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. Keduanya pun menatap ponsel masing-masing.
"Saya permisi sekarang, Om, Rendi. Ingat pesan saya, Om. Jangan sungkan untuk menghubungi saya kalau Om Arman membutuhkan sesuatu," pamit Lani.
"Baik, Nak Lani. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena kamu telah menyempatkan waktu untuk datang kemari," jawab Pak Arman tersenyum ramah.
"Sama-sama, Om. Semoga Om bisa cepat sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala," ucapan terakhir Lani sebelum akhirnya benar-benar berbalik dan melanjutkan langkah kakinya.
'Ternyata kamu wanita yang baik. Maaf karena saya telah salah menilai kamu saat pertama kali kita bertemu, Lani. Semoga kita bisa berteman baik,' batin Rendi menatap kepergian Lani dengan perasaan bersalah.
.
Hari berganti dan waktu berlalu. Satu bulan sudah semenjak kejadian itu. Baik Lani maupun Rendi tidak pernah bertemu lagi. Mereka bahkan tidak saling berkomunikasi meskipun sudah menyimpan nomor masing-masing. Sepertinya mereka benar-benar sibuk dengan urusan masing-masing.
Di minggu yang cerah ini, Lani ingin menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan di rumah. Dia bahkan baru bangun tidur ketika matahari sudah berada di atas kepala. Lani nampak menyibakkan selimut tebal yang semula menutupi hampir seluruh tubuhnya karena udara tiba-tiba saja terasa panas dia rasa.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu. Lian masuk ke dalam kamar. Dia berjalan menghampiri sang kaka yang masih meringkuk di atas ranjang dengan memeluk bantal guling.
"Astaga anak perawan. Jam segini masih tidur aja! Bangun, Kak. Antar aku ke rumah Om Fazril," ujar Lian menggelengkan kepalanya.
"Apaan sih! Masih ngantuk tau. Ini 'kan hari minggu, Dek," jawab Lani masih memejamkan kedua matanya menahan rasa kantuk.
"Aku mau ke rumah Om Fazril, Kak. Canggung kalau ke sana sendiri."
"Canggung kenapa? Kayak sama siapa aja sih."
"Kaka!"
"Apa?"
"Bangun."
"Ikh! Gak baik lho perawan bangunnya kesiangan kayak gini. Nanti jadi perawan tua lho!"
"I don't care! Lagian kaka gak mau nikah! Biarin aja Kaka jadi perawan tua," jawab Lani seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan mulut yang di buka lebar.
"Astaganaga! Aku bilangin sama Mommy ya kaka bilang kayak gitu tadi!"
"Jangan! Iya-iya kaka bangun. Ikh! Dasar adik nyebelin," decak Lani mengerucutkan sedemikian rupa lalu bangkit dan duduk tegak di atas ranjang.
"Buruan mandi. Aku tunggu Kaka di bawah."
__ADS_1
Lani hanya mengangguk malas.
"O iya satu lagi. Jangan pernah bilang kayak gitu lagi. Kaka gak boleh jadi perawan tua. Kaka harus menikah dan memiliki banyak anak. Ingat, ucapan itu adalah doa. Bicaralah yang baik-baik, maka hal baik pun akan menimpa kita. Kaka lupa sama apa yang Daddy Alvin ucapkan itu? Tuhan itu sesuai dengan prasangka hambanya. Ingat itu, kak," ucap Lian panjang lebar membuat Lani akhirnya tersenyum menatap wajah sang adik.
"Cieeee! Adiknya kaka udah dewasa juga ternyata. Iya-Iya kaka paham apa yang kamu katakan, tapi setiap manusia punya pilihan hidup masing-masing. Mau menikah atau tidak, tergantung kepada pilihan masing-masing, Dek."
"Tapi tetap saja, kaka harus menikah dan menemukan jodoh yang tepat untuk kaka. Lagian, semenjak aku pulang, aku gak pernah melihat atau mendengar kaka punya pacar! Jangan-jangan--" Lian menahan ucapannya seraya menatap tubuh sang Kaka dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Jangan-jangan apa?" Lani mengerutkan kening.
"Jangan-jangan kaka gak normal lagi!"
"Hah? Hahahaha! Enak aja, kaka normal tau. Kaka pernah punya pacar ko."
"Kapan? Kapan kaka punya pacar? Mana orangnya kenalkan sama aku."
"Udah lama banget, waktu kaka SMP. Hehehehe!" jawab Lani seketika tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Idiiih! Itu sih namanya cinta monyet, Kak Lani!"
"Hahahaha! Iya emang! Udah akh, kaka mau mandi. Jadi ke rumah Om Fazril tidak?"
"Iya jadi. Aku tunggu di bawah ya."
Lani menganggukkan kepalanya seraya menatap sang adik yang kini berjalan keluar dari dalam kamarnya.
'Kaka takut, Dek. Kaka takut dengan yang namanya pernikahan. Kaka takut akan berakhir seperti Mommy dan mendiang Daddy Alviano. Rasanya sakit sekali melihat kedua orang tua kita berpisah. Rasa sakit itu, kaka masih belum bisa melupakannya sampai sekarang,' batin Lani, diam-diam gadis itu menyimpan rasa trauma akibat perceraian kedua orang tuanya di masa lalu.
__ADS_1
"Kaka trauma, Dek. Kaka tak ingin menikah dengan siapapun. Kaka ingin hidup melajang seumur hidup kaka," gumam Lani dengan wajah datar.
BERSAMBUNG