
Alvin menyandarkan punggungnya di pintu yang telah dia tutup dan kunci. Laki-laki itu nampak memejamkan kedua matanya kini. Otaknya tiba-tiba saja kembali mengingat masa lalu. Perpisahan kedua orang tuanya menyisakan rasa sakit yang masih membekas saat sampai ini.
Luka itu masih menganga di dalam lubuk hati laki-laki bernama Alvin.
Apalagi saat mengingat perselingkuhan sang ayah, di mana ayahnya lebih memilih wanita lain dibandingkan ibunya sendiri. Jadi, wajar saja jika Alvin selalu bersikap ketus kepada ayah dan juga ibunya tirinya itu.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan Alena hanya karena dia seorang janda. Apa Daddy lupa, kalau Daddy juga yang menyebabkan ibu kandung saya menyandang status janda?" gumam Alvin mengusap wajahnya kasar.
.
Keesokan harinya.
Alvin keluar dari dalam kamarnya. Dia hendak berangkat ke kampus seperti biasa. Laki-laki itu berjalan dengan wajah masam, perasaanya masih kacau akibat perdebatannya dengan sang ayah semalam.
"Alvin!"
Laki-laki itu sontak menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara Nyonya Rieta sang ibu tiri, memanggil namanya dengan nada suara lantang.
__ADS_1
"Kamu tidak sarapan dulu, Vin?" Tanyanya kemudian, berjalan menghampiri dan berdiri di depannya kini.
Tangan wanita itu seketika bergerak merapikan dasi berwarna hitam yang melingkar di leher putra sambungnya. Alvin hanya diam membisu, dia memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. Melihat wajah wanita ini hanya mengingatkannya kepada sang ibu yang saat ini merana karena suaminya di rebut oleh wanita bernama Rieta ini.
"Mommy akan mencoba untuk membujuk Daddy kamu agar dia bersedia untuk menerima Alena sebagai istri kamu. Sepertinya dia wanita yang baik. Selain itu, dia juga calon Dokter. Itu artinya dia adalah wanita yang hebat," ucap sang ibu seraya menatap dasi dan mengusap pakaian yang saat ini dikenakan oleh Alvin, seolah dia sedang membersihkan debu yang mungkin saja menempel di kemeja berwarna putih itu.
"Jangan so baik," ketus Alvin masih memalingkan wajahnya.
"Mommy bukannya so baik, Alvin."
"Lalu apa namanya kalau bukan so baik?" Alvin akhirnya menoleh dan menatap wajah wanita itu dengan tatapan matanya yang tajam.
Alvin diam tidak menanggapi ucapan sang ibu. Dia hendak melanjutkan langkah kakinya.
"Mau sampai kapan kamu membenci Mommy, Alvin? Kejadian itu sudah berlalu lama sekali, kamu juga sudah dewasa sekarang. Seharusnya kamu bisa bersikap lebih dewasa. Sedikit pun Mommy tidak pernah membenci kamu, Mommy sayang sama kamu, Alvin." Lirih Nyonya Rieta, tapi ucapannya di abaikan oleh sang putra. Alvin bahkan tidak menoleh sedikit pun, dia berjalan dengan langkah kaki gontai meninggalkan sang ibu tiri sendirian.
Ya ... Dia memang sudah dewasa sekarang. Apa yang di katakan oleh ibu tirinya itu memang benar adanya bahwa dirinya harus bersikap lebih dewasa. Akan tetapi, Alvin mengakui bahwa dia masih belum bisa melupakan kejadian itu, kejadian yang sangat menyakitkan. Diam-diam Alvi menyimpan luka yang mendalam tanpa di ketahui oleh siapapun.
__ADS_1
'Ibu saya hanya satu, yaitu ibu Anisa,' batin Alvin seketika merindukan sosok sang ibu.
.
Di tempat yang berbeda. Lian merengek seperti biasa. Anak itu selalu drama setiap paginya ketika Alena hendak berangkat ke kampus. Alena pun sudah terbiasa menghadapi sikap sang putra yang tidak ingin di tinggalkan barang sedetik pun.
"Dede, mau ikut sama kaka tidak? Nanti siang kaka mau jalan-jalan sama Om ganteng," ujar Lani mencoba untuk membujuk sang adik agar mau turun dari dalam gendongan sang ibu.
"Om ganteng itu siapa, Kaka? Aku gak kenal?" tanya Lian dengan suara khasnya.
"Ya ampun Dede, masa gak kenal sama Om ganteng? Itu lho pacarnya Mommy, calon Daddy baru kita! Dede mau 'kan punya Daddy baru yang baik dan ganteng seperti Om Alvin?"
Alena sontak membulatkan bola matanya merasa terkejut tentu saja.
Calon Daddy baru? Dari mana putrinya itu tahu tentang hal itu? Alena seketika melirik dan menatap wajah sang kaka yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Abaaaang!" decak Alena mengusap wajahnya kasar. Dia yakin betul bahwa ini adalah ulah sang kakak.
__ADS_1
BERSAMBUNG