
Alvin dan juga Alena sontak melepaskan tautan bibirnya masing-masing. Keduanya menoleh dan menatap wajah sang putri yang saat ini berdiri tepat di depan pintu seraya mengusap kedua matanya, sepertinya kesadaran gadis kecil itu masih belum sepenuhnya pulih usai tertidur walau hanya sekejap mata.
"Lani?" sapa Alena mengusap ujung bibirnya yang masih terasa basah oleh saliva.
Sedangkan Alvin, wajah laki-laki itu seketika memerah merasa salah tingkah tentu saja. Lani tiba-tiba saja sudah berada di belakang mereka bahkan melihat apa yang sedang keduanya lakukan, sungguh hal yang sangat mengejutkan. Dirinya benar-benar merasa malu bukan kepalang.
"Mommy! Gendooong!" rengek Lani seraya membuka mulutnya lebar-lebar menahan rasa kantuk.
"Hmm! Putrinya Mommy, kamu masih ngantuk ya?" lirih Alena mencoba untuk bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Wanita itu menggendong tubuh Lani, dia pun kembali duduk di tempat yang sama bersama sang putri di dalam pangkuannya kini. Gadis kecil itu nampak kembali memejamkan kedua mata, dia kembali terlelap seketika itu juga.
'Semoga saja dia tidak melihat apa yang sedang kami lakukan,' batin Alvin menatap wajah Lani lekat, dia pun mengusap kepala gadis kecil itu lembut dan penuh kasih sayang.
"Eu ... Len, Lani gak lihat apa yang kita lakukan tadi 'kan?" bisik Alvin membuat Alena seketika tersenyum manis.
"Mudah-mudahan saja. Sepertinya dia juga masih ngantuk berat," jawab Alena dengan nada suara pelan.
"O iya, Fazri gimana? Dia pasti nungguin kita di hotel. Astaga, kenapa kita sampai lupa mengabari dia."
"Coba Mas telpon dia, katakan bahwa kita sudah menemukan Lani. Abang pasti khawatir karena kita tidak kunjung kembali ke hotel."
__ADS_1
Alvin menganggukkan kepalanya. Dia pun meraih ponsel dari dalam saku celana yang dia kenakan dan mengirimkan pesan teks kepada calon kakak ipar, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya sendiri. Tidak perlu menunggu waktu lama, sang calon kakak ipar pun membalas pesan yang dia kirimkan.
"Fazril sudah membalas, Len. Katanya dia akan beristirahat di hotel dan balik ke kota nanti malam," ujar Alvin. Laki-laki itu tiba-tiba saja mengarahkan ponsel miliknya ke arah Alena.
Cekrek!
Diam-diam Alvin mengambil poto Alena dari arah samping. Dia pun tersenyum kecil menatap wajah cantiknya, wanita yang telah resmi menjadi kekasihnya.
'Tidak, dia bukan hanya kekasih, tapi juga calon istri saya,' batin Alvin. Dia menjadikan potret Alena sebagai wallpapers di ponsel canggih miliknya itu.
"Len, kalau kamu mau pulang duluan saya gak apa-apa ko di tinggal. Maaf, bukan maksud saya untuk mengusir kamu, tapi sepertinya saya akan menghabiskan beberapa hari di sini. Sebenarnya saya senang sekali jika kamu tinggal bersama saya di sini, tapi kasihan Lian. Dia pasti nyariin kamu. Saya janji akan menghubungi kamu jika saya sudah kembali ke kota."
"Aku baru saja mau mengatakan hal itu, Mas. Aku akan pulang bersama Abang, eu ... Aku benar-benar berterima kasih karena Mas Alvin telah menemani aku sejauh ini. Mas mengorbankan waktu dan tenaga untuk menemani dan membantuku dalam mencari Lani, jujur aku beruntung ketemu sama laki-laki seperti kamu, Mas Alvin. I love you," lirih Alena lembut, kedua matanya menatap sayu wajah Alvin.
"Sama-sama, Len. Saya senang bisa melakukan hal ini. Membantu dan mendampingi kamu, saya akan melakukannya setiap saat mulai saat ini. Kamu, kedua anak kamu akan menjadi tanggung jawab saya. I love you too, Alena."
Cup!
Satu kecupan mendarat di pucuk kepala Alena. Wanita itu seketika memejamkan kedua matanya merasa bahagia, sangat-sangat bahagia.
.
__ADS_1
Satu minggu berlalu. Lian sudah membaik dan diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Alena pun sudah beraktivitas normal, menjalani hari-harinya sebagai salah satu mahasiswi kedokteran di salah satu Universitas negeri di kota itu.
Akan tetapi, Alena dilanda rasa gundah. Alvin masih belum juga memberinya kabar, dia bahkan tidak tahu apakah laki-laki itu sudah kembali ke kota, atau belum. Alena benar-benar dilanda rasa rindu yang terasa menyiksa, dia berjalan menuju ruangan kelasnya dengan langkah kaki gontai merasa tidak memiliki semangat untuk belajar.
"Alena!" Terdengar suara laki-laki yang memanggil namanya.
Alena sontak menoleh dan menatap wajah laki-laki itu. Perasaan seorang Alena semakin merasa kesal saja kini, karena yang memanggil bukanlah laki-laki yang dia harapkan melainkan laki-laki bernama Putra. Dia menghentikan langkah kakinya dengan perasaan malas.
"Ada apa, Putra?" tanya Alena dengan nada suara dingin.
"Apa malam ini kamu ada acara? Saya mau mengajak kamu makan malam," tanya Putra sudah berada di hadapan Alena kini.
"Maaf, tapi aku sibuk," jawab Alena hendak pergi, tapi pergelangan tangannya seketika di tarik kasar oleh laki-laki itu.
"Tunggu, Alena."
Wanita itu sontak menepis kasar telapak tangan Putra, membuat laki-laki itu seketika tersenyum menyeringai seraya menatap wajah Alena dengan tatapan mata mengejek.
"Jangan so jual mahal, Alena. Kamu itu hanya seorang janda, dengan 2 anak pula. Janda aja ko sombongnya melebihi anak perawan," ketus Putra membuat Alena merasa tidak terima tentu saja.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...**********...