
"Pihak kepolisan sudah menangkap Mas Vian, sekarang kita di suruh ke sana untuk memberikan keterangan. Terutama aku yang menjadi saksi atas kejadian kemarin itu," jawab Alena, akhirnya dia bisa bernapas lega karena mantan suaminya itu tidak akan pernah mendapatkan hak asuh jika dia tercatat sebagai mantan narapidana nantinya.
"Alviano di tangkap? Tunggu! Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa di tangkap? Apa ada yang belum kalian ceritakan sama saya?" tanya Fazril seketika mengerutkan kening.
Alvin menceritakan apa yang telah dilakukan oleh Alviano kepada dirinya. Dari A sampai Z tidak ada satu pun yang dia lewatkan. Fazril nampak mengerutkan kening. Laki-laki itu merasa tidak habis pikir, kenapa mantan suami dari adiknya itu bisa melakukan hal keji seperti ini? Melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib adalah tindakan yang tepat menurutnya.
"Brengsek! Kurang ajar sekali si Alviano itu. Andai saja Abang ada di sana kemarin, sudah Abang habisi laki-laki itu!" geram Fazril mengepalkan kedua tangannya.
"Ya sudah, kita ke kantor polisi saja kalau begitu. Abang mau ikut, apa mau istirahat di sini?"
"Apa maksud kamu? Tentu saja Abang ikut. Abang ingin lihat wajah memelasnya mantan suami kamu itu."
"Oke, kita ke sana sekarang."
Mereka pun bangkit secara bersamaan dan keluar dari dalam Restoran menuju kantor polisi di mana Alviano di tahan.
__ADS_1
* * *
Di kantor polisi.
Alviano masih bersikukuh bahwa dirinya tidak bersalah. Dia mengabaikan kenyataan bahwa dirinyalah yang memulai perkelahian. Laki-laki itu benar-benar menunjukkan bahwa dirinya telah berubah menjadi manusia yang tidak bermoral.
"Saya tidak salah, Pak. Ini hanya perkelahian biasa, dianya saja yang terlalu membesar-besarkan masalah ini!" Ujar Alvin masih bersikukuh.
"Bohong, Pak. Semua itu tidak benar!" Teriak Alena masuk ke dalam kantor polisi di temani oleh sang kaka juga Alvin yang berjalan dibelakangnya kini.
"Saya saksinya, Pak. Laki-laki ini adalah mantan suami saya. Dia yang memukul Alvin terlebih dahulu, Alvin bahkan tidak melawan. Mantan suami saya memukuli Alvin secara membabi buta!" Tegas Alena, bola matanya memerah menatap wajah Alviano dengan tatapan mata tajam penuh rasa dendam.
"Kamu membela dia, Lena? Kamu tahu apa alasan saya memukul dia?"
"Tentu saja aku tahu, Mas. Kamu cemburu, kamu juga marah karena aku menolak untuk kembali rujuk sama kamu, iya 'kan?"
__ADS_1
Alviano mendengus kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya yang saat ini masih di borgol. Laki-laki yang tahun ini genap berusia 32 tahun itu pun bisa melihat kebencian dari pancaran mata Alena, mantan istrinya. Sepertinya wanita itu tidak akan pernah mau untuk rujuk dengannya, melihat betapa bencinya Alena terhadap dirinya.
"Jadi bagaimana, apakah penggugat akan menempuh jalur damai? Atau akan memproses laporan ini?" tanya petugas polisi menatap wajah Alvin sang pelapor.
"Tentu saja saya akan melanjutkan proses laporan saya, Pak. Jika tindakan penganiayaan bisa di maafkan begitu saja, maka makin banyak orang di luaran sana yang akan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Saya sebagai pelapor, ingin laki-laki bernama Alviani ini di hukum sesuai dengan hukum yang berlaku di negeri ini!"
'Dengan di penjara, laki-laki ini tidak akan bisa menganggu wanita yang saya cintai lagi,' batin Alvin menatap tajam wajah Alviano seraya tersenyum menyeringai.
"Dasar brengsek. Lihat saja, aku akan membalas perbuatan kamu, Alvin. Aku akan menghabisi kamu jika aku sudah keluar dari dalam penjara!" Geram Alviano merasa tidak terima.
"Pak, bisa saya tambahkan laporan saya? Saya juga akan melaporkan laki-laki ini atas dugaan pengancaman dan tindakan yang tidak menyenangkan, bapak-bapak sendiri yang menjadi saksinya, bapak mendengar sendiri dia mengancam saya barusan!" tegas Alvin penuh penekanan juga tersenyum merasa puas.
'Brengsek kamu Alvin. Awas saja aku bersumpah akan menghabisi nyawa kamu jika saya sudah keluar nanti,' batin Alviano diliputi rasa dendam.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...