
Fazril sontak mengurai jarak dengan Nuri. Sedangkan gadis itu seketika berdiri tegak dengan kepala tertunduk malu dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi relung hatinya kini. Apa yang akan terjadi dengan hubungannya sekarang? Kenapa Nyonya besarnya bisa berada di sana?
"I-ibu? Se-dang apa Ibu di sini? Ka-kapan ibu datang?" tanya Fazril terbata-bata merasa terkejut tentu saja.
"Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan ibu? Siapa yang pacaran dengan siapa?" Nyonya Inggrid berjalan menghampiri.
"Eyang! Kapan Eyang datang? Kenapa gak bilang ke aku kalau Eyang juga akan menyusul Mommy ke sini," teriak Lani segera berlari menghampiri sang nenek.
"Bagaimana kabar kamu, sayang? Eyang mengkhawatirkan kamu, makannya Eyang datang ke sini."
"Yeeey! Kita jadi pergi liburannya rame-rame dong."
"Lani sayang, kamu main sama Mbak Nuri dulu ya, ada yang ingin Eyang bicarakan sama Om Fazril. Sebentar aja."
"Baik, Eyang," jawab Lani patuh, dia pun segera menghampiri Nuri yang saat ini masih berdiri dengan tubuh yang gemetar.
"Sa-saya per-misi, Nyo-nyonya," pamit Nuri membungkuk hormat lalu pergi dari hadapan mereka bersama Lani.
Sepeninggal mereka berdua, kini tinggallah sang ibu bersama putranya. Fazril terlihat gugup, sementara Nyonya Inggrid duduk di kursi kayu tempat di mana Nuri duduk sebelum gadis itu pergi.
"Ibu kenapa gak bilang dulu kalau mau datang? Saya 'kan bisa jemput ibu di bandara," tanya Fazril duduk di kursi yang berbeda.
__ADS_1
"Jawab pertanyaan ibu, Fazril. Kamu pacaran sama siapa?"
Fazril menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal seraya tersenyum cengengesan. Dia tidak tahu harus memulainya dari mana. Dia pun bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada sang ibu.
"Kenapa diam saja? Jangan bilang kalau kamu pacaran sama asisten rumah tangga kita?" tanya Ibu seketika mengerutkan kening, berharap bahwa apa yang dia katakan tidaklah benar.
Fazril menarik napas berat lalu menghembuskannya secara perlahan juga memejamkan kedua matanya. Dia mencoba untuk mengisi paru-parunya dengan cukup oksigen agar dirinya bisa menjelaskan semuanya secara lancar dan gamblang tanpa ada yang perlu di tutup-tutupi lagi. Laki-laki itu pun kembali membuka kedua matanya lalu menatap wajah sang ibu. Dia meraih telapak tangan Nyonya Inggrid lalu menggenggamnya erat.
"Saya akan mengatakan semuanya sama ibu, tapi ibu harus berjanji kalau ibu tidak akan terkejut nantinya."
Ibu balas menatap wajah Fazril lekat. Bola matanya nampak sayu menatap wajah sang putra. Wajahnya yang sudah sedikit berkeriput tidak mengurangi aura yang terpancar dari wajahnya, kecantikan itu masih membekas dari wajah wanita berusia awal 50-han itu.
"Saya mencintai Nuri, bu."
"Ibu pasti terkejut bukan?"
Ibu diam membisu, dia yang semula menatap lekat wajah sang putra kini mengalihkan pandangan matanya menatap ke arah lain.
"Saya harap ibu merestui hubungan kami, bu. Saya yakin ibu adalah ibu yang baik, ibu yang akan mengikuti keinginan anaknya demi kebahagiaan saya. Ibu pasti bertanya-tanya, dari sekian banyak wanita cantik, wanita hebat yang berada di luaran sana, kenapa saya harus jatuh cinta kepada Nuri yang notabenenya hanya seorang asisten rumah tangga?"
Ibu kembali menoleh dan menatap wajah Fazril dengan tatapan mata sayu. Sebenarnya dia ingin memiliki seorang menantu yang dapat di banggakan. Menantu yang dapat dia pamerkan kepada teman-teman sosialitanya, baik itu memamerkan kecantikan, pendidikan maupun prestasi yang di miliki oleh sang menantu kelak. Jika Fazril menikah dengan Nuri, apa yang bisa dia banggakan dari menantunya?
__ADS_1
"Sejak kapan kamu pacaran sama si Nuri?" tanya ibu singkat.
"Belum lama ini, bu. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama gadis itu."
"Kenapa harus dia? Kenapa harus Nuri, Zril?"
"Karena hanya dia wanita yang mampu menggetarkan hati saya bahkan saat pertama kali saya bertemu dengan dia, bu. Saya cinta sama Nuri tidak peduli dengan status dia, pekerjaan dia bahkan saya pun tidak masalah meskipun dia bukan berasal dari keluarga terpandang."
Ibu menatap lekat wajah sang putra dengan tatapan mata sayu. Jelas sekali terlihat dari raut wajahnya bahwa wanita paruh baya itu merasa kecewa dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang putra. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun, menentang pun tidak ada gunanya dia rasa.
"Saya tahu ibu pasti merasa kecewa, saya tahu ibu ingin seorang menantu yang berasal dari keluarga berada juga keluarga terpandang, tapi saya harap ibu bisa mengerti bahwa pekerjaan Nuri saat ini hanya sementara. Statusnya pun akan berubah jika dia sudah menikah dengan saya, dia akan menjadi Nyonya Fazril, menantu dari Nyonya Inggrid. Bukankah hal itu akan mengangkat harkat dan derajatnya dia juga?" jelas Fazril tersenyum kecil.
Laki-laki itu mengusap punggung tangan ibu dan mengecupnya kemudian. Dia berharap bahwa sang ibu akan memberikan restunya. Fazril yakin ibunya itu bukanlah wanita yang akan menghalangi kebahagiaan putra-putrinya.
"Hmm! Walaupun berat sekali sebenarnya, tapi ibu akan mencoba untuk menerima siapapun wanita yang akan menjadi istrimu. Seperti apapun wanita itu, apapun pekerjaannya dan dari keluarga manapun dia berasal. Asalkan kamu bahagia, Nak. Bagi ibu, kebahagiaan adalah nomor satu. Meskipun ibu berharap kamu memiliki istri yang berasal dari keluarga terpandang, tapi apalah daya. Jika kamu sudah melabuhkan hati kepada seorang asisten rumah tangga, ibu akan berusaha untuk menerima dia sebagai calon menantu ibu," jawab ibu dengan berat hati.
"Jadi, ibu merestui hubungan kami?"
Nyonya Inggrid menganggukkan kepalanya samar.
"Terima kasih, bu. Terima kasih karena telah merestui hubungan kami," lirih Fazril segera memeluk tubuh sang ibu, tanpa terasa bola matanya seketika memerah menahan rasa haru.
__ADS_1
BERSAMBUNG