Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Kesempurnaan Hanya Milik Tuhan Yang Maha Esa


__ADS_3

Fazril mendekap erat tubuh Nuri. Hati dan perasaanya benar-benar sedang tidak baik-baik saja saat ini. Mengingat betapa menderitanya Alena sang adik tercinta kala itu membuat rasa sakit itu kembali terasa kian menyiksa.


Nuri diam membeku. Dia pun balas memeluk tubuh Fazril erat seraya mengusap punggungnya lembut dan penuh kasih sayang. Sepertinya dia tidak salah dalam melabuhkan hatinya kepada laki-laki ini. Karena jika seorang laki-laki mampu bersikap baik kepada ibu dan adik perempuannya, maka dia pun akan melakukan hal yang serupa kepada istrinya kelak.


Jika seorang laki-laki sangat menghormati ibunya, maka laki-laki itu pun akan menghormati istrinya. Laki-laki yang baik itu adalah laki-laki yang bisa menghargai kaum perempuan. Semua itu ada pada laki-laki bernama Fazril. Nuri merasa beruntung karena memiliki kekasih seperti dia. Dirinya pun berharap, hubungan keduanya bisa berjalan lancar dan mendapatkan restu dari Nyonya serta Tuan besarnya.


"Bagaimana keadaan Nyonya? Beliau pasti syok sekali. Maaf aku ndak bermaksud untuk menguping pembicaraan kalian tadi," tanya Nuri memejamkan kedua matanya kini.


"Ibu sedang beristirahat di kamar. Beliau syok, saya yang salah seharusnya saya memberitahukan hal ini dari semalam," jawab Fazril juga memejamkan kedua matanya.


"Mas Fazril tidak salah sama sekali. Semua ini takdir, beruntung takdir segera memperlihatkan siapa wanita itu sebenarnya."


Keduanya pun mulai mengurai pelukan. Fazril menatap wajah Nuri dengan bola mata memerah. Wajahnya terlihat murung tidak seceria biasanya.


Nuri balas menatap wajah kekasihnya. Kedua tangannya seketika bergerak mengusap kedua sisi rahang laki-laki itu. Senyuman manis pun dia perlihatkan, senyuman yang benar-benar mampu membuat hati dan perasaan seorang Fazril benar-benar merasa tenang.


"Sudah jangan murung kayak gini, Mas. Gantengnya Mas hilang lho kalau murung kayak gini," lirih Nuri mencoba untuk menghibur.


"Masa sih? Ketampanan saya ini mutlak, tidak mungkin akan berkurang hanya karena saya memasang wajah murung kayak gini."


"Ish! Dasar, percaya diri sekali kamu, Mas."

__ADS_1


"Tentu saja, kamu beruntung punya kekasih seperti saya. Ibarat makanan, saya ini paket komplit, empat sehat lima sempurna. Berpacaran dengan saya kamu pasti sehat."


"Hah? Hahahaha! Mas Fazril bisa saja," decak Nuri seketika menutup mulutnya menggunakan telapak tangan juga tertawa nyaring.


"Saya akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan tentang hubungan kita kepada ibu. Kamu sabar dulu ya, saat ini ibu masih syok. Beliau akan semakin syok jika sampai tahu bahwa ternyata saya berpacaran dengan kamu."


"Iya, Mas. Kita jalani saja dulu. Anggap saja ini adalah masa penjajakan untuk kita. Sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius, ada baiknya kita saling mengenal sifat masing-masing terlebih dahulu."


"Tapi saya serius lho sama kamu."


"Iya, aku juga tahu."


"Tapi aku hanya orang yang ndak punya, Mas. Kedua orang tua aku hanyalah seorang petani biasa. Apa Nyonya dan Tuan besar akan merestui kita nantinya? Mengingat keluarga Mas berasal dari--"


"Sttt! Jangan pernah berbicara seperti itu, Nuri. Saya tidak pernah mengkastakan manusia. Mau dari kalangan atas maupun bawah sama saja bagi saya. Mau petani ataupun pegawai negeri tidak ada bedanya untuk saya. Yang terpenting adalah, saya mencintai kamu begitupun sebaliknya," sela Fazril memotong ucapan Nuri kekasihnya.


"Terima kasih karena Mas Fazril sudah mengatakan hal itu. Aku janji akan siap kapan pun Mas mau melamar aku."


"Nah begitu dong, saya 'kan jadi senang mendengarnya."


Nuri tersenyum merasa senang. Dia pun menyandarkan kepalanya di pundak laki-laki itu. Jujur, hatinya benar-benar merasa bahagia. Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta. Dunia terasa milik berdua.

__ADS_1


Cup!


Satu kecupan pun mendarat di pucuk kepala Nuri. Gadis itu semakin merasa bahagia tentu saja. Hal yang sama pun di rasakan oleh Fazril kini. Dia merasa telah menemukan wanita yang tepat, meskipun jauh dari kriteria wanita idamannya selama ini.


Akhirnya laki-laki itu sadar, bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap kekurangan pasti ada kelebihan. Kecantikan, kekayaan, bahkan kedudukan dan pendidikan yang tinggi tidak menjamin seseorang memiliki budi pekerti yang baik. Semua itu tidak menjamin seseorang memiliki sifat dan sikap yang baik. Kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa.


"Om Fazril, hiks hiks hiks!" Tiba-tiba terdengar suara Lani menangis sesenggukan seraya berjalan menghampiri membuat keduanya seketika mengurai jarak di antara mereka.


"Lani sayang, kamu kenapa?" tanya Fazril seketika merasa khawatir.


"Aku mimpiin Dede Lian, Om. Aku kangen sama dia. Aku juga kangen sama Mommy, kenapa Mommy perginya lama sekali? Antarkan aku kepada Mommy dan Daddy sekarang juga, Om. Hiks hiks hiks!"


"Ya ampun keponakannya Om. Sini sayang Om gendong," ucap Fazril bangkit lalu meraih tubuh sang keponakan dan menggendongnya kemudian.


"Om, aku minta tolong. Antarkan aku ke tempat Mommy dan Daddy sekarang juga. Aku kangen sama mereka."


"Tapi mereka sedang berada di tempat yang jauh, sayang. Tidak mungkin pergi ke sana sekarang juga."


"Gak mau, pokoknya aku ingin ketemu sama Mommy, huaaaa!" Lani tiba-tiba saja berteriak histeris.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2