Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Serius?


__ADS_3

Baik Nuri maupun Fazril seketika merasa terkejut ketika mendengar suara Alena yang terdengar melengking juga memekikkan telinga. Keduanya sontak menoleh dengan wajah memerah. Fazril tersenyum cengengesan, sementara Nuri menunduk merasa malu.


"Apa yang sedang kalian lakukan? Abang, jelaskan kepadaku kenapa kalian--" Alena tidak meneruskan ucapannya. Dirinya terlalu syok atas apa yang dia liat dengan kedua matanya itu.


"Tenang, Lena. Jangan terkejut seperti itu, Abang akan jelaskan semuanya sama kamu sekarang juga," jawab Fazril santai. Dia pun berbalik dan berjalan ke tepi kolam lalu naik ke daratan bersama Nuri. Fazril meraih handuk kimono lalu memakainya kemudian.


"Kalian pacaran?" tanya Alena dengan nada suara lantang.


"Yups!"


"Serius?"


"2 rius!"


"Astaga, Abang," decak Alena mengusap wajahnya kasar seraya tersenyum cengengesan.


"Kamu menertawakan Abang?" tanya Fazril merasa kesal.


"Tidak, siapa yang menertawakan Abang?"


"Nah itu senyum-senyum sendiri?"


"Lebih baik Abang minta pacar Abang ini untuk berganti pakaian dulu, atau setidaknya beri dia handuk. Kasihan, Mbak Nuri kedinginan itu. Gak peka banget sih jadi cowok."


"O iya Abang sampai lupa. Maaf ya sayang, Mas lupa. Pakai handuk ini, sayang." Fazril meraih handuk lalu melingkarkan di bahu Nuri, agar gadis itu tidak terlalu kedinginan.

__ADS_1


"Sayang? Mas? Hahahaha!" decak Alena tersenyum menertawakan, baru kali ini dia melihat sang kaka memperlakukan seorang wanita dengan begitu manis, bahkan memanggilnya dengan sebutan sayang. Jujur, Alena seketika merasa geli.


"Ketawa aja terus."


"Nggak, siapa yang ketawa? Abang itu so sweet tau, uhuk!" Alena pura-pura terbatuk.


"Ish! Dasar adik tidak sopan. Eu ... Nuri, lebih baik kamu ganti pakaian kamu. Saya tidak mau kalau sampai kamu masuk angin nantinya."


"Baik, Den. Eu ... Saya permisi, Non," jawab Nuri membungkuk sopan sebelum akhirnya dia benar-benar meninggalkan mereka berdua dengan perasaan malu yang terasa menjalar di sekujur tubuhnya.


Sepeninggal Nuri, Kaka beradik itu pun duduk di kursi kayu yang berada tepat di tepi kolam. Alena seketika merubah raut wajahnya menjadi serius. Dia menatap wajah sang kakak dengan tatapan mata tajam.


"Abang serius berpacaran sama Mbak Nuri? Atau, Abang hanya main-main dengan dia hanya karena Mbak Nuri itu gadis polos yang berasal dari kampung?" tanyanya kemudian.


"Bagaimana keadaan Lani? Apa dia masih rewel?" Fazril balik bertanya terkesan menghindar.


"Ck! Ck! Ck! Kalau bertanya itu satu-satu dong, gimana sih?" decak Fazril menggelengkan kepalanya.


"Udah jangan berbelit-belit, jawab saja semua pertanyaan aku."


"Oke, sepertinya kamu penasaran banget. Hmm! Di mulai dari pertanyaan pertama, jawabannya adalah, iya ... Abang pacaran sama Nuri, asisten rumah tangga kita dan Abang sangat mencintai dia, Abang juga serius dengan hubungan ini, puas?"


Alena seketika menutup mulutnya menggunakan telapak tangan juga membulatkan bola matanya lebar-lebar. Rasanya sangat tidak masuk akal, seorang Fazril yang selama ini memasang standar yang tinggi untuk wanita yang akan menjadi calon istrinya, ternyata berpacaran dengan seorang asisten rumah tangga.


'Waah! Benar-benar di luar dugaan,' batin Alena merasa terkejut.

__ADS_1


"Sekarang pertanyaan kedua, Abang menolak perjodohan ini dan ibu sama ayah belum tahu tentang hubungan Abang sama Nuri. Sekarang puas dengan semua jawaban Abang?" jelas Fazril.


"Tunggu! Aku masih belum mengerti, kenapa Abang menolak perjodohan itu? Apa gadis itu tidak secantik Nuri? Meskipun begitu, dari yang aku dengar kalau gadis yang dijodohkan sama Abang itu putrinya kawan ayah. Dia berasal dari keluarga terpandang lho. Pendidikan dia juga pasti tinggi dong. Bukankah Abang selalu menekankan bahwa yang namanya, bibit, bebet, bobot itu penting dalam hal mencari seorang istri? Maaf, aku tidak bermaksud merendahkan Nuri, sedikit pun tidak. Hanya saja, rasanya tidak masuk akal," tanya Alena panjang lebar.


"Kamu ingin tahu jawabannya? Penasaran banget, apa penasaran aja?" Fazril sedikit bercanda.


"Ish, aku serius Bang. Malah di bercandain gitu sih? Dasar nyebelin," decak Alena merasa kesal.


"Dengarkan Abang, Lena. Abang sadar, bahwa cinta itu tidak memandang kasta. Cinta juga tidak bisa memilih kepada siapa kita akan melabuhkan perasaan kita. Cinta datang secara tiba-tiba tanpa di duga, Abang berharap bahwa Abang tidak salah dalam melabuhkan cinta Abang kepada Nuri, meskipun ... Nuri jauh dari kriteria wanita idaman Abang."


"Kamu tahu, Nuri itu gadis yang spesial. Ya ... Meskipun dia hanya seorang asisten rumah tangga. Lagi pula pekerjaan itu hanya sementara ko, karena apa? Karena dia akan segera menjadi Nyonya Fazril, hahahaha!" Jelas Fazril panjang lebar dan di tutup dengan tertawa nyaring, terlihat begitu bahagia.


Alena tersenyum senang. Akhirnya sang kakak telah menemukan wanita yang dia cintai. Satu harapannya saat ini, semoga saja ayah dan ibunya memberikan restu kepada mereka berdua dan sang Kaka bisa segera melenggang ke jenjang pernikahan.


"Sekarang ceritakan kepadaku, seperti apa gadis yang dijodohkan sama Abang itu? Kenapa Abang lebih memilih Nuri di bandingkan gadis itu?" tanya Alena benar-benar merasa penasaran.


"Kamu yakin ingin tahu siapa wanita itu? Kamu pasti akan sangat terkejut saat mendengar namanya."


Alena mengerutkan kening merasa tanda tidak mengerti.


"Dia adalah, wanita yang telah merusak rumah tangga kamu dengan si Alviano."


"Aprilia?"


Fazril menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2