
Part 8
***
Keluarga kecil yang Rukun dan harmonis, bisa hancur karena perdebatan-perdebatan kecil yang tidaklah penting. Tapi ini lain Bram telah menghamili perempuan itu, Sebenarnya Mas Bram adalah pria yang Romantis dan penyayang, bersamanya aku lupa bagaimana caranya menagis,
Delapan tahun menikah, baru kali ini Bram menyakiti hati Mitha, tapi kenapa? Ini soal yang ada diperut itu Dia tak berdosa ia harus mendapatkan perhtian dari Ayahnya biologisnya, dengan cepat Mitha menghapus air matanya.
Mobil terparkir didepan Rumah sang Eyang, mereka masuk dan Sang Eyang menyambutnya dengan sangat senang. Sang Eyang bahagia andai mereka tak berpisah, Tapi kenyataannya lain sebentar lagi mereka akan berpisah,
"Pagi Mama?" sapa Mitha sambil membawakan sang mama oleh-oleh Buah dan juga kue kering.
"Pagi sayang, gimana hari ini sehat?" jawab sang Mama, setelah selesai mencium kedua pipi menantunya.
"Alhamdulillah sehat Ma, Mitha baik." ucap Mitha pada sang Mama.
Alhamdulillah
"Fiko Mana Ma? Kok sepi!" tanya Mitha sambil mencari keberadaan Fiko tak kunjung ia temukan.
"Fiko lagi ngutusin lomba kejuaraan sayang, diluar kota Apa Di luar negri gitu katanya," jawab Mama mertuanya yang tidak tahu jadwal anaknya Fiko.
"Memang Fiko ndak Mau Ma kerja dikantor Mama?" tanya Mitha.
"Mau sih sayang tapi ndak terjun langsung dilokasi, Dia bantuin Mama ngerjain file dirumah." jawab mertuanya.
"Oh Gitu Ma," ucap Mitha sambil menggangguk yang berarti mengerti ucapan sang Mama.
"Iya sayang, Mama ndak ngelarang Apa yang jadi hobbi nya Adik kamu, Asal Fiko mau bantuin Mama kerja, Katanya Ribet kalau harus kekantor, semalam Mama tungguin sampai larut malam ngerjain laporan Mama," ucap sang Mama.
"Mitha pikir Cuma jadi pesilat saja Ma," ucap Mitha sambil tersenyum.
"Ya ndak, Sudah waktunya menikah itu adikmu juga belum siap."
"Kan Masih muda Ma jangan disuruh nikah dulu, biarkan tumbuh dewasa dari pada menikah muda nanti salah-salah jadi duda."
"Kamu itu Tha pikirannya kejauhan, yang namanya orang ya sifatnya berbeda-beda, meskipun satu rahim, belum tentu sama sifatnya Tha."
"Hmmm Iya Ma," jawab mitha tersenyum.
Bram yang mendengarkan percakapan Mitha dan Mamanya wajahnya memanas, tanparan itu kembali menyerup hatinya, ia tak bisa berkata apa-apa lagi hanya Diam. Kesalahanya mungkin sudah diluar batasan.
Raka dan Rania bermain di halaman belakang, Ditemani sang Mama juga Mitha, Bram memandagi wajah istrinya dari jauh, wajah cantik yang penuh luka, luka karena dirinya, kenapa Bram baru sadar bahwa perselingkuhanya akan membawa kehancuran keluarga kecilnya.
Fiko memarkirkan motor N**ja kesayanganya dilihatnya Mobil Mas Bram, ia lalu berjalan gontai menuju rumahnya dilihtnya sang kakak duduk di sofa dekat TV. Ia lalu menghampiri sang Kakak.
"Sudah lama Mas?" tanya Fiko pada sang Kakak, Fiko berjalan mendekati sang kakaknya duduk dikursi.
"Lumayan sudah dari pagi, Kata Mama mau bertanding lagi? diluar kota apa dimana?"
Tanya Bram pada Fiko.
"Iya Mas Bram, ini lagi Ambil formulirnya, rencana mau keluar Kota." nanti sore berangkat.
"Iya semangat ya, mudah-mudahan menang." ucap Bram menyemangati adiknya.
"Aamiin Makasih do'anya Mas, hanya do'a Mas yang bisa membantu Fiko.
"Iya Sama-sama, ucap Bram pada adiknya.
Tanpa sadar pandangan Fiko beralih ke kakak ipar yang begitu cantik menggunkan jilbab hijau botol, ada desiran halus dari dalam hatinya, lalu ia tepis sendiri, ada yang aneh pada dirinya, Menjauhlah dari tubuhku Aku hanya seorang adik dan itu tidak akan pernah terjadi, aku mohon yang didalam sana berhentilah berdetak. Guman Fiko dalam hati.
Bram yang melihat adiknya melamun menepuk pundaknya, Fiko kaget lalu
__ADS_1
beranjak menuju sang keponakan.
"Om Fiko sudah pulang? Tanya Rania sambil memeluk pamannya.
"Iya sudah Rania, jawab Fiko dan diakiri dengan pelukan hangat dari keponakannya.
"Om Fiko ndak bawa es krim," ucap Rania memohon dibelikan Es krim kesukaanya.
"Ndak, Om ndak tau kalau Rania kesini, jadinya Om pulang ya ndak bawa apa apa to."
"Beli yuk Om Fiko?"
"Ayo,Rania Mau? Ayo kita beli diluar ya? sama Om Fiko?" ucap Fiko sambil menggendong Rania keluar rumah.
"Raka juga ikut Om, ucap Raka sambil berlari mengejar pamannya.
"Baiklah ayo berangkat," ucap Fiko pada kedua keponakkannya.
Fiko mengajak mereka keluar, Bram melihatnya dengan sangat sedih anaknya sudah sedikit menjauh darinya posisinya sudah tergantikan, mereka lebih nyaman sama Fiko dari pada, Bram yang tak lain adalah Ayah kandungnya.
Sementara Mitha membantu Mamanya memasak, selang beberapa jam masakan telah siap dimeja makan, mereka bersama-sama menikamati hidangan hingga habis, Mitha membersihkan sisa makanan dan mencucinya, Mitha duduk digazebo belakang, ia sambil memadangi dan memberi makan ikan yang ada dikolom belakang,
"Mbak Mitha, kata Mama Mbak mau pulang kerumah ayah ya dikampung?" tanya Fiko kepada Mitha.
"Iya Fiko, Mbak butuh sendiri dulu," Mba harus bisa menata hati mbak dulu.
"Besuk Mbak, tapi balik kesini lagi ndak Mbak? Tanya Fiko penasaran.
"Mbak juga belum tau Fiko, pasti mbak balik ko ada beberapa pekerjaan yang belum mbak selesaikan.
"Kalau Fiko kangen sama Raka juga Dania bagaimana Mbak?" tanya Fiko.
"Ya main kesana saja orang ndak jauh ini, paling juga lama-lamanya tiga jam an lah.
"Ayah Mbak pindah Fiko, Dinganjuk fiko, sudah tiga bulan yang lalu.
"Oh, terus rumah yang disini Mbak?" Terus restonya?
"Ya dikelola sama Bibi Mbak, Ayah cari suasana baru Ko cari yang udaranya dingin juga yang dipedesaan.
"Baiklah nanti shrelok Mbak ya, insyaAlloh kalau Fiko lewat nanti mampir ke rumah Ayah Mbak Mitha.
"Oke Fiko.
Sang Mama memperhatikan Mitha dan Fiko yang lagi ngobrol di gazebo, perasaannya sedikit berbeda, mungkin mereka akrab karena Fiko sering nolongin Mitha, ndak mungkin mereka ada apa-apa.
Sang Mama duduk disamping anaknya Bram, beliau jengkel tapi ia tetaplah anaknya sebesar apapun kesalahan sang anak seorang ibu pasti akan memaafkannya lahir dan batin.
"Bagaimana Nak hubunganmu dengan Mitha? Tanya sang Mama.
"Mitha minta pisah Ma," jawab Bram frustasi sambil mengacak rambutnya.
"Sudah Mama duga Bram wanita mana coba yang mau diselingkuhi, kalau mama diposisi Mitha mungkin akan mengambil keputusan yang sama.
"Apa yang harus Bram lakukan Mama, Bram takut kehilangan Mitha Ma, ucap Bram menderita.
"Mama tidak pernah mengajari Bram untuk jadi pengecut, Apa yang sudah kamu lakukan kamu harus bertanggung jawab, masalah apapun itu, jadilah pria yang berprinsip. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama, lihatlah Anak-anak kamu yang jadi korban atas kesalahanmu
"Tapi Ma, Bram ndak rela kalau harus kehilangan Mitha Ma."
"Kamu yang sudah msnyalakan api kamu juga yang harus memadamkannya Bram.
Jika Mama ada diposisi Mitha mungkin keputusan Mama pun akan sama.
__ADS_1
Mungkin kalau perselingkuhanmu tidak membuahkan benih Mitha masih bisa memaafkanmu, tapi ini berbeda ada anak didalam kandungan yang tidak berdosa membutuhkan Ayah."
"Mama Maafin Bram? Bram ndak berfikir sejauh itu." ucap Bram dengan nada penyesalannya.
"Sudahlah Nak nasi sudah menjadi bubur, ya dijalani sesuai kemampuan kita. Nasehat sang mama untuk Bram.
"Haruskah Bram kehilangan Cinta Bram untuk Mitha Ma. Inikah kusah cinta Bram harus berakhir.
"Itu sudah resiko dari scandalmu Bram," ucap sang mama mengingatkan
"Mama, Maafkan anakmu ini,sambil memeluk sang Mama."
"Kesalahan tetaplah kesalahan kita harus belajar dewasa dari kesalah, mungkin dengan kesalahan kita bisa bersikap lebih baik lagi.
Sang Mama tahu jika ini semua memang sudah takdirnya, cobalah untuk lebih dewasa dalam menyikapi masalah Bram."
Fiko menemui sang mama yang sedang berbicara dengan Masnya.
"Ma, Fiko seminggu diluar kota?" ucap Fiko sambil memberi tau sang Mama.
"Kemaja saja Nak? Lama sekali," jawab mamanya.
"Nanti sore dibandara juanda menuju jakarta Ma, habis itu belum tau jadwalnya lagi, jadwalnya menyusul kata pelatihnya Ma."
"Iya hati-hati jangan lupa makan sama vitaminya dibawa sayang," ucap mamanya yang selalu khawatir jika mau pergi jauh.
"Siap Mama, Fiko pasti akan jaga kesehatan Ma, tenang saja."
"Sudah disiapin pakaiannya Fiko? Tanya sang Mama.
"Belum Ma, nanti saja setelah Mbakyu pamit pulang," jawab Fiko sambil bermain dengan Raka juga Rania.
"Jangan sampai kelupaan, yang diperlukan dimasukkan ke dalam tas Fiko, biasabya kan kamu sering lupa tuh." ucap mama sambil menginggatkan Fiko yang sering ceroboh.
"Om Fiko Raka ikut boleh ndak?" tanya Raka pada Omnya.
"Jangan sayang nanti kalau sudah besar baru boleh ikut , lagian jauh sayang."
"Nungguin Raka besar ya Om sudah tua dong," ucap Raka sambil meledek Omnya.
"Hahaha bener kata kamu Raka," jawab Fiko sambil senyum nyengir kuda.
Kehangatan mereka rasakan diruang santai kecuali Mitha yang menyendiri dikolam renang. Sang mama menghampiri menantunya. Beliau tau apa yang dirasakan menantunya, begutu kecewa dan pasti sedih.
"Tha lagi apa?" tanya sang Mama sambil dududk disamoing Mitha
"Ini ma lagi lihatin ikan." jawab Mitha sambil tersenyum
"gimana rencana kamu mitha." tanya sang Mama kepada Mitha.
"Besuk Mitha ke Nganjuk Ma kerumah Ayah." jawab Mitha sambil memberi makan ikan-ikan milik Fiko.
"Pak fandi pindah ke Nganjuk Tha sekarang?" tanya sang mama sambil memandang wajah Mitha.
"Iya Ma, Tolong jangan beritau Mas Bram ya Ma?" Mitha takut kalau keceplosan nanti Dia bilang sama Siska lagi Mitha ndak mau Ma.
"Baiklah sayang Mama mengerti, tenang saja rahasianya Aman ditangan Mama. Ucap sang mama sambil memegang pundak menantunya.
Anisa menatap lekat ikan-ikan yang berenang ria, Tanpa ada beban yang ia tahu hanyalah berenang dan mencari makan,
Tidak ada scenario Allah yang tidak indah, semuanya akan indah pada waktunya walaupun kita sulit untuk memahaminya. Tetap semangat meski cobaan selalu datang.
Next...
__ADS_1
trimakasih penggemar setia Shelomitha🙏😘