Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Kuat


__ADS_3

Alvin merasa lega karena melihat Alena akhirnya menunjukkan ketegarannya. Wanita itu sedang berada di titik terendah di dalam hidupnya. Bayangkan saja, di saat putra bungsunya masih berbaring lemah di Rumah Sakit. Sekarang putri sulungnya di kabarkan hilang entah kemana.


Belum lagi Alena harus menghadapi sikap mantan suaminya yang bersikukuh meminta untuk kembali rujuk dengan alasan demi kebahagiaan anak-anak mereka, padahal semua itu hanya sebuah alasan saja pastinya. Wanita mana yang akan tahan ketika menerima cobaan yang bertubi-tubi seperti itu?


Alvin bertekad akan mendampingi Alena, bukan hanya karena dia mencintai wanita itu, tapi karena dirinya juga pernah merasakan apa yang saat ini di rasakan oleh anak-anak itu. Dia pernah berada di posisi Lani dan Lian di mana Alvin harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya kala itu.


"Saya akan menghubungi Fazril dulu, Len. Sepertinya dia belum tahu tentang hal ini. Lebih banyak yang mencari lebih baik," ucap Alvin merogoh ponsel dari dalam saku celananya.


"Betul sekali, Alvin. Fazril memang belum tahu tentang hal ini," ujar Nyonya Inggrid kemudian.


Alvin berjalan menjauh dari mereka berdua. Sedangkan Alena masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Lian sebelum dia pergi dengan Alvin nantinya.


Setelah puas menatap wajah Lian yang saat ini tertidur lelap, Alena pun keluar dari dalam ruangan tersebut dengan diikuti oleh sang ibu. Keduanya berdiri tepat di depan pintu kini.


"Aku titip Lian, bu. Aku akan mencari Lani sekarang," pamit Alena.


"Ibu doakan semoga Lani cepat di ketemukan. Jangan mengkhawatirkan Lian, ibu akan menjaga dia dengan baik. Kamu fokus saja dalam mencari Lani."


"Ibu baik-baik saja sendirian di sini?"


"Ayahmu sebentar lagi juga datang ke sini, Len. Beliau akan menemani ibu di sini."


"Baiklah, aku pamit ya bu."

__ADS_1


Keduanya pun saling berpelukan, ibu mengusap punggung Alena lembut dan penuh kasih sayang.


"Doakan Lani, bu. Semoga dia bertemu dengan orang baik, di manapun Lani berada semoga saja dia baik-baik saja." Lirih Alena mendekap erat tubuh sang ibu.


"Pasti, sayang. Ibu pasti mendoakan yang terbaik untuk kamu, sayang. Yang terpenting lagi, kamu harus kuat, kamu pasti kuat."


Alena menganggukkan kepalanya lalu mulai mengurai pelukan. Alvin yang baru saja selesai penelpon Fazril segera menghampiri keduanya untuk berpamitan.


"Kami pamit, Tante," ucap Alvin menyalami Nyonya Inggrid ramah dan sopan.


"Tante, titip Alena. Tolong jaga dia dan segera temukan Lani, Alvin. Tante mohon."


"Pasti, Tante. Saya akan menjaga Alena, dan saya juga akan melakukan cara apapun agar bisa menemukan Lani."


* * *


Alena dan juga Alvin nekat kembali ke kota kecil di mana Alviano berada saat ini padahal mereka baru saja kembali dari sana. Alena bahkan masih memakai pakaian yang sama dengan kemarin karena dirinya memang belum sempat untuk pulang dan berganti pakaian.


6 jam perjalanan pun mereka tempuh tanpa rasa lelah. Sampai akhirnya mobil yang di kendarai oleh Alvin benar-benar tiba di tempat tujuan.


Ckiiit!


Mobil berhenti tepat di depan pagar kediaman orang tua Alviano. Alena segera keluar dari dalam mobil dan berlari menuju halaman diikuti oleh Alvin kemudian.

__ADS_1


Kebetulan sekali, Alviano juga baru saja sampai di rumah itu setelah seharian mencari keberadaan Lani, tapi hasilnya nihil karena dia datang hanya sendirian.


"Alena? Kapan kamu datang? Katanya kamu sudah kembali ke kota?" tanya Alviano berjalan menghampiri Alena dan juga laki-laki bernama Alvin.


Alena menatap wajah mantan suaminya dengan tatapan mata tajam. Rasa benci pun terlihat jelas dari pancaran matanya. Wanita bernama lengkap Alena Dwi Pratiwi itu pun berjalan cepat menghampiri Alviano seperti hendak memuntahkan amarahnya yang memang sudah tidak dapat lagi dia bendung.


Sedetik kemudian.


Plak!


Satu tamparan mendarat di rahang Alaviano keras dan bertenaga membuat laki-laki itu merasa terkejut tentu saja.


"Lena, kamu--"


Plak!


Satu tamparan kembali mendarat di rahang sebelah kanannya lagi, bahkan belum sempat laki-laki menyelesaikan ucapannya.


"Di mana putriku? Di mana Lani, Alviano?! Kamu bukan hanya suami yang buruk, tapi juga ayah yang kejam dan tidak punya perasaan. Dasar brengsek!" teriak Alena benar-benar memuntahkan kemarahannya yang selama ini dia tahan.


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2