Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Bertemu Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Alvin menatap sayu wajah sang ibu. Matanya mulai memerah, bibirnya pun nampak tersenyum. Kedua kakinya perlahan melangkah mendekati wanita yang telah mengandung dan melahirkannya, meskipun tidak membesarkan dirinya selama ini.


"Ibu," gumam Alvin semakin mempercepat langkah kakinya.


Grep!


Alvin memeluk erat tubuh sang ibu. Air matanya tumpah tanpa mengeluarkan suara. Dirinya benar-benar bahagia karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan sang ibu setelah sekian lama. Bukan karena dia tidak ingin, tapi karena keadaan yang memang tidak memungkinkan.


"Maafkan saya karena baru sempat datang ke mari, bu. Saya benar-benar minta maaf. Saya anak yang tidak berbakti, saya menyesal karena telah melupakan ibu," lirih Alvin penuh penyesalan.


Sang ibu perlahan mulai mengurai pelukan, dia meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi rahang putra kesayangannya itu. Menatap setiap jengkal wajah seorang Alvin, wajah yang sangat dia rindukan.


"Ibu memaafkan kamu, Nak. Kamu sudah besar dan tampan. Ibu senang sekali karena akhirnya kamu pulang kemari, maaf karena ibu tidak pernah mengunjungi kamu di kota. Bukan karena ibu tidak ingin bertemu dengan kamu, tapi karena keadaanya yang tidak memungkinkan," lirih ibu, mengusap kedua sisi rahang Alvin, membersihkan buliran air mata yang kini membanjiri wajah tampan putra kesayangannya.


Alvin melepaskan kaca mata yang dia pakai. Dia pun semakin lekat menatap wajah sang ibu yang terlihat menua dari semenjak terakhir kali dirinya bertemu dengan wanita paruh baya itu.


"O iya, wanita itu siapa? Apa mungkin dia--" Ibu tidak meneruskan ucapannya.

__ADS_1


"Sepertinya ini memang takdir, bu. Lani bisa bersama ibu itu adalah sesuatu yang telah di atur oleh Tuhan Yang Maha Esa. Wanita itu adalah ibunya Lani, calon menantu ibu," jawab Alvin benar-benar mengenalkan Alena sebagai calon istrinya.


"O ya? Astaga, ibu benar-benar tidak menyangka bahwa anak yang ibu rawat calon cucu ibu. Dunia memang sempit."


Alena bersama Lani berjalan mendekati Ibu, dia pun menyalami wanita itu ramah dan sopan. Senyuman pun terlihat mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.


"Nama saya Alena, bu. Terima kasih karena ibu telah merawat putri saya," lirih Alena.


"Sama-sama, Neng. Benar kata Alvin tadi, sepertinya ini memang takdir, putri eneng ada di sini karena telah di atur oleh Tuhan, berkat itu akhirnya Alvin pulang kemari."


"Jadi, putra bibi yang ganteng itu benar-benar Om ganteng ya? Waaah, ternyata Om sudah ganteng dari kecil," celetuk Lani menatap wajah Alvin terlihat begitu ceria.


"Kamu apa kabar, cantik? Om kangen banget sama kamu, lain kali jangan pergi seperti ini lagi ya. Om benar-benar merasa khawatir," ujar Alvin dengan nada suara lembut.


Lani tiba-tiba saja memeluk tubuh Alvin manja. Dia menyandarkan kepalanya di pundak laki-laki itu seolah begitu merindukannya. Alvin secara refleks balas memeluk tubuh Lani seolah telah menyayangi anak ini layaknya darah dagingnya sendiri.


"Terima kasih karena Om sudah merindukan aku. Daddy saja tidak sebaik ini sama aku. Terima kasih juga karena Om telah menemani Mommy dan membawa Mommy ke sini. Om ganteng adalah pahlawanku. Aku sayang sama Om," lirih Lani terdengar tulus.

__ADS_1


"Om juga sayang sama kamu. Tunggu, kamu pakai baju siapa ini?" tanya Alvin mengurai pelukan lalu menatap tubuh Lani. Dia tentu saja dapat mengenali pakaian yang saat ini dikenakan oleh anak ini.


"Dia memakai pakaian kamu, Alvin. Ibu masih menyimpannya, makannya ibu pakaikan baju ini, ya ... Mau gimana lagi, ibu 'kan tidak punya anak perempuan," ujar sang ibu mewakili, sementara Lani hanya manggut-manggut seraya tersenyum lebar.


"Om ... Gendong!" pinta Lani dengan nada suara manja.


"Tentu saja, Om akan menggendong kamu."


Alvin segera menggendong tubuh kecil Lani. Gadis kecil yang akan menjadi putri sambungnya kelak. Tanpa sadar, rasa sayang itu pun tumbuh di dalam hatinya tanpa di duga.


"Kita masuk yu, ibu akan memasakan makanan kesukaan kamu," pinta ibu dan segera di jawab dengan anggukan oleh semua yang ada di sana. Mereka pun masuk ke dalam rumah secara bersamaan.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya ibu secara tiba-tiba, membuat Alena dan Alvin seketika menghentikan langkah kaki dan saling menatap satu sama lain tidak tahu harus menjawab apa.


"Ko bengong? Ibu ingin kalian segera menikah, lebih cepat lebih baik. Mumpung ibu masih sehat dan kuat untuk menempuh perjalanan jauh ke kota. Ibu ingin menghadiri pernikahan kamu, Nak."


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2