
Fazril mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera sampai di kediamannya agar bisa bertemu dengan Nuri. Tekadnya sudah bulat. Keinginannya sudah tidak bisa lagi dia tahan. Fazril Faisal ingin segera memberitahukan kepada gadis yang dia cintai bahwa dia akan menolak perjodohan ini.
Ckiiit!
Mobil yang dia kendarai akhirnya sampai di tempat tujuan. Rumah yang telah dia huni selama 33 tahun lamanya. Fazril keluar dari dalam mobil lalu segera berlari masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Dengan napas yang terengah-engah akhirnya dia tiba di tempat yang memang biasa di gunakan oleh asisten rumah tangga. Sebuah paviliun di mana kamar Nuri berada. Fazril menatap sekeliling berharap gadis itu berada di sana.
"Den Fazril sedang apa di sini?" tanya Bibi keluar dari dalam rumah utama.
"Bibi lihat Nuri?"
"Nuri? Eu ... Sepertinya dia sudah tidur, Den."
"Tidur? Masa jam segini udah tidur? Ini 'kan masih siang, Bi. Baru juga jam 8 malam."
"Ya itu karena Nyonya sama Tuan makan malam di luar, itu sebabnya Bibi sama Nuri tidak terlalu banyak pekerjaan malam ini. Ini Bibi juga baru menidurkan Non Lani. Eu ... Tapi ngomong-ngomong, bukannya Aden ikut makan malam sama Nyonya dan Tuan ya?"
"Makan malamnya sudah selesai. O iya, Bi. Kalau kamar Nuri yang mana ya?"
Bibi seketika mengerutkan kening. Untuk apa majikannya itu menanyakan kamar gadis bernama Nuri? Bibi mulai menaruh curiga, jelas-jelas ada yang aneh dengan sikap sang majikan. Namun, wanita paruh baya itu sama sekali tidak mengatakan apapun.
"Kamarnya yang ini, Den," tunjuk Bibi ke sebelah kiri di mana kamar Nuri berada.
__ADS_1
"Oh, oke! Saya masuk ke dalam dulu ya, lelah banget ini. Bibi juga pasti lelah, lebih baik Bibi beristirahat sekarang."
"Baik, Den. Saya permisi," pamit Bibi, masuk ke dalam kamar yang berada tepat di samping kamar Nuri.
Fazril tersenyum menyeringai, dia pun memastikan bahwa Bibi benar-benar telah masuk ke dalam kamar. Setelah itu, dia nampak celingak-celinguk menatap sekeliling, layaknya maling yang hendak masuk ke dalam rumah targetnya.
Diam-diam Fazril berjalan mendekati pintu kamar Nuri. Tanpa basa-basi lagi, dia pun membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar sang asisten rumah tangga.
Ceklek!
Blug!
Pintu kamar pun di buka dan kembali di tutup rapat setelah Fazril masuk ke dalamnya. Nuri yang saat ini sedang meringkuk di atas ranjang pun seketika bangkit lalu duduk di atas ranjang dengan perasaan terkejut.
"Den Azril?!" decak Nuri membulatkan bola matanya.
"Den Fazril mau apa ke sini? Ini kamar pembantu? Astaga!"
"Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu, Nuri."
"Jangan di sini dong, Den. Ndak baik laki-laki dan perempuan berduaan di kamar. Kalau nanti ada setan lewat gimana? Mung amarga juragan, sembrono mlebu kamar pembantu. Apa aku wong wadon sing nampa tamu lanang ing tengah wengi? (Mentang-mentang majikan, seenaknya saja masuk ke dalam kamar pembantu. Memangnya aku ini wanita apaan yang menerima tamu laki-laki tengah malam?)"
"Hah? Kamu ngomong apaan sih? Pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar memangnya gak bisa apa? Saya lagi bingung lho, jangan membuat saya tambah bingung, Nuri!" Decak Fazril merasa kesal karena sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Nuri.
__ADS_1
"Lebih baik Den Azril keluar dari kamar saya sekarang juga. Meskipun saya hanya seorang pembantu, tapi saya tidak suka ya kalau Aden main masuk ke kamar saya tanpa izin," ketus Nuri mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa.
"FAZRIL, bukan Azril!"
"Terserah Aden aja, mau Fazril kek, Azril kek, aku ndak peduli, aku minta Aden keluar dari dalam kamar saya sekarang juga!"
Dia pun segera turun dari atas ranjang lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya kemudian. Namun, gadis itu seketika kembali menutup pintu saat melihat Nyonya Inggrid berada di depan kamarnya kini.
"Gawat, Den. Gawat!" ujar Nuri terlihat panik.
"Gawat kenapa?" Fazril mengerutkan kening.
"Nyo-nyonya besar ada di depan, bagaimana ini? Kalau beliau sampai tahu Anda sedang berada di sini bisa di pecat aku, Den."
"Gak bakalan di pecat, paling di kawinin."
Plak!
Satu pukulan seketika mendarat di bahu kekar laki-laki itu. Fazri hanya tersenyum cengengesan, dia pun mengusap bahunya sendiri seraya menatap wajah Nuri yang kian pucat pasi juga panik tentunya.
Tok! Tok! Tok!
"Nuri, apa kamu sudah tidur?"
__ADS_1
Fazril dan juga Nuri seketika saling menatap satu sama lain juga diam membeku di tempat masing-masing.
BERSAMBUNG