Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Pekerjaan yang Lebih Baik


__ADS_3

Rendi seketika tersenyum senang. Dirinya seperti mendapatkan lampu hijau. Niatnya untuk mendekati gadis bernama Lani ini semakin bulat saja kini. Dia sama sekali tidak peduli meskipun dirinya hanya seorang supir pribadi dari laki-laki bernama Fazril yang tidak lain dan tidak bukan adalah Om dari gadis yang dia sukai.


"Terima kasih atas dukungannya, Lian. Saya jadi semangat untuk mendekati kaka kamu yang cantik dan baik hati ini," jawab Rendi penuh percaya diri.


Lani tersipu malu. Dia merapikan rambut panjangnya dengan wajah memerah. Lagi-lagi, hati gadis itu merasa berbunga-bunga. Perasaan aneh pun mulai menyelusup relung hati Lani. Apakah gadis ini mulai merasakan getaran cinta? Entahlah, Lani sendiri tidak ingin menerka-nerka. Dia sendiri belum tahu dan merasakan apa yang di namakan cinta.


"Sudah cukup, urusan kamu sama Om Fazri sudah selesai? Kita pulang sekarang ya. Eu ... Naila mana?" tanya Lani kemudian.


"Naila ada di kamarnya Stela, Kak. Mereka lagi belajar bersama kayaknya. Kenapa buru-buru? Santai aja kali, lanjutin aja temu kangen kalian," jawab Lian seraya tersenyum cengengesan.


"Temu kangen apaan? Gak jelas banget sih," decak Lani.


"O iya, Lan. Nomor kamu masih yang lama 'kan?" tanya Rendi.


"Iya, masih."


"Baiklah, saya akan menghubungi kamu kapan-kapan, boleh?"


"Bo--"

__ADS_1


"Tentu saja boleh calon kakak ipar, mau ngehubungi setiap hari pun boleh ko. Kalau perlu bawa ke KUA aja sekalian, hehehehe!" sela Lian membuatnya kembali mendapatkan satu pukulan dari sang Kakak.


Plak!


"Argh!" ringis Lian tersenyum cengengesan juga berpura-pura merasa kesakitan.


"Sekali lagi kamu ngomong yang macam-macam, Kaka pukul kamu lebih keras lagi ya!" ketus Lani merasa kesal.


"Hah? Hahahaha! Ampun, Kak!" teriak Lian seketika berlari menjauh dan segera di kejar oleh Lani hendak kembali memukul adiknya.


Rendi menatap ke duanya seraya tersenyum kecil. Kaka beradik itu adalah anak korban perceraian, tapi mereka bisa tumbuh besar menjadi anak-anak yang baik. Dirinya pun semakin merasa kagum kepada gadis bernama Lani. Dia menatap ke duanya tanpa sadar bahwa Fazril bosnya sudah berada tepat di belakangnya kini.


"Ehem!" Fazril seketika berdehem membuat Rendi seketika merasa terkejut.


"Melamun apa melamun? Jangan di liatin sampai seperti itunya kali, keponakan saya itu memang cantik, tapi tidak mudah untuk meluluhkan hatinya. Kamu perlu bekerja keras."


"Apa dia bakalan mau sama laki-laki seperti saya, Pak? Saya ini hanya seorang supir, saya juga tidak yakin kalau keluarganya Lani bakalan menerima saya."


"Hey! Jangan patah semangat kayak gitu. Keluarga saya itu bukan type orang yang suka mengkastakan manusia. Ibunya Lani, adik saya itu seorang Dokter. Sedangkan suaminya seorang Dosen di salah satu Universitas, tapi mereka orang-orang baik ko. Hmm! Kamu beneran suka sama keponakan saya itu?" tanya Fazril menatap lekat wajah supir pribadinya.

__ADS_1


"Hah! Eu ... anu, Pak! Sebenarnya iya, saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia, hehehehe!" Rendi seketika tersenyum cengengesan merasa malu.


"Kalau kamu benar-benar suka sama dia, perjuangkan cinta kamu. Jangan takut akan di tolak sama ke dua orang tuanya."


"Tapi saya tidak yakin akan di terima, Pak."


"Ya itu dia, 'kan saya juga sudah bilang tadi. Perjuangkan, kalau kamu benar-benar cinta sama Lani, tunjukan dan buktikan perasaan kamu. Luluhkan hatinya, kejar dia sampai dapat. Itu baru namanya cowok gentle."


"Terima kasih, Pak. Saya benar-benar berterima kasih atas support yang Bapak berikan."


"O iya, kebetulan di kantor saya sedang ada lowongan pekerjaan. Lian juga sedang mencoba untuk melamar ke sana, kalau kamu mau, kamu bisa siapkan berkas lamaran kamu dan berikan kepada saya."


Rendi seketika merasa terkejut. Dirinya baru bekerja sekitar 1 bulan sebagai supir pribadi laki-laki ini, sekarang dirinya malah ditawari untuk bekerja di kantor pemerintahan? Apakah dirinya tidak salah dengar? Rendi benar-benar merasa senang.


"Bapak serius dengan apa yang Bapak katakan ini? Saya ditawari untuk bekerja di kantor Bapak?" tanya Rendi tersenyum dengan begitu lebarnya.


"Tentu saja saya serius, Rendi. Kamu siapkan saja berkas lamarannya, saya akan usahakan kamu dan Lian bisa lolos untuk bekerja di sana."


"Waaah! Saya benar-benar berterima kasih sekali, Pak. Saya akan siapkan surat lamaran pekerjaan itu secepatnya," ujar Rendi seketika menyalami telapak tangan Fazril seraya tersenyum merasa senang.

__ADS_1


"Sama-sama, Rendi. Maaf, bukannya saya ingin merendahkan pekerjaan kamu sebagai seorang supir. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai supir, pekerjaan itu halal, tapi jika kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik kenapa tidak? Lagi pula, jika kamu benar-benar ingin mendekati Lani, kamu harus bisa memberikan yang terbaik untuk dia. Selama ini Lani sudah terbiasa hidup nyaman dan serba kecukupan, jadi saya akan mengusahakan agar kamu bisa bekerja di kantor saya. Hmm! Padahal kamu baru bekerja selama 2 bulan dengan saya," jelas Fazril panjang lebar.


BERSAMBUNG


__ADS_2