
"Sayang, Mommy pasti nyusul kita ke kampung. Kamu jangan nangis ya, 'kan masih ada Daddy. Ada Nenek sama Kakek juga nanti," jawab Alviano mencoba untuk menenangkan sang putri.
"Gak mau, aku maunya sama Mommy. Aku gak mau sama Daddy, Daddy jahat. Daddy udah bikin Mommy nangis terus. Hiks hiks hiks!"
Ckiiit!
Alviano menepikan mobil miliknya lalu berhenti di tepi jalan. Dia mengusap wajahnya kasar. Laki-laki itu akhirnya sadar, meskipun putrinya baru akan memasuki usia 6 tahun, dia punya kedua mata dan telinga. Walaupun anak itu hanya diam selama ini, tapi matanya menyaksikan pertengkaran juga perpisahan kedua orang tuanya. Telinganya pun mendengar apa yang di bicarakan orang-orang di sekitarnya tentu saja.
"Sayang, Daddy tidak jahat. Kata siapa Daddy jahat? Daddy sayang sama kamu, Dede Lian, sama Mommy juga," lemah Alviano mengusap kepala putri kesayangannya.
"Kalau Daddy sayang sama Mommy, kenapa Daddy terus saja menyakiti Mommy? Aku sering melihat Mommy menangis, kasihan Mommy. Huaaaaa!" Lani semakin menangis histeris membuat Alviano merasa kebingungan bagaimana caranya menenangkan putri sulungnya itu.
"Daddy minta maaf, sayang. Daddy memang salah, Daddy jahat sama Mommy kamu, tapi Daddy sudah berubah. Daddy tidak jahat lagi."
"Bohong aku benci sama Daddy. Antarkan aku pulang, Dad. Aku mau pulang!"
"Kita tidak bisa pulang, rumah nenek tinggal setengah jalan lagi. Nanti juga Mommy pasti ke sana ko, kamu gak usah khawatir. Kamu mau 'kan kita bisa kumpul kayak dulu lagi? Kita tinggal serumah lagi, bobo bareng, bercanda bareng, kita jalan-jalan bersama lagi."
"Apa bisa kita seperti itu lagi? Tinggal berempat seperti dulu lagi?"
"Tentu saja, asalkan kamu ikut sama Daddy ke kampung. Daddy jamin Mommy bakalan nyusulin kita ke sana dan kita bisa tinggal bersama seperti dulu lagi."
"Dede Lian bagaimana? Dia 'kan lagi sakit?"
"Nanti Dede nyusul sama Om Fazril kalau sudah sembuh."
__ADS_1
"Terus Dede di tinggalin gitu di Rumah Sakitnya? Kasihan Dede dong, Dad."
"Lani! Astaga, kamu banyak nanya banget sih. Kamu itu masih kecil! Kamu cukup nurut apa yang Daddy katakan. Kalau kamu nangis lagi, Daddy bakalan turunin kamu di jalan, mau?" teriak Alviano merasa jengah dengan semua pertanyaan putrinya.
Lani menggelengkan kepalanya juga terlihat ketakutan. Dia merapatkan bibirnya, suara isakan itu memang sudah tidak lagi terdengar, tapi bola mata gadis itu memerah dengan dada yang terlihat naik turun.
"Maafkan Daddy, Nak. Daddy tidak bermaksud untuk membentak kamu. Daddy tidak sengaja melakukannya, kamu terlalu banyak bertanya," lirih Alviano merasa menyesal karena telah membentak juga berteriak kepada putrinya itu.
Lani tidak menjawab ucapan sang ayah. Dia duduk dengan memeluk kedua lututnya kini. Tubuhnya bahkan terlihat gemetar, sepertinya gadis itu syok dengan sikap sang ayah. Ini adalah pertama kali ayahnya membentak dan berteriak kepadanya.
"Kita lanjutkan perjalanan kita ya, lebih baik kamu tidur. Nanti Daddy bangunkan ketika kita sudah sampai."
Lani masih diam membisu. Tubuhnya pun mematung tidak menanggapi ucapan sang ayah. Mesin mobil kembali di nyalakan, perjalanan panjang pun dilanjutkan.
6 jam kemudian.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir 6 jam. Akhirnya, Alvin dan juga Alena sampai di tempat tujuan. Sebuah desa kecil di mana orang tua Alviano mantan suaminya tinggal, tepat pukul 21.00 malam hari.
"Berhenti di depan, Mas. Rumah mertua aku yang itu," pinta Alena, menunjuk rumah dengan pagar putih serta halaman yang luas.
"Oke, akhirnya kita sampai juga," jawab Alvin menepikan mobil miliknya lalu berhenti tepat di depan pintu pagar
"Tapi, Mas. Mobil Mas Vian ko gak ada ya? Seharusnya dia sudah sampai dari tadi sore lho."
"Benar juga, kita turun saja dulu. Siapa tahu mobil dia memang di parkir di tempat lain."
__ADS_1
"Lebih baik, Mas Alvin tunggu saja di sini. Biar aku saja yang turun, aku gak mau mereka salah paham nanti."
"Baiklah, saya tunggu di sini ya. Kamu hati-hati."
Alena menganggukkan kepalanya, dia pun turun dari dalam mobil lalu berjalan memasuki halaman hingga tiba tepat di depan pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Bu, Pak. Ini saya Alena!" teriak Alena diiringi dengan suara ketukan pintu.
Ceklek!
Pintu pun di buka lebar. Seorang wanita paruh baya berdiri di belakang pintu. Dia tersenyum ramah menatap wajah Alena.
"Neng Alena? Ya ampun, eneng ke sini sama siapa? Malam-malam begini lagi." Tanya mantan ibu mertuanya tersenyum ramah.
"Bu, apa Mas Vian sama Lani ada di dalam?"
"Alviano, Lani? Dia tidak ke sini?"
"Hah?" Alena seketika membulatkan bola matanya.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1