Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Haru


__ADS_3

"Ca-calon menantu?" ucap Alena, wajahnya seketika memerah. Dia memalingkan wajahnya menatap ke arah lain hanya untuk menyembunyikan senyuman di bibirnya.


"Kenapa? Kamu gak mau dikenalkan sebagai calon menantu?"


"Siapa bilang?"


"Jadi kamu mau?"


Alena seketika memejamkan kedua matanya. Dia merasa terjebak di situasi yang sulit, hubungannya dengan laki-laki ini memang belum ada kejelasan. Mereka bahkan belum sepakat untuk berpacaran, cinta memang tidak perlu di ucapkan dengan kata-kata. Namun, bagi seorang wanita kepastian sebuah hubungan adalah sebuah keharusan. Haruskah dirinya menuntut kejelasan kepada laki-laki ini?


'Astaga, ada apa dengan aku? Fokus, Lena. Fokus ... Jangan mikirin urusan percintaan untuk saat ini. Urusan Lani saja belum selesai,' batin Alena mengusap wajahnya kasar.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Alvin menoleh dan melirik sekejap wajah Alena Dwi Pratiwi.


"Hah? Nggak ko, aku gak apa-apa. Aku gugup saja."


"Karena mau ketemu sama calon mertua?"


"Bisa jadi," jawab Alena tersenyum kecil seraya menatap ke arah samping.


Kali ini wajah Alvin yang terlihat memerah, dia pun mencoba untuk menahan senyuman di bibirnya sedemikian rupa. Hatinya benar-benar berbunga-bunga, perasaanya bahagia. Cintanya benar-benar di sambut dengan tangan terbuka, meskipun dia memiliki pemikiran yang sama seperti Alena bahwa, belum ada kejelasan untuk hubungan mereka. Belum ada kata sepakat bahwa mereka benar-benar berpacaran.


Ckiiit!


Mobil pun akhirnya berhenti tepat di depan pagar sebuah rumah sederhana. Alvin nampak terdiam sejenak menatap rumah yang terlihat sepi tersebut. Perasaanya benar-benar campur aduk. Ini seperti sebuah mimpi baginya, bertemu dengan sang ibu adalah hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Kedua mata Alvin tiba-tiba saja disipitkan, dia menatap dengan seksama seorang anak berpakaian laki-laki yang baru saja keluar dari dalam rumah tersebut. Rambut anak itu nampak di kepang, wajahnya pun terasa tidak asing lagi baginya.

__ADS_1


"Lani?" gumam Alvin secara refleks menyebut nama itu.


Antara sadar dan tidak sadar, antara rasa percaya dan tidak percaya, laki-laki itu mencoba untuk menelaah keadaan yang ada. Kenapa anak itu bisa berada di rumah sang ibu?


Ceklek!


Alvin keluar dari dalam mobil secara tergesa-gesa tanpa sepatah katapun. Dirinya hanya ingin memastikan bahwa apa yang dia lihat adalah nyata bukan khayalan semata. Alena yang belum menyadari apa yang terjadi tentu saja di buat heran karenanya.


"Mas Alvin kenapa?" tanya Alena seketika ikut membuka pintu mobil lalu keluar dari dalamnya. Dia berdiri tepat di samping Alvin, menatap heran wajah laki-laki itu.


"Lani," gumam Alvin, sementara Alena mengerutkan kening.


"La-lani?" Alena secara terbata-bata, dia pun mengikuti arah pandangan mata laki-laki itu dan seketika merasa terhenyak dengan apa yang dia lihat di depan sana.


"Itu Lani, Len. Putri kamu. Ya Tuhan." Decak Alvin merasa tidak percaya.


"Lani? Lani putrinya Mommy?"


Lani sontak menoleh, pikiran anak itu seolah berhenti berfungsi sejenak. Dia menatap wajah wanita yang sangat dia rindukan lekat. Sampai akhirnya, tangisnya pun pecah secara tiba-tiba saat kesadarannya kembali dan menyadari bahwa wanita yang berada di depan sana benar-benar sang ibu.


"MOMMY!" teriak Lani histeris.


Ibu dan anak itu saling berlari menghampiri. Suara tangis keduanya pun terdengar nyaring memekikkan telinga. Perasaan mereka benar-benar bahagia, rasa haru pun menyelimuti hati seorang Alvin yang menyaksikan pertemuan yang sangat mengharukan itu.


Grep!


Mereka pun seketika saling berpelukan. Alena berjongkok agar tubuhnya bisa sejajar dengan sang putri.

__ADS_1


"Mommy! Mommy! Mommy! Hiks hiks hiks!" tangis Lani menggelegar terdengar penuh kesedihan.


"Iya, sayang. Ini Mommy, maafkan Mommy, sayang. Mommy benar-benar minta maaf, hiks hiks hiks!" Tangis Alena pun sama-sama pecah terdengar haru.


Alena mengecup wajah putrinya secara berkali-kali tiada henti. Lalu kembali memeluk tubuhnya erat, bahkan sangat erat.


"Kenapa Mommy lama sekali datangnya? Aku gak mau kembali ke rumah Daddy. Aku gak mau, aku maunya sama Mommy. Aku mohon bawa aku sama Mommy."


"Iya, sayang. Mommy tidak akan membiarkan kamu di bawa lagi sama Daddy kamu. Mommy akan membawa kamu pulang. Mommy janji gak akan pernah meninggalkan kamu lagi, sayang. Sekali lagi maafkan Mommy, Nak. Maaf ... Hiks hiks hiks!"


Bibi Anisa yang mendengar suara tangisan Lani seketika keluar dari dalam rumah dengan membawa sepiring nasi berisi makanan, karena wanita paruh baya itu memang sedang menyuapi gadis kecil itu.


"Lani--" ujar Bibi menatap tubuh Lani yang saat ini sedang berpelukan dengan seorang wanita muda.


Dia pun hendak menghampiri mereka berdua. Namun, langkah kakinya seketika terhenti saat melihat seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.


Prank!


Piring yang dia bawa seketika terjatuh ke atas lantai. Kedua matanya menatap wajah laki-laki itu dengan perasaan tidak percaya. Mulutnya bergumam menyebutkan satu nama.


"Alvin?" gumam Bibi, air mata itu seketika bergulir tanpa terasa.


(Like-nya jangan sampai ketinggalan ya Reader. ❤️)


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2