
Stela menunduk sedih. Sepertinya anak itu mengalami trauma berat. Nuri dan juga Fazril menatap wajah anak itu dengan tatapan mata sayu merasa iba. Nuri bahkan meraih telapak tangan Stela dan mengusap punggung tangannya lembut dan penuh dan kasih sayang.
"Sayang, dengarkan Tante. Kami akan menganggap kamu seperti anak kandung kami sendiri. Tante janji tidak akan pernah membuang kamu, sayang. Kamu tidak usah khawatir," lirih Nuri kemudian.
"Betul sekali, Om juga akan menganggap kamu seperti putri Om sendiri. Kebetulan Om punya keponakan seumuran sama kamu, kalian bisa main bersama nanti."
Stela seketika mengangkat kepala lalu menoleh dan menatap wajah Nuri dan juga suaminya secara bergantian. Tatapan matanya nampak sayu dan kosong. Ekspresi wajahnya terlihat datar seperti tidak memiliki semangat untuk hidup membuat Nuri dan Fazril seketika merasa terhenyak.
"Beneran Om sama Tante gak akan ngebuang aku nantinya? Kata Tante aku, aku ini anak yang tidak ada gunanya. Aku anak yang hanya bisa mengusahakan saja, aku anak nakal. Apa Tante sama Om baik-baik saja memiliki anak angkat seperti itu?" tanya Stela dengan nada suara lemah.
"Sayang! Ko tega sekali Tante kamu mengatakan hal yang jahat seperti itu? Kamu itu anak yang baik, cantik, kamu juga tidak nakal sama sekali," ujar Nuri meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi wajah tirus gadis bernama Stela.
"Dari mana Tante tahu kalau aku bukan anak yang nakal? Kita baru saja kenal."
"Meskipun kita baru kenal, tapi Tante sudah dapat menebak bahwa kamu adalah anak yang baik, Stela."
Stela akhirnya tersenyum kecil. Akhirnya ada seseorang yang mengatakan bahwa dirinya bukanlah anak yang nakal. Nuri adalah orang ke dua yang mengatakan hal tersebut setelah Ibu Fathimah pemilik panti asuhan.
"Jadi, gimana kamu mau Tante adopsi?"
Stela menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Syukurlah, Tante janji akan menyayangi kamu dengan sepenuh hati. Tante juga akan memberikan kamu yang terbaik, dari mulai tempat tinggal, pendidikan, dan seluruh kebutuhan kamu, sayang. Terima kasih, dan selamat datang di kehidupan kami," ucap Nuri seketika memeluk tubuh kecil Stela lalu mengecup keningnya lembut dan penuh kasih sayang.
Sementara Ibu Fathimah nampak menatap dengan penuh rasa haru wajah Stela, anak yang dititipkan 2 bulan yang lalu di panti asuhan miliknya. Akhirnya Stela mendapatkan keluarga baru setelah di buang oleh keluarganya sendiri.
.
__ADS_1
Keesokan Harinya
Nuri dan juga Fazril membawa pulang anak perempuan bernama Stela Anjani, anak yang membuat Nuri langsung merasa jatuh hati ketika pertama kali melihatnya. Anak yang memiliki bola berwarna coklat dan berambut panjang. Anak yang telah sah menjadi anak angkat mereka secara prosedur dan akan segera dilegalkan secara negara.
Stela menatap rumah 2 lantai yang akan menjadi tempat tinggal barunya itu. Dia tidak menyangka bahwa orang tua angkatnya ternyata adalah keluarga yang berada. Dia mendongakkan kepala lalu menatap kedua orang tua angkatnya secara bergantian.
"Ini rumah Om sama Tante?" tanya Stela kemudian.
"Sayang, panggil Tante sama Om dengan sebutan Ibu dan Ayah mulai sekarang ya. Ibu tahu kamu pasti belum terbiasa dengan sebutan itu, tapi Ibu yakin lambat laun kamu juga akan terbiasa nanti," pinta Nuri mengusap kepala Stela lembut dan penuh kasih sayang.
"Ba-baik Tan--. Eu maksud aku Ibu," jawab Stela dengan nada suara terbata-bata.
"Gak apa-apa, sayang. Pelan-pelan saja. Sekarang mari kita masuk, ini adalah rumah kamu mulai sekarang."
Stela menganggukkan kepalannya seraya tersenyum lebar. Mereka bertiga pun berjalan menuju pintu utama lalu masuk ke dalam rumah bercat warna coklat muda itu.
.
"Ini kamar aku, Bu?" tanya Stela masuk ke dalam kamar dengan mulut yang di buka lebar, juga dengan bola mata yang dibulatkan sempurna.
"Iya, sayang. Ini kamar kamu, gimana apa kamu suka?" jawab Nuri sang Ibu.
"Iya, Bu. Aku suka, sukaaaa banget, terima banyak, Bu."
Stela seketika memeluk tubuh Nuri erat. Diam-diam kedua matanya mulai berair. Bahu anak itu pun terlihat berguncang menahan tangisan. Nuri yang menyadari hal itu segera mengurai pelukan lalu berjongkok tepat di depan tubuhnya kini, agar wajah mereka bisa sejajar.
"Kenapa kamu menangis, Stela sayang? Nanti cantiknya hilang lho," tanya Nuri mengusap kedua sisi pipi sang putri, membersihkan buliran air mata yang berjatuhan dengan begitu derasnya.
__ADS_1
"Aku hanya terharu aja, Bu. Terima kasih karena telah mengadopsi aku. Aku berjanji akan jadi anak yang baik, aku juga berjanji gak akan pernah mengecewakan Ibu dan Ayah," lirih Stela sedikit terisak lalu kembali memeluk tubuh Ibu erat.
"Iya, sayang. Ibu percaya sama kamu, sekarang lebih baik kamu istirahat, kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Mau Ibu temani tidur?"
Stela menganggukkan kepalanya tersenyum kecil.
.
Sementara itu di tempat yeng berbeda. Lani mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia yang baru saja pulang dari kampus ingin segera sampai di rumah. Pedal gas pun di injak guna mempercepat laju mobil. Namun, Lani seketika merasa terkejut ketika mobil yang dia kendarai tiba-tiba saja menabrak seseorang.
Ckiiit!
Bruk!
Lani seketika menginjak pedal rem dengan perasaan terkejut. Untuk beberapa saat, gadis itu hanya dia mematung seraya memegangi stir mobil dengan mulut yang di buka lebar juga menatap lurus ke depan. Dia mencoba untuk menguasai emosi juga rasa terkejutnya usai menabrak.
"Astaga! Apa yang aku lakukan?" decak Lani setelah kesadarannya kembali pulih.
Ceklek!
Blug!
Lani keluar dari dalam mobil lalu berjalan ke arah depan. Kedua mata gadis itu seketika membulat sempurna tatkala melihat seorang laki-laki paruh baya nampak sedang berbaring tepat di depan mobil miliknya.
"Ya Tuhan!" teriak Lani segera berlari menghampiri dengan tubuh yang gemetar.
BERSAMBUNG
__ADS_1