Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Melaporkan


__ADS_3

"Alvin? Namanya mirip sama Om ganteng," gumam Lani menatap photo anak kecil tersebut.


"Sekarang sudah malam, lebih baik kita tidur. Kamu tidur sama Bibi di sini ya."


Lani menganggukkan kepalanya. Dia pun berbaring di atas ranjang, sementara wanita bernama Bibi Anisa itu duduk di tepi ranjang kini.


"Apa Bibi tidak merindukan putra Bibi?" tanya Lani kemudian.


"Kata siapa? Bibi sangat merindukan dia, setiap saat, setiap detik Bibi rindu sama putra Bibi itu. Bibi berharap bisa bertemu dengan dia suatu saat nanti."


"Aku gak mau tinggal sama Daddy. Daddy-ku jahat, aku gak mau."


"Itu sebabnya kamu pergi dari rumah Daddy kamu dan tersesat?"


Lani menganggukkan kepalanya dengan wajah masam.


"Bi, besok antarkan aku ke rumah Mommy ya. Aku gak mau kembali ke rumah Daddy."


"Iya, sayang. Sekarang kamu bobo ya. Kamu pasti lelah setelah berjalan seharian."


Lani lagi-lagi menganggukkan kepalanya, gadis kecil itu pun seketika memejamkan kedua matanya.


* * *


Alvin berkendara semalaman bersama Alena. Mereka masih belum menyerah dalam mencari Lani sang putri meskipun rasa lelah itu terasa begitu menyiksa keduanya.


"Sekarang sudah malam, lebih baik kita lanjutkan pencarian besok, Len. Kita istirahat dulu. Apa kamu tidak keberatan kalau kita beristirahat di hotel seperti yang kita lakukan semalam?" Tanya Alvin menoleh dan menatap sejenak wajah Alena.

__ADS_1


"Tak masalah di manapun kita beristirahat," jawab Alena dengan nada suara dingin.


Wanita itu benar-benar merasa kelelahan, bukan hanya lelah pisik yang dia rasakan, tapi hati dan jiwanya benar-benar merasa tertekan sebenarnya.


Alena menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil. Kedua matanya seketika terpejam, wanita itu benar-benar terlelap tidak kuasa lagi menahan rasa kantuk di matanya.


Alvin tersenyum kecil, dia pun mengusap kepala wanita itu lembut dan penuh kasih sayang. Sampai akhirnya, mereka pun sampai di sebuah hotel, Alvin menepikan mobilnya dan memasuki halaman hotel lalu berhenti di area parkir.


Dia menatap lekat wajah Alena, dirinya tidak kuasa untuk membangunkan wanita ini. Wajah Alena benar-benar pucat pasi, lingkaran hitam bahkan terlihat jelas di bawah mata indah seorang Alena.


"Kasihan sekali kamu, Len. Sepertinya kamu kelelahan, kamu bahkan masih memakai pakaian yang sama seperti kemarin," gumam Alvin semakin lekat menatap wajah Alena kini.


Alvin menyudahi tatapan matanya. Dia pun berbalik, membuka pintu mobil lalu keluar dari dalamnya kemudian.


Alvin memasuki hotel dan memesan satu kamar, setelah itu dia pun kembali dan membuka pintu mobil di mana Alena berada di dalamnya. Laki-laki itu meraih tubuh ramping Alena dan menggendongnya, membawanya masuk ke dalam hotel.


* * *


"Saya cinta sama kamu, Len," bisik Alvin tersenyum kecil.


"Aku juga." Alena tiba-tiba saja mengeluarkan suara tanpa di duga, padahal kedua matanya masih terpejam sempurna.


"Hah? A-alena, kamu sudah bangun?" tanya Alvin mengerutkan kening.


Akan tetapi, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun atas pertanyannya. Yang terdengar hanyalah suara hembusan napasnya sebagai pertanda bahwa wanita ini masih tertidur dengan begitu lelapnya.


"Kamu cuma mengigau ternyata. Saya pikir kamu mendengar apa yang saya katakan," gumam Alvin.

__ADS_1


Perlahan, dia pun mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Alena, satu kecupan mendarat di kening wanita itu lembut penuh kasih sayang. Rasa cinta itu semakin dalam saja di dalam hatinya kini. Sepertinya, Alvin tidak bisa hidup tanpa wanita bernama lengkap Alena Dwi Pratiwi.


"Besok kita datangi kantor polisi. Kita laporkan kehilangan Lani biar mereka bisa membantu kita dalam mencari dia. Sekalian saya juga akan memenjarakan mantan suami kamu, agar dia tidak bisa menganggu kalian lagi. Kamu, Lani dan Lian, saya akan menjaga kalian mulai sekarang," gumamnya lagi bersungguh-sungguh.


* * *


Keesokan harinya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan di pintu seketika membuyarkan lamunan seorang Alviano yang saat ini sedang larut dalam lamunanya. Laki-laki itu pun berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Ceklek!


Pintu pun di buka lebar. Alviano seketika mengerutkan kening saat melihat 2 orang polisi berdiri tepat di depan pintu kini.


"Selamat sore. Apa benar ini kediaman saudara Alviano?" tanya petugas polisi tersebut.


"Betul, ada apa ya?"


"Kami membawa surat perintah penangkapan untuk saudara Alviano atas tuduhan penganiayaan terhadap laki-laki bernama Alvin."


Alviano seketika merasa terkejut tentu saja.


'Sial, jadi si brengsek itu benar-benar melaporkan saya ke pihak berwajib,' umpat Alvin mengepalkan kedua tangannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2