Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Kangen Dede


__ADS_3

Baik Alvin maupun Alena segera berlari mengejar putrinya. Lani nampak berlari keluar dari dalam rumah. Anak itu duduk di bangku taman, menaikan kedua kakinya ke atas kursi lalu memeluk kedua lututnya seraya menangis sesenggukan.


Perlahan, Alena dan suaminya mulai mendekati sang putri. Mereka berdua duduk di sisi kiri dan kakan tubuh Lani kini. Alena menatap lekat wajah sang putri, sedih rasanya melihat Lani seperti ini. Dia tidak seceria dulu lagi, anak ini tidak banyak bicara seperti biasanya. Lani benar-benar berubah, perpisahannya dengan sang adik telah melukai hatinya.


"Maafkan Mommy, Nak. Mommy belum sempat bercerita sama kamu kalau sebenarnya--" Alena memejamkan kedua matanya serta menahan ucapannya.


"Sebenarnya apa, Mom? Dulu Mommy mencari aku ketika aku di bawa sama Daddy, kenapa sekarang kalian diam saja? Kenapa tidak ada yang mencari Dede Lian. Kasihan Dede, Mom," tanya Lani di sela isak tangisnya.


"Bukannya kami tidak mencari Dede Lian, sayang, tapi Dede memang tinggal sama Daddy Alviano sekarang. Mereka sudah pindah keluar negeri, Mommy bahkan tidak tahu mereka pindah ke negara mana? Mommy minta maaf karena Mommy tidak bisa mencegah kepergian Dede, Mommy benar-benar minta maaf," jawab Alena mencoba untuk bersikap tegar.


"Bohong! Mommy pasti bohong 'kan? Gak mungkin Dede tinggal sama Daddy Alviano, apalagi sampai pindah ke luar negeri. Aku gak percaya!"


Alena seketika meraih ponsel yang dari dalam saku dress yang dia kenakan. Dirinya pun menunjukkan poto sang putra yang waktu itu dikirimkan oleh mantan suaminya dan memperlihatkannya kepada Lani.


"Ini poto Dede di dalam pesawat, Daddy Alviano yang mengirimkannya. Kamu lihat, Dede tersenyum. Dia terlihat bahagia bersama Daddy Alviano."


Lani meraih ponsel sang ibu. Kedua matanya yang saat ini membanjir seketika menatap wajah sang adik. Betapa dia sangat merindukan adiknya itu. Dia pun memeluk ponsel canggih tersebut seolah benar-benar sedang memeluk orang yang sangat dia rindukan.


"Dede! Kenapa Dede ninggalin kaka? Kenapa Dede gak bilang kalau mau ikut tinggal sama orang itu? Kalau Kaka tahu Dede akan pergi, mungkin Kaka akan bersikap baik sama kamu. Maafkan kaka karena selalu berdebat dengan kamu. Kaka sayang sama kamu, Dek. Kaka kangen main sama kamu, hiks hiks hiks!" tangis Lani kembali pecah. Air matanya benar-benar tumpah lengkap dengan suara tangisnya yang terdengar lirih menahan kerinduan.


Alena memeluk tubuh Lani erat. Dia pun mengecup pucuk kepala anak itu lembut dan penuh kasih sayang. Air matanya sebisa mungkin dia tahan. Dia akan berusaha tegar demi sang putri, Alena akan tetap berdiri tegak demi menopang tubuh putrinya tercinta. Satu lagi, dirinya tidak sendirian dalam menghadapi semua ini. Ada Alvin suaminya yang saat ini ikut merentangkan kedua tangannya, memeluk mereka berdua secara bersamaan.


"Lani sayang. Daddy yakin Dede Lian akan balik lagi ke sini. Entah itu besok, besoknya lagi, kalian pasti akan ketemu lagi suatu saat ini. Kita berdoa saja semoga Dede baik-baik saja dan selalu bahagia dimanapun dia berada. Daddy, Mommy, semua yang ada di sini merasa sedih dengan kepergian Dede Lian, tapi mau bagaimana lagi, kami tidak bisa melakukan apapun karena Dede sendiri yang ingin pergi dengan Daddy Alviano."

__ADS_1


"Yang harus kamu lakukan sekarang adalah, makan yang banyak, jaga kesehatan kamu. Karena apa? Karena Dede pasti akan merasa sedih jika tahu kamu sakit seperti ini. Apalagi kalau Dede sampai tahu bahwa kamu tidak makan apapun dari pagi. Kamu harus sehat agar kamu bisa bertemu lagi sama adik kamu," lirih Alvin panjang lebar.


Lani seketika mengurai pelukan lalu menatap wajah ibu dan juga ayah sambungnya secara bergantian. Dia pun mengusap wajahnya sendiri mencoba untuk membersihkan buliran air mata membasahi hampir seluruh wajahnya. Suara tangisan itu sudah tidak lagi terdengar, tapi dada anak itu terlihat naik turun menahan rasa sesak.


"Baiklah, aku janji akan menjaga kesehatanku mulai sekarang. Aku juga akan makan yang banyak, agar aku cepat sembuh dan bertemu dengan Dede Lian lagi. Aku mau disuapin sama Daddy," ucap Lani kemudian.


"Anak baik, kita makan sekarang?"


Lani menganggukkan kepalanya menatap wajah sang ayah dengan tatapan mata sayu. Alvin seketika meraih tubuh kecil Lani dan menggendongnya kemudian. Sementara Alena, dia menatap penuh rasa bangga wajah suaminya. Sepertinya dia tidak salah dalam memilih suami kali ini. Alvin selalu pandai dalam hal menenangkan putrinya, dia benar-benar ayah baik untuk sang putri.


Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah secara bersamaan. Alena melingkarkan pergelangan tangannya di pinggang Alvin, sementara Lani yang saat ini berada di dalam gendongan ayah sambungnya nampak menyandarkan kepala di pundak laki-laki itu. Kedua mata Lani seketika terpejam, rasa kantuk itu tiba-tiba saja datang menyerang.


'Kaka kangen sekali sama kamu, Dek. Kamu baik-baik sama Daddy Alviano di manapun kamu berada sekarang. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti,' batin Lani sebelum akhirnya benar-benar terlelap.


3 hari kemudian.


Malam hari, Alena dan juga Alvin bersiap untuk tertidur. Begitupun dengan Lani yang saat ini sudah membaik, baik secara fisik maupun mentalnya. Wajah anak itu pun tidak semurung beberapa hari yang lalu. Lani seketika turun dari atas ranjang membuat Alena dan juga Alvin merasa heran.


"Kamu mau kemana, Nak? Katanya ngantuk?" tanya Alena mengerutkan kening.


"Mom, malam ini aku tidur sama Eyang ya," jawab Lani.


"Lho, kenapa?" tanya Alena seketika merasa gugup entah mengapa. Sedangkan Alvin tersenyum cengengesan menatap wajah Alena kini.

__ADS_1


"Eu ... Gak tau kenapa. Tiba-tiba saja aku ingin tidur sama Opa sama Eyang, aku ke sana sekarang ya."


"Mau Mommy antar?"


Lani menganggukkan kepalanya seraya membuka mulutnya lebar-lebar menahan rasa kantuk.


"Tapi tunggu, kamu yakin tidak mau tidur sama Mommy sama Daddy?"


Lani menggelengkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, Mommy antarkan kamu ke kamar Eyang ya," ujar Alena, dia pun menggendong tubuh gadis itu lalu berjalan menuju pintu.


Ceklek!


Pintu pun di buka lebar, Alena keluar dari dalam kamar lalu kembali menutup pintu rapat-rapat.


"Yes! Akhirnya ..."


Alvin tiba-tiba saja bersorak seraya berjingkrak kegirangan. Akhirnya malam ini tiba, malam yang telah mereka tunda sekian lama. Alvin benar-benar tidak sabar, telapak tangannya seketika bergerak mengusap pusaka miliknya yang tiba-tiba saja berdiri tegak dan juga berontak.


"Tenang junior, tenang. Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi," gumam Alvin mencoba untuk menenangkan pusaka miliknya yang masih bersembunyi di balik celana boxer yang dia kenakan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2