Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Bibi Anisa


__ADS_3

Ibu paruh baya itu membalikan tubuh Lani pelan, wajah anak itu terlihat pucat pasi juga begitu berantakan. Wajahnya menghitam kotor, rambutnya juga Tidak beraturan hampir menutup sebagian wajahnya. Perlahan gadis itu mulai membuka kedua matanya pelan.


"Syukurlah, kamu hanya tidur di sini, saya kira kamu--" Ibu tersebut tidak meneruskan ucapannya.


"Aku di mana?" tanya Lani menatap sekeliling, kesadarannya belum sepenuhnya pulih usai tertidur karena kelelahan.


"Kamu ada di toko saya, Nak. Rumah kamu di mana? Kenapa kamu sampai tertidur di sini? Penampilan kamu juga tidak seperti pemulung? Apa kamu tersesat?"


"Aku mau pulang ke rumah Mommy. Aku gak mau tinggal di rumah Nenek sama Daddy, tapi aku gak tau harus ke mana," jawab Lani menundukkan kepalanya, batinnya benar-benar tertekan.


"Rumah Mommy kamu di mana? Biar Bibi antarkan kamu ke sana."


Lani terdiam masih menundukkan kepalanya. Dia memainkan ujung kuku jari jempolnya dengan wajah muram. Dirinya tahu betul bahwa rumah sang ibu sangatlah jauh dari tempat itu, tapi dirinya tetap saja nekat meninggalkan kediaman sang nenek.


"Sayang ... Nama kamu siapa? Sekarang sudah malam, gimana kalau kamu menginap dulu di rumah Bibi. Besok pagi Bibi akan antarkan kamu ke rumah ibu kamu, gimana?"


Lani masih diam membisu dengan posisi yang sama.


"Kamu tidak usah khawatir, Bibi bukan orang jahat ko. Nama Bibi Anisa. Bibi pemilik toko ini, kamu pasti lapar. Gimana kalau kamu makan di rumah Bibi?"


Lani sontak mengangkat kepalanya. Dia menatap wajah ibu paruh baya bernama Anisa dengan tatapan mata sayu. Wajah wanita itu memang terlihat teduh, rambutnya di ikat di belakang kepala. Beberapa helai rambut putih nampak terlihat di sela-sela rambut hitamnya. Melihat wanita ini membuat Lani teringat sang Nenek.


"Beneran Bibi mau mengantarkan aku pulang?" Tanya Lani akhirnya mengeluarkan suara khasnya.


"Tentu saja, asalkan kamu bisa menyebutkan alamat lengkap rumah ibu kamu Bibi akan mengantarkan kamu pulang, tapi besok karena sekarang sudah malam."

__ADS_1


Lani akhirnya menganggukkan kepalanya samar. Dia akan mencoba untuk percaya bahwa ibu paruh baya ini bukanlah orang jahat. Jika di lihat dari raut wajahnya, sepertinya Bibi Anisa memanglah orang baik seperti yang dia harapkan.


Dengan di bantu oleh Bibi Anisa, Lani pun berdiri lalu berjalan bersamanya. Wanita bernama Anisa itu bahkan merapikan rambut panjang gadis itu juga membersihkan wajahnya yang menghitam akibat debu jalanan.


* * *


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun tiba di kediaman Bibi Anisa. Rumah sederhana, tapi terlihat asri karena memiliki halaman yang lumayan luas lengkap dengan bunga-bunga yang sengaja di tanam di setiap pojoknya.


Lani menatap sekeliling, rumah tersebut lebih kecil dari kediaman sang nenek di kota. Namun, entah mengapa hatinya merasa tenang. Dia bahkan menggenggam erat telapak tangan Bibi Anisa seolah tidak ingin dilepaskan.


Ceklek!


Pintu rumah pun di buka lebar. Keduanya masuk ke dalam rumah kemudian. Lagi-lagi Lani menatap sekeliling rumah dengan perasaan heran karena rumah tersebut benar-benar sederhana.


"Selamat datang di rumah Bibi. Maaf, rumahnya memang sederhana. Bibi juga tinggal sendiri di sini," ujar Bibi Anisa seperti tahu betul apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh gadis kecil ini.


"Hmm! Kamu pintar sekali, Nak. Kamu pasti lapar? Bibi hangatkan dulu makanan untuk kamu ya?"


Lani menganggukkan kepalanya, mengekori Bibi Anisa yang saat ini berjalan menuju dapur. Gadis kecil itu duduk di kursi ruang makan. Kedua matanya nampak menatap tubuh Bibi yang saat ini sedang menghangatkan makanan di depan kompor yang sedang menyala.


15 menit kemudian, makanan pun tersaji di atas meja. Lani makan dengan begitu lahapnya, sepertinya gadis itu benar-benar tengah kelaparan.


"Pelan-pelan, nanti keselek lho," ucap Bibi Anisa tersenyum kecil.


* * *

__ADS_1


Setelah selesai menyantap makanan, Wanita paruh baya itu mulai membersihkan Lani. Dia membantu Lani mandi dengan menggunakan air hangat juga mengganti pakaiannya.


"Maaf ya, Bibi cuma punya pakaian laki-laki. Kamu bisa menggantinya nanti kalau kamu sudah pulang."


"Ini baju siapa, Bi. Katanya Bibi hanya tinggal sendiri?" Tanya Lani menatap pakaian sederhana yang dia kenakan.


"Ini pakaian putra bibi. Pakaian lama yang masih bibi simpan."


"Putra bibi sekarang di mana? Ko gak ada?"


"Putra bibi ikut ayahnya. Kami bercerai dan putra satu-satunya yang bibi miliki terpaksa ikut ayahnya."


"Bercerai? Kayak Mommy sama Daddy-nya aku?"


"Ibu dan ayah kamu bercerai? Itu sebabnya kamu seperti ini?"


Lani menundukkan kepalanya, wajah gadis itu seketika berubah muram. Mengingat perpisahan kedua orang tuanya membuat hati gadis itu merasa terluka. Apa lagi ketika dia mengingat perpisahannya dengan sang ibu semalam, sungguh Lani benar-benar merasa tertekan sebenarnya.


"Ya ampun, Nak. Malang sekali nasib kamu," decak Bibi, memeluk tubuh Lani seraya mengusap punggungnya lembut dan penuh kasih sayang.


"Bi, itu photo siapa?" tanya Lani menatap bingkai photo yang berada di atas meja.


Bibi seketika mengurai pelukan. Dia meraih bingkai tersebut lalu menatap wajah seorang anak laki-laki yang berpose bersamanya di dalam photo tersebut. Wanita itu nampak tersenyum kecil seraya mengusap wajahnya penuh kerinduan.


"Dia putra Bibi. Sekarang mungkin sudah besar dan tampan. Namanya Alvin."

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2