Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Wanita Murahan


__ADS_3

"Aku minta maaf, Tante. Aku benar-benar khilaf, aku juga tidak tahu kalau ternyata Alena itu putri Tante. Aku mohon maafkan aku," ujar April, tiba-tiba saja berjongkok tepat di depan Nyonya Inggrid layaknya seseorang yang sedang bersimpuh.


"Khilaf? Jangan menjadikan kata khilaf sebagai pembelaan atas semua kesalahan yang telah kamu lakukan, April. Gara-gara kamu, ada keluarga yang hancur. Gara-gara kamu ada 2 orang anak yang kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Yang paling menyakitkannya lagi adalah, gara-gara perbuatan kamu 2 orang kaka beradik berpisah sekarang," teriak Fazril tidak kuasa lagi untuk menahan amarahnya.


Dia sudah menahan ini sekian lama. Seorang Fazril sudah menekan emosinya dalam-dalam untuk waktu yang lama. Sekarang dirinya sudah tidak kuasa lagi untuk membendung amarahnya. Dia akan memuntahkannya sekarang.


"Cukup, Fazril," pinta sang ibu, otaknya masih belum bisa berpikir dengan jernih. Sepertinya wanita paruh baya itu syok dengan apa yang baru saja dia dengar dengan kedua telinganya sendiri.


"Tante! Aku mohon maafkan aku. Hiks hiks hiks!" tangis April seketika pecah, entah tangis penuh penyesalan, atau hanya pura-pura menyesal agar bisa menarik simpat Nyonya Inggrid.


"Keluar kamu dari sini, dasar wanita murahan!" teriak Nyonya Inggrid penuh penekanan.


"Tante?"


"Saya minta kamu segera keluar dari rumah ini sebelum saya menjambak rambut kamu, mencakar wajah cantik kamu, dan sebelum saya menendang kamu dengan kaki saya sendiri! Keluaaaar!" teriaknya lagi benar-benar merasa murka.


Tanpa basa-basi lagi, April pun berdiri tegak lalu benar-benar keluar dari dalam rumah tersebut. Ada sedikit penyesalan yang terselip di dalam hati seorang April. Kenapa dirinya tidak berpikir panjang sebelum melakukan perbuatan yang memalukan itu? Satu keluarga benar-benar bercerai berai gara-gara perbuatannya. Seorang kaka harus berpisah dengan adik kesayangannya.


Sebagai seorang wanita dirinya tentu saja merasa iba, apa lagi semua yang diucapkan oleh Fazril benar-benar terasa menusuk, bak busur panah yang tepat mengenai hatinya kini dan rasanya? Sangat menyakitkan tentu saja.


"Tunggu!" pinta Nyoya Inggrid membuat April seketika menghentikan langkah kakinya.


"Perjodohan ini batal. Saya tidak sudi mempunyai seorang menantu wanita murahan seperti kamu!" teriaknya penuh penekanan juga dengan bola mata memerah menahan amarah yang terasa menyesakan dada.


April meneruskan langkah kakinya. Tanpa sepatah katapun juga tanpa menoleh sedikit pun. Fazril segera menghampiri sang ibu yang masih terlihat syok. Wajah Nyonya Inggrid nampak menatap lurus ke depan melayangkan tatapan kosong. Buliran air mata bahkan bergulir begitu saja ketika mengingat betapa menderitanya Alena saat putri bungsunya itu berpisah dengan mantan suaminya.


"Saya minta maaf karena baru mengatakan hal ini sekarang, Bu. Saya menyesal, seharusnya saya segera memberitahukan hal ini semalam," lirih Fazril meraih telapak tangan sang ibu lalu mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang.


"Ibu macam apa yang akan menjodohkan putra sulungnya dengan wanita murahan yang telah menghancurkan rumah tangga putrinya sendiri. Ibu benar-benar bodoh, ibu minta maaf, Nak. Hiks hiks hiks!" ucap sang ibu menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Ibu tidak salah, saya yang salah. Saya yang seharusnya minta maaf karena telah pergi begitu saja semalam. Seharusnya saya mengatakan semua ini sama ibu dan ayah."


"Malang sekali nasibmu, Nak. Ibu harap kamu mendapatkan jodoh yang kamu inginkan, menemukan wanita yang kamu impikan. Doa ibu selalu menyertaimu, Nak."


'Saya sudah menemukan wanita yang saya cari, bu. Saya akan memberitahukan kepada ibu siapa wanita itu, tapi tidak sekarang. Ibu masih syok, saya akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan siapa wanita itu,' batin Fazril menatap lekat wajah sang ibu.


"Lebih baik ibu istirahat, saya akan antarkan ibu ke kamar."


Nyonya Inggrid menganggukkan kepalanya dengan wajah datar. Keduanya pun berdiri secara bersamaan, Fazril memapah tubuh sang ibu menuju kamarnya. Diam-diam Nuri dan juga bibi mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


Mereka tidak bermaksud untuk menguping sebenarnya. Hanya saja kedua asisten rumah tangga itu merasa terkejut ketika mendengar suara Fazril dan Nyonya Inggrid berteriak kencang membuat rasa penasaran keduanya semakin menjadi-jadi.


"Aku ndak menyangka kalau ternyata Nona Alena adalah korban perselingkuhan mantan suaminya," ucap Nuri berjalan menuju dapur bersama bibi.


"Bibi pernah mendengar hal ini, tapi bibi gak nyangka ternyata wanita yang telah merusak rumah tangga Nona Alena adalah wanita yang dijodohkan dengan Den Fazril. Kasihan Nyonya besar, beliau pasti syok sekali."


"Mas Fazril juga kasihan. Dia sangat menyayangi adiknya, pasti dia--"


"Ups! Maaf, aku keceplosan, hehehehe!" jawab Nuri tersenyum cengengesan juga menahan rasa malu.


"Semoga jalinan asmara kalian berjalan mulus tanpa ada hambatan, bibi mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."


"Terima kasih, bi."


Keduanya pun duduk di kursi dapur. Nuri meletakan kedua kepalan tangan di bawah dagunya. Tiba-tiba saja dia merasa khawatir dengan keadaan Fazril saat ini. Apakah dia baik-baik saja? Apakah perasaan laki-laki itu juga baik-baik saja?


"Bi," lirih Nuri tatapan matanya menatap lurus ke depan.


"Hmm!"

__ADS_1


"Apa Den Fazril baik-baik saja? Sepertinya dia emosi sekali tadi."


"Kenapa tidak kamu tanyakan langsung sama dia."


"Hmm! Beliau pasti sedang menemani Nyonya besar, aku ndak mau menganggu dia."


"Kamu bisa menanyakan langsung kepada orangnya."


"Ndak akh, nanti saja."


Nuri masih dalam posisi yang sama. Pikirannya benar-benar melayang memikirkan sang kekasih tercinta. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Fazril sudah duduk tepat di sampingnya kini, sedangkan bibi segera pergi saat laki-laki itu memberikan isyarat kepadanya.


"Kamu mengkhawatirkan saya?" tanya Fazril membuat Nuri seketika merasa terkejut tentu saja.


"Den Azril? Eh ... Maksud saya, Den Faazril," lirih Nuri seketika menoleh dan menatap wajah Fazril kini.


"Mas Fazril. Saya 'kan sudah pernah bilang. Panggil saya dengan sebutan Mas ketika kita sedang berdua kayak gini."


"Berdua? Bibi mana? Sejak kapan Mas Fazril berada di sini?"


"Sejak tadi."


"Hmm! Dasar! Udah kayak jelangkung aja, datang tak di undang dan pergi tak di antar."


Grep!


Fazril tiba-tiba saja memeluk tubuh Nuri membuat gadis itu merasa terhenyak.


"Mas?"

__ADS_1


"Biarkan saya memeluk kamu sebentar saja. Saya sedang tidak baik-baik saja. Hanya kamu yang bisa menenangkan saya, Nuri."


BERSAMBUNG


__ADS_2