Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Cinderella


__ADS_3

"Bibi mau bicara apa?" tanya Nuri duduk di tepi ranjang bersama Bibi.


"Begini, Nuri. Bibi tidak bermaksud untuk ikut campur dengan urusan kamu dan Den Fazril. Dari awal Bibi sudah dapat menebak ada yang tidak beres dengan kalian, tapi Ndo apa kamu yakin dengan--"


"Aku udah berusaha untuk menolak, Bi. Namun, Den Fazril terus saja mengejar-ngejar aku. Wanita mana yang bisa tahan di kejar sama laki-laki seperti dia," sela Nuri menunduk seraya memainkan ujung kuku jari jempolnya.


"Iya, Bibi tahu. Masalahnya di sini adalah, apa kamu benar-benar mencintai Den Fazril? Selama Bibi bekerja di sini, dia tidak pernah membawa perempuan ke rumah ini. Jika dia sudah jatuh cinta sama kamu bahkan menolak untuk di jodohkan dengan wanita pilihan Tuan dan Nyonya, itu artinya dia bersungguh-sungguh dalam mencintai kamu, Nuri."


Nuri terdiam mencoba untuk menyelami lubuk hatinya yang paling dalam. Apakah dia benar-benar mencintai majikannya itu? Atau, perasaan itu hanya cinta sesaat yang hanya singgah dan akan pergi jika waktunya sudah habis? Seperti kisah Cinderella yang bertemu sang pangeran lalu berpisah di tengah malam?


"Nuri," sapa Bibi, mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang membuat gadis itu sontak mengangkat kepala menatap wajahnya kini.


"Jika kamu benar-benar mencintai dia, maka bertahanlah dengan cinta itu. Jalani dengan serius, semoga Nyonya dan Tuan besar bisa merestui hubungan kalian, tapi jika cinta yang kamu rasakan hanyalah sebuah perasaan semu hanya semata karena belas kasihan, lebih baik jangan di teruskan karena hanya akan menyisakan luka di kemudian hari," jelas Bibi panjang lebar.


"Aku ndak tahu, Bi. Aku bingung. Aku takut Nyonya dan Tuan besar tidak merestui hubungan kami," jawab Nuri kembali menunduk sedih.


"Hmm! Berdoa saja, semoga mereka berdua merestui hubungan kalian. Tuan sama Nyonya itu orang-orang baik. Bibi yakin mereka tidak akan bersikap egois dan memaksa Den Fazril untuk meninggalkan gadis yang dicintai oleh putranya."


"Terima kasih, Bi."


"Bibi doakan yang terbaik untuk kamu. Walau bagaimana pun, Den Fazril sudah seperti anak Bibi sendiri."


Nuri tersenyum kecil lalu memeluk wanita paruh baya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Fazril merentangkan kedua tangannya seraya berbaring di atas ranjang. Karena hari ini adalah hari minggu, dirinya akan menghabiskan waktu di rumah dengan bermalas-malasan juga melewati hari-harinya dengan mengekori Nuri kekasihnya.


Tok! Tok! Tok!


"Maaf, Den. Di panggil sama Nyonya di bawah," terdengar suara ketukan juga suara seorang wanita yang sangat dia kenal.


"Masuk!" pinta Fazril menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Bibirnya seketika tersenyum lebar, karena yang di tunggu akhirnya datang.


Ceklek!


Pintu pun di buka lebar. Nuri masuk ke dalam kamar. Dia menggelengkan kepalanya menatap wajah sang kekasih yang masih terlihat bermalas-malasan di atas ranjang.


"Astaga, Den. Sudah jam 9 lho ini, udah siang ko masih tiduran?" tanya Nuri berjalan menghampiri.


"Hmm! Hari ini hari minggu. Saya ingin tidur seharian. Semalam saya gak bisa tidur," jawab Fazril tersenyum menatap wajah Nuri yang terlihat cantik seperti biasanya.


"Ish? Memangnya kenapa Aden gak bisa tidur?"


Wajah Nuri seketika memerah. Dia memalingkan wajahnya menatap ke arah lain seraya menahan senyuman di bibirnya kini. Laki-laki ini selalu saja pandai membuat hatinya merasa berbunga-bunga.


"Aden di panggil sama Nyonya. Di bawah ada tamu yang nyariin Aden lho," ucap Nuri kembali menatap wajah Fazril.


"Nyariin saya? Siapa?"


"Seorang perempuan. Sepertinya wanita yang dijodohkan sama Den Fazril."


"Maksudnya si April?"

__ADS_1


"Entahlah, aku ndak tahu siapa nama dia."


Fazril semakin lekat menatap wajah Nuri. Kenapa kekasihnya ini terlihat biasa saja ketika mengatakan hal itu? Apakah Nuri sama sekali tidak merasa cemburu? Fazril mengerucutkan bibirnya terlihat kesal.


"Ko malah bengong? Buruan bangun. Nyonya nungguin Den Fazril di bawah," pinta Nuri kemudian.


"Kamu gak cemburu?"


"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu?"


"Ada seorang wanita yang sedang menunggu pacar kamu di bawah dan kamu baik-baik saja, tidak merasa cemburu sedikit pun gitu?"


"Hah? Hahahaha! Untuk apa aku cemburu, toh aku yakin cintanya Den Fazril hanya untuk aku. Jadi, meskipun gadis di bawah sana lebih cantik dariku, tidak mungkin Aden mengkhianati aku bukan?" jawab Nuri santai.


"Ish! Padahal saya ingin melihat kamu cemburu lho."


"Apaan sih. Memangnya kita ini anak remaja yang sedang kasmaran apa? Sudah akh, aku harus ke belakang. Masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan." Nuri seketika berbalik dan hendak keluar dari dalam kamar.


"Tunggu, sayang."


Gadis itu pun sontak menghentikan langkah kakinya lalu kembali menoleh dan menatap wajah Fazril sang kekasih.


"I love you," ujar Fazril tersenyum kecil.


"I love you too, Mas Fazril," jawab Nuri balas tersenyum lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.


'Bohong kalau aku tidak merasa cemburu sama sekali,' batin Nuri.

__ADS_1


'Mau apa si Aprilia itu datang kemari?' batin Fazril mengerutkan kening.


BERSAMBUNG


__ADS_2