
"Apa maksud, Aden? A-aku tidak mengerti, Den," tanya Nuri dengan nada suara terbata-bata.
Grep!
Fazril tiba-tiba saja meraih pinggang gadis itu dan menariknya hingga tubuh Nuri benar-benar berada sangat dekat dengannya, karena hanya terhalang oleh jendela yang memang di buka lebar. Laki-laki itu menatap lekat wajah Nuri, menyisir setiap jengkal lekuk wajahnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Den A-azril mau ngapain?" Tanya Nuri dengan jantung yang seketika berdetak kencang. Dia pun menatap wajah sang majikan merasa bingung.
"Kamu tahu, kamu itu telah mengusik ketenangan hidup saya."
Nuri mengerutkan kening.
"Jujur, saya--"
Ceklek!
"Om Pazril, kita main yu!"
Bruk!
Tubuh Nuri tiba-tiba saja di hempaskan kasar hingga gadis itu tersungkur di atas tanah tepat di luar jendela, saat pintu kamar tiba-tiba saja di buka. Lani masuk ke dalamnya tanpa aba-aba lengkap dengan suaranya yang cempreng mengejutkan Fazril tentu saja.
Breeet!
Tirai gorden pun seketika di tutup rapat kemudian. Fazril terlihat gelagapan. Dia menatap tubuh Lani yang saat ini sudah berdiri di depannya kini.
"Kamu ini, kalau masuk kamar Om itu ketuk pintu dulu, gimana sih?" ucap Fazril terlihat gugup.
"Ya maaf, habisnya pintunya gak di kunci sih."
"Terus?"
__ADS_1
"Temani aku main!"
"Huaaaaa! Om ngantuk banget, Om lelah sekali setelah seharian bekerja," jawab Fazril berjalan ke arah ranjang lalu menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas ranjang.
Bruk!
Fazril berbaring terlentang, dia pun berpura-pura memejamkan kedua matanya kini. Suara dengkuran pun terdengar di buat-buat berharap keponakannya ini akan segera keluar dari dalam kamar.
"Ikh! Om Fazril nyebelin. Ya udah aku mau main sama Eyang aja," ketus Lani berjalan keluar dari dalam kamar, gadis kecil itu pun kembali menutup pintu kamar.
Fazril diam-diam menahan senyuman di bibirnya, dia segera bangkit lalu berjalan ke arah jendela dengan tergesa-gesa untuk memastikan bahwa Nuri baik-baik saja. Dia membuka tirai jendela lalu menatap sekeliling halaman. Gadis itu sudah tidak berada lagi di sana ternyata. Bahkan dia tidak ada dimanapun di setiap sudut halaman luas itu.
"Astaga! Apa yang saya lakukan? Dia pasti terjatuh tadi, ish ... Dasar bodoh!" umpatnya merasa kesal.
.
Sementara itu. Nuri berjalan seraya meniup telapak tangannya yang lecet akibat di jatuhkan secara tiba-tiba oleh majikannya sendiri. Jujur, dirinya seperti di bawa terbang ke awang-awang lalu hempaskan ke dasar jurang. Bagaimana tidak, di saat hatinya sedang merasa berbunga-bunga, tiba-tiba saja dia hempaskan hingga tersungkur. Nuri benar-benar merasa kesal.
"Dasar orang kaya arogan. Enak aja main jatuh-jatuhin aku begitu saja. Memangnya gak sakit apa? Apa dia pikir karena dia majikan aku, si Azril itu bisa seenaknya memperlakukan aku gitu! Dasar nyebelin," gerutu Nuri mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.
"Awww! Perih juga ternyata, gimana aku bisa bekerja jika telapak tanganku seperti ini?" ringisnya, kembali meniup telapak tangannya yang memerah juga lecet. Bukan hanya itu saja, pinggang dan juga punggung Nuri terasa sakit kini.
"Awas aja ya, aku gak bakalan mau bicara sama Den Azril lagi, benci aku sama dia."
"Jadi kamu benci sama saya?" tiba-tiba saja terdengar suara sang majikan, berdiri tepat di depan pintu membuat Nuri sontak berdiri seraya menundukkan kepalanya merasa ketakutan.
"Den Aa-azil," lirih Nuri dengan nada suara gemetar.
"Nama saya Fazril bukan Azril. Astaga! Nuri, Nuri!" decak Fazril tersenyum cengengesan seraya berjalan menghampiri.
"Ma-maaf, Den Faazril."
__ADS_1
"Iya, saya maafkan. Lain kali jangan panggil saya dengan sebutan Azril, tapi Fazril. F A Z R I L, Fazril. Paham!"
"Baik, Den."
"Sekarang duduk."
"Hah?" Nuri seketika mengangkat kepala menatap wajah laki-laki itu seraya mengerutkan kening.
"Kalau saya bilang duduk ya duduk, Nuri, ck ck ck!" decak Fazril menurunkan bahu Nuri membuat gadis itu sontak terduduk dengan perasaan heran.
Fazril tiba-tiba saja berjongkok tepat di depan kursi membuat Nuri semakin merasa kebingungan saja kini. Perlahan, laki-laki itu mulai meraih telapak tangan sang asisten rumah tangga. Nuri sempat menarik pergelangan tangannya, tapi segera di tahan oleh Fazril dengan segera.
Nuri mengepalkan kedua tangannya. Dia mengigit bibir bawahnya keras seraya menatap wajah Fazril lekat. Gadis itu benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan majikannya ini.
"Buka telapak tangan kamu, Nuri," pinta Fazril.
"A-aden mau apa?" tanya Nuri masih menahan telapak tangganya.
"Hmm! Dasar keras kepala," decak Fazril, membuka telapak tangan gadis itu pelan dan sangat hati-hati.
"Awww!" ringis Nuri secara refleks.
Fazril meniup telapak tangan gadis itu lembut dan penuh kasih sayang. Dia pun mengusapnya penuh perasaaan. Apa yang di lakukan oleh laki-laki itu tentu saja membuat Nuri semakin merasa heran.
"Jangan seperti ini, Den. Aden kenapa sebenarnya?" tanya Nuri menarik telapak tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan sang majikan.
"Maafkan saya, Nuri. Maaf karena saya telah menjatuhkan kamu tadi. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya juga belum sempat mengatakan apa yang ingin saya katakan."
"Me-mangnya Den Fazril mau mengatakan apa? Aden tidak akan memarahi aku lagi 'kan?"
"Tidak, Nuri. Justru saya mau mengatakan bahwa--" Fazril menahan ucapannya. Dia pun memejamkan kedua matanya seraya meraih kembali telapak tangan gadis itu lalu mengecup luka memerah yang disebabkan oleh dirinya.
__ADS_1
"Saya suka sama kamu, Nuri."
BERSAMBUNG