Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Mengadopsi


__ADS_3

Fazril dan juga istrinya mulai memasuki halaman panti asuhan. Keduanya nampak menatap sekeliling yang terlihat ramai dengan anak-anak yang sedang berlalu lalang. Nuri tersenyum ramah, ketika satu-persatu dari mereka menyapa dirinya ramah dan sopan. Sepertinya penghuni panti di sini di didik dengan baik.


Terbukti mereka begitu ramah kepada pengunjung. Namun, ada satu anak yang menarik perhatian mereka berdua. Di saat anak-anak lain sedang asik bermain, anak ini nampak sedang duduk sendirian dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tatapan mata anak berusia sekitar 10 tahun itu menatap lurus ke depan melayangkan tatapan kosong. Nuri menatap lekat anak tersebut, entah mengapa hatinya merasa terhenyak.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Fazril menoleh dan menatap wajah Nuri sang istri.


"Hah? Eu ... Nggak ko, Mas. Aku gak apa-apa," jawab Nuri balas menatap wajah suaminya seraya tersenyum kecil. Akhirnya mereka pun sampai di kantor di mana Ibu panti sedang menunggu kedatangan mereka.


"Selamat pagi, Pak, Bu. Silahkan masuk," pintanya kemudian.


"Selamat pagi juga, Bu. Perkenalkan saya Fazril dan ini istri saya Nuri. Saya yang kemarin menelpon Ibu," jawab Fazril memperkenalkan diri dan juga sang istri seraya menyalami wanita paruh baya yang merupakan pengurus sekaligus pemilik panti tersebut.


"Saya Ibu Fathimah pemilik panti ini, silahkan duduk Ibu, Pak."


"Terima kasih, Ibu Fathimah," jawab Nuri lalu duduk di kursi secara berdampingan dengan suaminya.


"Begini, Bu. Kami berencana ingin mengadopsi seorang anak dari panti asuhan ini. Prosedur apa saja yang harus kami lakukan?" tanya Fazril.


"Boleh sekali, Pak. Kami akan memberitahukan prosedur apa saja yang harus Anda lakukan. Namun, sebelum itu dilakukan bisa Anda memberitahukan anak usia berapa yang ingin Anda adopsi?"


"Eu ... Begini, Bu. Saya melihat seorang anak yang duduk sendirian di sana. Boleh saya berkenalan dengan dia," ucap Nuri menatap ke luar jendela.


"Anak mana yang Anda maksudkan?"

__ADS_1


Nuri menunjuk anak yang tadi dia lihat. Entah mengapa hatinya merasa bergetar ketika pertama kali melihat anak itu. Ibu panti nampak mengangguk tanda mengerti, sementara Fazril mengerutkan kening karena istrinya tidak mengatakan apapun ketika mereka melintas di sana tadi.


"Oh dia. Hmm! Namanya Stela, usianya sekitar 10 tahun. Dia penghuni baru di sini. Baru sekitar 1 bulan dia di titipkan di sini oleh Tantenya. Kedua orang tua anak itu baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu, dan karena kerabatnya tidak ada yang mau merawat, Tante anak itu menitipkan dia di panti asuhan ini," jelas Ibu panti panjang lebar.


"Kasihan sekali dia. Padahal anak itu begitu cantik, kenapa kerabatnya tidak ada yang bersedia merawat?"


"Mereka mengatakan tidak mampu untuk membiayai Stela, itu sebabnya dia di kirim ke sini."


"Boleh saya berkenalan sama dia, Bu?"


"Tentu saja boleh, sebentar saya akan panggil dia ke sini."


Nuri dan suaminya menganggukkan kepala. Sementara Ibu Fathimah segera keluar dari dalam ruangan untuk memanggil anak bernama Stela. Fazril meraih telapak tangan istrinya lalu menggenggam jemarinya erat.


"Entahlah, Mas. Perasaan aku langsung terhenyak ketika melihat anak itu tadi. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang aneh di dalam hati aku. Sepertinya anak itu lebih membutuhkan kita dibandingkan anak-anak lainnya yang terlihat begitu bahagia. Kita lihat saja dulu, apakah anak itu bersedia untuk kita adopsi," jawab Nuri tersenyum kecil.


Ya ... Dia memang merasakan sesuatu yang aneh ketika melihat wajah Stela. Seperti sebuah ikatan yang dia sendiri tidak paham apa dan kenapa? Nuri merasa biasa saja ketika melihat anak-anak yang sedang bermain dengan begitu riangnya di luar sana, tapi hatinya merasa terhenyak saat melihat Stela yang hanya duduk sendirian saja dengan wajah murungnya.


"Baiklah, jika kamu merasa seperti itu. Kita kenalan saja dulu sama anak itu, semoga dia bersedia kita jadikan anak angkat."


Nuri menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil juga balas menggenggam telapak tangan suaminya. Tidak lama kemudian, Ibu Fathimah kembali bersama anak bernama Stela. Wajah gadis kecil itu nampak datar menatap wajah Nuri dan juga Fazril. Stela benar-benar terlihat murung, tidak ada raut wajah ceria. Anak ini terlihat begitu tertekan.


"Stela, salim sama Om dan Tante," pinta Ibu Fathimah dan segera di turuti oleh Stela.

__ADS_1


Dia menyalami 2 orang asing yang saat ini sedang berada di hadapannya secara bergantian dengan wajah datar. Nuri meminta Stela untuk duduk di sampingnya.


"Nama kamu siapa, Nak?" tanya Nuri merapikan rambut panjang Stela yang sedikit berantakan.


"Nama aku S-stela, Tante," jawab Stela seraya menundukkan kepalanya.


"Hmm! Nama yang bagus. Kenalkan nama Tante Nuri, dan ini suami Tante namanya Om Fazril."


Stela hanya menganggukkan kepalanya samar, menatap wajah keduanya secara bergantian.


"Stela sayang. Tante sama Om ini ingin mengadopsi kamu, mereka orang-orang yang baik. Ibu juga yakin kamu akan diperlukan dengan baik oleh mereka. Apa kamu mau jadi anak angkat Om sama Tante ini?" tanya Ibu Fathimah.


Stela hanya diam seraya menunduk. Dia memainkan kuku jari jempolnya tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Ibu Fathimah. Dirinya baru saja di buang oleh Tantenya sendiri, sebagai seorang anak tentu saja dia merasa terluka dan hal itu membuat Stela merasa trauma. Apabila dia di adopsi, jujur dirinya merasa takut bahwa dia akan di buang lagi nantinya.


"Kenapa kamu diam saja, sayang. Kalau kamu mau kami adopsi, Tante sama Om janji akan menyayangi kamu dengan sepenuh hati. Kami juga janji akan memenuhi semua kebutuhan kamu, sayang. Kamu tidak usah takut," tanya Nuri menatap lekat wajah Stela dengan tatapan mata sayu penuh kasih sayang.


"Betul, sayang. Om janji akan menjadi Ayah yang baik untuk kamu. Kami ingin sekali memiliki seorang putri, 15 tahun kami menikah Tuhan masih belum mempercayakan kami untuk memiliki seorang anak, dan istri Om yang cantik ini langsung jatuh hati ketika pertama kali melihat kamu, sayang."


Stela seketika mengangkat kepala lalu menatap wajah 2 orang itu secara bergantian. Bola mata anak ini nampak memerah seperti memendam kesedihan yang mendalam. Wajahnya yang cantik benar-benar terlihat murung.


"Kalau aku di adopsi sama Om dan Tante, apa nanti aku akan di buang lagi seperti yang dilakukan oleh Tante aku? Aku adalah anak yang bisanya hanya menyusahkan, aku anak yang nakal, aku juga anak yang tidak tahu diri. Itu sebabnya aku di titipkan di sini," jawab Stela dengan nada suara bergetar.


BERSAMBUNG

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2