
Lani berjalan meninggalkan halaman kediaman sang nenek dengan langkah kaki gontai. Kedua matanya memerah, dadanya benar-benar terasa sesak. Kabar yang benar-benar sangat mengejutkan hingga membuat tubuh gadis itu melemas dan terasa akan tumbang.
Alviano sang ayah ternyata sudah meninggal akibat kecelakaan? Sungguh kabar yang membuat Lani diliputi kesedihan yang mendalam. Walau bagaimana pun dia adalah ayah kandungnya. Dirinya memang sempat membenci sang ayah, tapi dia tidak menyangka bahwa ayahnya itu tidak berusia panjang. Dia bahkan belum sempat meminta maaf bahkan tidak di beri kesempatan bertemu untuk terakhir kalinya.
Rasa sayang itu masih terselip di dalam hatinya sampai saat ini. Meskipun rasa benci sempat mendominasi perasaanya, tapi dia menyesali hal itu, sangat menyesalinya. Gadis itu pun hampir saja tumbang tepat di depan mobil miliknya, dia segera menyandarkan punggungnya mencoba untuk bertahan.
"Daddy! Hiks hiks hiks!" tangis Lani seketika pecah tanpa mengeluarkan suara.
Dia memejamkan kedua matanya mencoba menahan berbagai rasa di tubuhnya. Antara sedih menyesal dan sakit benar-benar melebur menjadi satu kini. Lani mencoba melanjutkan langkah kakinya. Dengan menjadikan badan mobil sebagai tumpuan, dia pun berusaha untuk berjalan ke arah samping dan membuka pintu mobil kemudian.
Ceklek!
Pintu mobil pun di buka lebar. Lani seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut bukan kepalang. Sang adik yang semula berada di dalam mobil kini tidak berada lagi di sana. Dia memang sengaja tidak mengunci mobil miliknya itu agar adiknya bisa keluar ketika dia terbangun.
"Naila! Astaga, kamu kemana?" teriak Lani, kembali menutup pintu mobil lalu menatap sekeliling dengan perasaan khawatir. Gadis itu berjalan ke sana ke mari mencari keberadaan sang adik seraya berteriak memanggil namanya.
"Nailaaaaa!" teriak Lani secara berkali-kali.
"Aku di sini, Kak!" tiba-tiba dia mendengar suara Naila dari sebrang sana, dia berjalan bersama seorang pemuda yang tidak di kenal.
"Astaga, Naila!" decak Lani segera berlari menghampiri meskipun kedua kakinya terasa sangat lemas sebenarnya.
"Kaka dari mana aja sih? Aku nyariin kaka tau, untung aku ketemu sama kaka ini," tanya Naila mendongakkan kepalanya menatap pemuda yang saat ini memakai celana jeans lusuh berwarna abu dengan jaket kulit yang membalut tubuh bagian atasnya.
"Kaka ada di dalam tadi, kita pulang sekarang. Untung kamu gak ketemu sama menculik lho," jawab Lani segera menarik telapak telapak tangannya hingga gadis kecil itu berdiri tepat di sampingnya kini.
__ADS_1
"Tadi saya tidak sengaja ketemu dia di persimpangan jalan sana. Untung anak ini belum pergi terlalu jauh," ujar pemuda berusia sekitar 18 tahunan yang terlihat seperti berandalan.
Lani menatap lekat pemuda itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Keningnya nampak dikerutkan, penampilan pemuda ini sangat urakan, dirinya seketika mengingat sang adik yang masih belum diketahui keberadaanya saat ini. Semoga saja dia baik-baik saja di suatu tempat.
"Terima kasih karena telah mengantarkan adikku," jawab Lani sementara kedua matanya masih menatap wajah pemuda itu lekat seperti merasakan sesuatu yang aneh.
"Sama-sama, lain kali jangan pernah meninggalkan anak kecil sendirian. Kalau dia tidak bertemu dengan saya, mungkin anak ini sudah di culik orang tak di kenal, atau mungkin sudah tersesat."
Lani hanya tersenyum menanggapi.
"Saya permisi," ucap sang pemuda dan hanya di tanggapi dengan senyuman ramah juga anggukan kecil oleh Lani.
Pemuda tersebut pun berbalik dan benar-benar meninggalkan Lani juga Naila di sana. Hal yang sama pun dilakukan oleh Lani dan adiknya. Dia berbalik dan berjalan ke arah mobil, keduanya masuk ke dalamnya secara bersamaan. Mesin mobil pun di nyalakan lalu perlahan mulai melaju meninggalkan tempat itu.
Di perjalanan.
"Aku minta maaf, Kak. Aku janji gak akan kayak gini lagi."
Lani hanya tersenyum kecil. Telapak tangannya seketika bergerak mengusap kepala sang adik lembut dan penuh kasih sayang. Dia menoleh dan menatap wajah Naila sejenak, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Untung ada kaka Lian, kalau tidak aku mungkin sudah tertabrak mobil tadi."
Ckiiit!
Lani seketika menghentikan laju mobilnya di tengah jalan. Beruntung keadaan sedang sepi pengendara. Dia merasa terkejut ketika adiknya menyebutkan nama Lian.
__ADS_1
"Apa? Kamu bilang apa tadi?" tanya Lani menatap lekat wajah sang adik kini.
"Kaka Lian. Tadi aku sempat berkenalan sama kaka yang nolong aku itu."
Hati seorang Lani merasa terhenyak. Lian? Pemuda urakan tadi itu bernama Lian? Buliran air mata tiba-tiba berjatuhan tanpa terasa membuat Naila seketika merasa heran tentu saja.
"Kaka kenapa nangis?" tanya Naila mengerutkan kening. Namun, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun.
Lani tiba-tiba kembali menginjak pedal gas. Dia pun memutar arah dengan kecepatan tinggi dengan begitu lihainya. Mobil pun melaju dengan kecepatan di atas rata-rata kembali ke tempat di mana Lani bertemu dengan pemuda tadi. Semoga saja dia masih berada di sana, dirinya hanya ingin memastikan bahwa pemuda itu benar-benar Lian, adik yang telah berpisah dengannya selama lebih dari 15 tahun lamanya. Adik yang sangat dia rindukan.
'Tunggu kaka, Dek. Maaf karena kaka tidak dapat mengenali kamu. Maaf!' batin Alena diliputi berbagai penyesalan.
Ckiiit!
Mobil pun berhenti di tempat yang sama saat dirinya bertemu dengan pemuda itu. Lani segera turun dari dalam mobil diikuti oleh Naila adik bungsunya. Gadis itu menatap sekeliling mencari keberadaan Lian.
"Liaaaaaan!" teriak Lani seraya berjalan ke sana ke mari, beharap bahwa sang adik masih berada di sana.
"Kaka? Kaka kenapa?" tanya Naila benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan sang kaka.
"Nai, apa kaka yang tadi itu mengatakan sama kamu dia tinggal di mana?"
Naila menggelengkan kepalanya menatap wajah sang kaka dengan perasaan heran.
"Ya Tuhan, kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku tidak bisa mengenali adikku sendiri?" decak Lani mengusap wajahnya kasar. Dadanya benar-benar terasa sesak kini, bahkan sangat sesak.
__ADS_1
BERSAMBUNG