Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Menabrak


__ADS_3

Lani menghampiri laki-laki paruh baya yang tertabrak mobilnya dengan tubuh yang gemetar. Bola mata gadis itu benar-benar memerah langkap dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini. Orang itu nampak tidak bergerak, tapi dia dadanya masih terlihat naik turun sebagai pertanda bahwa dia masih bernyawa.


"Pak! Bangun, Pak," ujar Lani dengan nada suara gemetar, tapi orang tersebut masih bergeming di tempatnya.


Tidak lama kemudian. Beberapa orang mulai berlari menghampiri untuk menolong. Air mata Lani benar-benar tumpah juga pada akhirnya, dia takut akan dihakimi oleh mereka.


"Tolong saya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja menabrak Bapak ini, bisa tolong bantu saya untuk membawa dia ke dalam mobil, saya akan membawanya ke Rumah Sakit," pinta Lani.


"Sebaiknya cepat, Mbak. Semoga nyawa Bapak ini masih bisa di selamatkan," ujar salah satu dari mereka.


Setelah itu, mereka pun meraih tubuh korban dan memasukkannya ke dalam mobil milik Lani. Seketika itu juga, Lani segera masuk ke dalam mobil secara tergesa-gesa. Mesin mobil pun di nyalakan dan perlahan mulai berjalan meninggalkan tempat itu menuju Rumah Sakit.


.


Di Rumah Sakit


Alena yang memang sedang bertugas di Rumah Sakit nampak sedang menemani putrinya yang sudah sampai dengan membawa korban yang dia tabrak. Korban tersebut sedang di tangani oleh Dokter lain di ruangan ICU.


"Bagaimana ini, Mom. Kalau Bapak itu sampai tidak tergolong bagaimana? Sumpah demi apapun aku gak sengaja nabrak Bapak itu, Mom," tanya Lani, sekujur tubuhnya nampak gemetar, tangannya bahkan berkeringat dingin merasa ketakutan.


"Ini adalah musibah, sayang. Kamu tidak sengaja menabraknya. Ibu yakin korban akan baik-baik saja, percayakan kepada Dokter ya. Jangan lupa berdoa semoga nyawa korban masih bisa di selamatkan," jawab Alena mengusap punggung sang putri mencoba untuk menenangkan.


"Aku takut, Mom. Sumpah, aku benar-benar takut."

__ADS_1


"Tenang, sayang. Gak akan terjadi apa-apa, percaya sama Mommy. Semuanya akan baik-baik saja."


"Kalau keluarga korban sampai lapor Polisi, bagaimana? Aku gak mau di penjara, Mom. Aku gak mau!"


"Lani sayang. Dengarkan Mommy ... Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak melakukan tindakan tabrak lari, kamu bahkan langsung membawa korban ke sini. Mommy berjanji akan membiayai seluruh pengobatan korban sampai dia sembuh, jadi kamu tidak usah khawatir. Biar Mommy yang urus, Mommy yang akan bertanggung jawab."


Lani menggenggam erat telapak tangan sang Ibu. Dia benar-benar merasa khawatir, apalagi ketika mengingat bahwa sang Ayah pun meninggal karena tertabrak, sungguh pikiran Lani seketika melayang memikirkan hal yang mengerikan.


Tidak lama kemudian. Alvin sang Ayah pun datang setelah mendapat kabar dari istrinya. Dia meminta asisten Dosen untuk menggantikannya mengajar sore ini dan lebih memilih menemani putrinya yang baru saja terkena musibah.


"Apa yang terjadi, sayang?" tanya Alvin sesaat setelah dia sampai tepat di depan mereka berdua.


"Aku menabrak seseorang, Dad. Aku gak sengaja, sumpah. Aku juga segera membawanya ke sini, tapi aku takut kalau nyawa korban tidak tertolong. Bagaimana kalau dia sampai meninggal seperti yang terjadi kepada Daddy Alviano? Aku benar-benar takut, Dad," jawab Lani dengan nada suara lemah.


"Tenang, sayang. Tenang, kita berdoa saja semoga korban baik-baik saja. Karena beliau langsung di bawa kemari, Daddy yakin dia akan tertolong," jawab Alvin memeluk tubuh Lani menenangkan.


Ceklek!


"Bagaimana keadaan korban, Dokter? Dia baik-baik aja 'kan? Korban gak meninggal 'kan?" tanya Lani kemudian.


"Korban selamat, Mbak. Namun, beliau harus di rawat selama beberapa hari di sini," jawab sang Dokter.


"Syukurlah," lirih Lani seketika terasa lemas. Tubuhnya hampir saja tumbang, beruntung kedua tangan sang Ayah segara meraih bahunya dan menopang tubuhnya hingga kembali berdiri tegak sekarang.

__ADS_1


"Sebaiknya, segera hubungi keluarga korban. Silahkan ambil barang-barang korban di bagian informasi, dompet dan barang-barang miliknya berada di sana semua. Setelah keadaan korban benar-benar stabil dia akan segera di bawa ke ruangan rawat inap. Saya permisi ," pamit Dokter lalu kembali masuk ke dalam ruangan.


"Baik, Dok. Terima kasih."


Sepeninggal Dokter, Lani di papah oleh Alvin untuk duduk di kursi semula. Tubuhnya benar-benar terasa lemas usai menerima kejadian yang begitu mengejutkan.


"Kamu istirahat dulu di sini, biar Daddy yang menghubungi keluarga korban," ucap Alvin kemudian.


"Kalau keluarga Bapak itu marah sama aku bagaimana, Dad?" rengek Lani masih diliputi rasa khawatir.


"Tidak akan, kamu tidak usah khawatir. Semua itu biar Daddy sama Mommy saja yang urus. Kamu tenangkan saja perasaan kamu ya."


Lani menganggukkan kepalanya seraya mengusap wajahnya kasar. Kenapa kejadian seperti ini harus menimpanya? Ayah kandungnya harus meregang nyawa karena kecelakaan dan sekarang dia menabrak seseorang, beruntung nasib orang tersebut masih beruntung. Beliau masih di beri kesempatan untuk hidup, tapi tetap saja kejadian seperti ini membuat gadis berusia 20 tahun itu benar-benar merasa syok dan tertekan.


.


Dua Jam Kemudian


Korban sudah di bawa ke ruangan rawat inap. Meskipun dia belum siuman, tapi Dokter sudah menyatakan bahwa korban yang sepertinya berusia awal 50-han itu sudah melewati mara kritisnya. Lani dan kedua orang tuanya nampak selalu mendampingi putri sulungnya. Mereka tidak akan pernah meninggalkan Lani barang sedetik pun.


Ceklek!


Pintu ruangan tiba-tiba saja di buka tanpa di ketuk membuat mereka merasa terkejut tentu saja. Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan dengan wajah memerah seperti sedang menahan amarah. Dia menatap wajah pasien dengan tatapan mata sayu, lalu mengalihkan pandangan matanya kepada ke tiga orang yang saat ini berdiri tepat di tepi ranjang.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Ayah saya? Kenapa beliau bisa tertabrak seperti ini? Saya akan segera melaporkan orang yang telah menabrak Ayah saya kepada pihak berwajib! Astaga Ayah! Hiks hiks hiks!" Laki-laki tersebut seketika menangis histeris meratapi nasib sang Ayah yang saat ini berbaring tidak berdaya di atas ranjang Rumah Sakit.


BERSAMBUNG


__ADS_2