Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Dunia Tidak Sesempit Itu


__ADS_3

"Kamu kenal sama putrinya kawan ayah? Ko kamu bisa tahu nama panjang dia?" tanya Nyonya Inggrid seketika mengerutkan kening.


"Hah? Eu ... Tidak, saya gak kenal sama dia. Saya memang punya kenalan seorang wanita dengan nama yang sama, tapi gak mungkin kalau kenalan saya itu benar-benar wanita yang sama dengan putrinya kawan ayah ini. Dunia tidak sesempit itu, bu," jawab Fazril, semoga perkiraanya tidak salah. Aprilia yang di maksud benar-benar bukan April, wanita yang telah memporak-porandakan rumah tangga sang adik dengan laki-laki bernama Alviano.


"Begitu? Hmm ... Ayah kira kamu benar-benar kenal sama dia."


Fazril hanya tersenyum kecil.


"Baiklah, malam minggu ini kita adakan makan malam dengan kawan ayah itu, biar kamu bisa sekalian berkenalan dengan putrinya, deal ya."


"Terserah ayah saja. Saya lelah, saya istirahat dulu ya," jawab Fazril seketika bangkit lalu hendak pergi.


"O iya, Zril. Adikmu akan pergi bulan madu akhir minggu ini, kamu bantuin ibu jaga Lani, oke?" ucap sang ibu membuat Fazril seketika menghentikan langkah kakinya.


"Bulan madu? Waaaah! Bikin ngiri aja sih," decak Fazril tersenyum kecil.


"Makannya cepat nikah biar bisa bulan madu kayak adik kamu itu. Memangnya kamu gak kesepian apa udah tua masih tidur sendirian?"


Fazril hanya tersenyum menanggapi ucapan sang ibu. Dia pun menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal entah mengapa. Fazril Faisal meneruskan langkah kakinya kemudian.

__ADS_1


"Ck! Ck! Ck! Anak itu, sebenarnya dia ingin cari istri yang seperti apa sih? Kalau kayak gini terus, bisa-bisa gak ada wanita yang mau sama dia nanti," decak sang ibu menatap kepergian putra sulungnya itu.


"Semoga saja mereka cocok, Mas akan langsung menikahkan mereka jika memang perjodohan ini sukses."


"Semoga saja, Mas."


.


Fazril nampak sedang berdiri tepat di depan jendela kamarnya. Tatapan matanya menatap keluar jendela yang memang sengaja dia buka. Pikiran seorang Fazril benar-benar melayang entah kemana. Dia memikirkan berbagai hal yang membuat kepalanya seketika terasa pusing tujuh keliling.


"Ya Tuhan, bagaimana kalau ternyata si Aprilia itu benar-benar orang yang sama? Apa yang akan saya katakan kepada ayah dan ibu?" gumam Fazril seketika dilanda rasa khawatir.


Fazril mengusap wajahnya kasar. Kedua matanya pun ikut terpejam sempurna, dengan hanya memikirkannya saja membuat perasaanya merasa tidak karuan. Laki-laki itu kembali membuka kedua matanya, pemandangan indah pun seketika terpampang nyata di depan sana. Bukan hanya pemandangan biasa, melainkan pemandangan luar biasa yang membuat hati seorang Fazril yang saat ini sedang dilanda rasa gundah pun seketika merasa tenang.


"Betapa indahnya ciptaanmu Tuhan," lirih Fazril tanpa sadar menatap lekat wajah gadis itu seraya tersenyum lebar.


Semakin lekat dia menatap wajah Nuri, maka rasa gundahnya pun semakin hilang dia rasa, semakin Fazril tersenyum lebar, semakin tenang pula hatinya yang semula sedang dilanda rasa dilema. Ternyata, gadis itu mampu membuat hati seorang Fazril merasa tenang. Bukan hanya wajahnya saja yang membuat perasaanya bergetar, tapi senyuman serta wajah polosnya benar-benar mampu mengobati rasa gelisah di hatinya.


Apakah akhirnya Fazril akan sadar bahwa rasa cinta itu benar-benar nyata berada di hatinya? Atau, otak kecilnya kembali menyangkal perasaan itu?

__ADS_1


Breeeet!


Tirai gorden tiba-tiba saja dia tutup rapat saat gadis itu seketika menolah dan menatap wajahnya kini. Fazril memutar tubuh lalu berdiri membelakangi jendela kamarnya. Laki-laki berusia 33 tahun itu pun memejamkan kedua matanya seraya bergumam pelan.


"Sepertinya saya benar-benar telah jatuh cinta sama kamu, Nuri."


Tok! Tok! Tok!


"Astaganaga," decaknya merasa terkejut saat kaca jendela yang berada tepat di belakang punggungnya tiba-tiba saja di ketuk dari luar.


"Den Azril sedang apa di situ?" tanya Nuri berdiri di luar jendela yang memang masih terbuka sempurna.


Breeeet!


Tirai gorden pun kembali di buka sempurna. Gadis bernama Nuri itu berdiri tepat di depannya kini. Kedua mata mereka pun seketika saling bertemu, saling menatap satu sama lain dengan jarak yang lumayan dekat karena hanya jendela kamar yang menjadi penghalang tubuh mereka berdua.


"Den Azril? Anda baik-baik saja?" tanya Nuri melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah laki-laki itu.


"Tidak, saya tidak baik-baik saja. Kenapa saya selalu merasa tenang ketika saya melihat wajah kamu, Nuri."

__ADS_1


"Hah?" Nuri seketika mengerutkan kening merasa tidak mengerti.


BERSAMBUNG


__ADS_2