
Lani menoleh dan menatap laki-laki bernama Rendi dengan wajah datar. Dia hanya mengangguk samar tanpa mengatakan apapun. Jujur, hatinya masih merasa sakit atas tuduhan tabrak lari yang dilayangkan kepadanya. Setelah itu, dia dan ke dua orang tuanya benar-benar melanjutkan langkah kaki mereka dan benar-benar keluar dari dalam ruangan tersebut.
Sementara Rendi benar-benar merasa menyesal karena telah marah-marah kepada gadis itu. Seharusnya dia bersyukur karena orang yang telah menabrak Ayahnya bersedia untuk bertanggung jawab dan akan menanggung seluruh biaya pengobatan. Rendi menatap punggung Lani sampai gadis itu benar-benar menghilang di balik pintu.
"Ren ..." Sapa sang Ayah seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Rendi.
"I-iya, Yah. Apa ada yang sakit? Atau, Ayah haus?" tanya Rendi menoleh dan menatap wajah sang Ayah dengan tatapan mata sayu.
"Jangan terlalu keras sama gadis itu, dia tidak sepenuhnya salah. Ayah juga yang salah."
"Iya, Yah. Saya akan meminta maaf secara pribadi sama dia nanti, kalau kami bertemu lagi."
Sang Ayah mengangguk lemah seraya menatap wajah putra kesayangannya.
.
Dua Hari Kemudian
__ADS_1
Lani kembali ke Rumah Sakit, karena kesibukannya berkuliah di salah satu Universitas Negeri, dia baru menyempatkan diri untuk melihat orang yang dia tabrak 2 hari yang lalu. Meskipun begitu, Alena sang Ibu yang memang bekerja di sana selalu memeriksa keadaan korban yang diketahui bernama Bapak Arman Sartoso di sela kesibukannya sebagai seorang Dokter.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
Pintu ruangan pun di ketuk dan di buka, Lani masuk ke dalam ruangan dengan membawa bingkisan berupa buah-buahan yang di tata dengan begitu rapinya di dalam keranjang. Rendi yang memang tidak beranjak sedikit pun dari sisi sang Ayah segera berdiri seraya tersenyum ramah.
"Se-selamat sore, Om," sapa Lani terbata-bata juga merasa canggung sebenarnya.
"Selamat sore, Nak Lani. Silahkan masuk," jawab Pak Arman yang saat ini dalam keadaan duduk dengan bersandar bantal di belakang punggungnya.
"Maaf, saya baru sempat mampir lagi ke sini. Kebetulan saya sedang sibuk akhir-akhir ini. Eu ... Bagaimana keadaan Om? Apa sudah mendingan?"
"Alhamdulillah sudah agak mendingan, kata Dokter dalam beberapa hari ini Ayah sudah boleh pulang," jawab Rendi mewakili Ayah dalam menjawab pertanyaan Lani.
"Syukurlah kalau begitu, saya lega sekali mendengarnya. Semoga Om bisa benar-benar lekas sembuh kembali seperti sedia kala."
__ADS_1
"Amin, Nak Lani. Eu ... Saya berterima kasih karena kamu masih menyempatkan diri untuk datang kemari padahal kamu banyak kegiatan yang lebih penting dari ini," ujar Pak Arman tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa, Om. Sudah kewajiban saya memeriksa keadaan Om. Sesuai dengan janji saya kepada putra Om yang terhormat ini, bahwa saya akan bertanggung-jawab jawab dan memastikan Om sehat kembali seperti sedia kala," jawab Lani melirik sekejap wajah laki-laki bernama Rendi lalu mengalihkan pandangan matanya menatap wajah Bapak Arman.
"Saya minta maaf, Lani. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan kamu waktu itu, saat itu saya benar-benar emosi. Jujur, Ayah adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki saat ini. Itu sebabnya saya benar-benar merasa khawatir saat mengetahui bahwa beliau tertabrak mobil kamu. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya kepadanya kamu," ucap Rendi panjang lebar.
"Baiklah, maaf kamu akan aku terima, tapi lain kali jangan langsung berasumsi sebelum tahu kejadiannya dan langsung menghakimi tanpa menyelidikinya terlebih dahulu."
"Iya, sekali lagi saya meminta maaf sama kamu. Saya juga berterima kasih karena kamu telah bertanggung jawab. Ternyata kamu bukan hanya cantik tapi juga memiliki hati yang baik."
Wajah Lani seketika memerah. Dia pun mencoba untuk menahan senyuman di bibirnya. Dirinya memang sudah sering mendengar pujian seperti itu dari banyak laki-laki, tapi entah mengapa rasanya berbeda ketika dia mendengarnya dari laki-laki bernama Rendi ini.
"Anda terlalu berlebihan dalam memuji saya, Rendi. Eu ... Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama di sini, saya masih punya kesibukan lain. Saya permisi sekarang, Om. Kalau Anda membutuhkan sesuatu jangan sungkan menghubungi saya. Permisi," pamit Lani hendak pergi.
"Tunggu, Lan."
Lani sontak menghentikan langkah kakinya lalu menoleh dan menatap wajah Rendi.
__ADS_1
"Eu ... Boleh saya meminta nomor ponsel kamu. Tadi kamu mengatakan bahwa jika Ayah saya membutuhkan sesuatu beliau bisa langsung menghubungi kamu, tapi gimana saya bisa menghubungi kamu kalau saya sendiri tidak tahu harus menghubungi kamu ke kana?" tanya Rendi seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
BERSAMBUNG