
"Lian, kamu nelpon siapa?" tanya Alena segera meraih ponsel miliknya lalu menutup sambungan telpon.
"Eu ... Aku habis nelpon Daddy," jawab Lian polos.
"Astaga, sayang," decak Alena, memeriksa riwayat panggilan. Dia pun seketika mengusap wajahnya kasar seraya memejamkan kedua matanya.
Ternyata putra bungsunya itu sudah pandai dalam memainkan ponsel. Dia dengan lihainya melakukan panggilan telpon kepada Alviano mantan suaminya. Apa yang dibicarakan oleh sang putra dengan mantan suaminya itu? Alena mendengus kesal, tapi dirinya tidak mengatakan apapun lagi. Tidak ada gunanya dia memarahi sang putra.
"Apa Mommy marah sama aku?" tanya Lian merasa bersalah.
"Tidak, sayang. Mommy tidak marah sama kamu, tapi lain kali kalau kamu mau menelpon Daddy lebih baik kamu bilang dulu sama Mommy."
"Aku minta maaf, lain kali aku akan melakukan hal itu. Aku hanya kangen sama Daddy. Kata Mommy kita akan jalan sama Daddy? Kapan kita melakukannya? Aku juga ingin pulang," rengek Lian membuat Alena merasa bingung menghadapi sikap putra bungsunya itu.
"Iya, sayang. Nanti kita jalan sama Daddy ya, tapi tidak sekarang. Daddy kamu lagi sibuk, Mommy juga sibuk sekolah."
"Selalu kayak gitu. Mommy selalu bilang sibuk, sibuk, dan sibuk, aku benci Mommy!" teriak Lian, berlari keluar dari dalam kamar juga menangis sesenggukan.
"Astaga, sayang!" Alena hendak mengejar, tapi dirinya menahan langkah kakinya karena tubuhnya masih di balut handuk karena baru selesai membersihkan diri.
Blug!
Pintu kamar di tutup kasar oleh sang putra. Lian berlari menuruni satu-persatu anak tangga, hingga dia hampir saja terjatuh. Beruntung, sang kakek yang memang sedang berada di tangga segera meraih tubuh kecil cucunya yang hampir saja terjungkal.
"Ya ampun, cucunya kakek? Kamu kenapa, sayang? Hampir saja kamu jatuh," ujar Kakek menggendong tubuh sang cucu.
"Mommy jahat, aku benci Mommy, hiks hiks hiks!" jawab Lian menangis di dalam dekapan sang kakek.
"Memangnya Mommy kamu kenapa? Coba jelaskan sama kakek."
"Aku ingin pulang, tapi Mommy gak mau. Mommy bilang sibuk, sibuk dan sibuk terus. Padahal aku hanya ingin ketemu sama Daddy. Apa itu salah?"
"Kamu mau pulang ke mana memangnya? Rumah kamu 'kan di sini, sayang."
"Ini rumah kakek sama eyang, bukan rumah aku."
"Kata siapa? Ini rumah kamu juga."
__ADS_1
"Gak mau, pokoknya aku mau pulaaaaaang!" Lian semakin berteriak histeris. Sepertinya anak itu terlalu merindukan ayahnya. Dia tidak seperti sang kaka Lani yang bisa begitu mudahnya menerima keadaan. Lian memang sangat dekat dengan ayahnya selama ini, dan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, anak itu tidak bisa menerima perpisahan orang tuanya.
"Lian sayang," sapa Alena yang sudah selesai berpakaian berjalan di tangga menghampiri sang putra.
"Aku benci Mommy," gerutu Lian memeluk erat tubuh sang kakek.
"Maafkan Mommy, sayang."
"Gak mau!"
"Biarkan dulu, Lena. Lian biar sama ayah dulu," pinta sang ayah berjalan menuruni satu-persatu anak tangga bersama Lian di dalam gendongannya.
Alena hanya bisa menatap sayu wajah sang putra. Hatinya benar-benar merasa pilu. Tidak ada yang salah dengan sikap putranya itu. Dia hanya belum bisa menerima keadaan. Perpisahan kedua orang tuanya masih begitu menyakitkan bagi balita yang tahun ini menginjak usia 4 tahun itu.
'Maafkan Mommy, Nak. Mommy tak bisa menuruti keinginan kamu. Mommy tidak bisa pulang ke rumah Daddy, sampai kapan pun,' batin Alena di landa rasa gundah.
* * *
Satu minggu kemudian.
Dret! Dret! Dret!
Ponsel miliknya seketika bergetar singkat tanda sebuah pesan masuk. Laki-laki berusia 31 tahun itu merogoh ponsel lalu membaca pesan yang baru saja masuk ke benda pipih miliknya itu.
📲 'Maaf, hari ini aku tidak bisa masuk kuliah. Lian sakit, hari ini aku akan membawanya ke Rumah Sakit.'
Seperti itulah isi pesan yang dia baca. Alvin nampak kecewa, tapi dia pun mengerti dengan alasan Alena yang tidak bisa mengikuti kelasnya hari ini.
📲 'Baiklah, semoga Lian cepat sembuh.'
Pesan itu pun dia balas singkat.
"Oke, kita mulai kelas hari ini," ujarnya berjalan menuju tengah, dan pemberian materi pun di mulai.
2 jam kemudian.
Kelas selesai, Alvin mengakhiri kelas dengan memberikan tugas mingguan seperti biasa. Entah mengapa hatinya benar-benar merasa gelisah. Pikirannya melayang memikirkan wanita bernama Alena, entah dia merindukan wanita itu? Atau, memikirkan putra bungsunya yang saat ini di rawat Rumah Sakit.
__ADS_1
Tidak ingin terlalu larut dalam perasaan gelisah yang terasa begitu menyiksa, dia pun berencana untuk mendatangi Rumah Sakit dan melihat sendiri keadaan putra dari wanita yang dia sukai. Selain dari itu, Alvin ingin menemani Alena di sana, karena dia tahu bahwa wanita itu sedang membutuhkan seseorang untuk memberinya dukungan.
* * *
Sementara itu di Rumah Sakit.
Lian di rawat di ruangan VVIP, sudah selama 1 minggu ini anak itu terserang demam. Alena terpaksa menghubungi Alviano mantan suaminya karena sepertinya Lian sakit karena memendam rasa rindu yang mendalam kepada ayahnya itu.
Anak itu nampak berbaring lemah di atas ranjang. Jarum infus menempel sempurna di pergelangan tangan kirinya. Alena dan juga Alviano berdiri saling berdampingan menatap wajah putra mereka yang terlihat pucat pasi juga memejamkan kedua matanya kini.
"Kasian Lian," lirih Alviano mengusap punggung tangan sang putra lembut dan penuh kasih sayang.
"Semua ini salah kamu," celetuk Alena.
"Iya, saya tahu semua ini salah saya, Len. Saya sudah menyesali semua yang pernah saya lakukan di masa lalu. Saya juga sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu."
"Aku tahu."
"Maka dari itu, saya ingin kembali sama kamu, demi putra kita. Kasihan dia, Lian hanya ingin kasih sayang yang utuh dari kita kedua orang tuanya. Saya janji gak akan mengulangi kesalahan saya yang dulu. Saya mohon, Lena."
Alena seketika memejamkan kedua matanya. Permintaan rujuk suaminya yang secara tiba-tiba membuat hatinya merasa dilema jujur saja. Namun, rasa cinta itu sudah tidak lagi tersisa di hatinya. Alviano tidak lebih dari sekedar masa lalu baginya.
"Maaf, aku tak bisa. Jangan menjadikan Lian sebagai alasan untuk meminta rujuk kepadaku karena aku tidak akan pernah mau," jawab Alena memalingkan wajahnya.
'Maafkan Mommy, Nak,' batin Alena.
"Apa karena laki-laki itu? Laki-laki berkaca mata itu?"
"Iya, semua ini gara-gara dia. Aku cinta sama laki-laki itu. Dia calon suami aku, jadi jangan pernah berpikir untuk mengajakku kembali karena aku gak akan pernah mau," tegas Alena penuh penekanan, tapi dengan nada suara yang sedikit di tahan.
Alvin yang baru sampai di depan pintu sontak menghentikan langkah kakinya juga seketika tersenyum merasa senang.
'Kamu mencintai saya? Apa saya tidak salah dengar?' batin Alvin serasa mendapatkan durian runtuh.
BERSAMBUNG
...**************...
__ADS_1