
"Kaka aku ikut," rengek Naila, gadis berusia 10 tahun buah hati dari pernikahan Alena dan juga Alvin.
"Nanai, Kaka gak akan lama. Cuma bantaran doang ko. Kamu tunggu di sini sama Mommy dan Daddy," jawab Lani hendak masuk ke dalam mobil sang ayah.
"Gak! Pokoknya aku ikut, titik!" Naila bersikukuh. Dia masuk ke dalam mobil tanpa aba-aba bahkan tanpa di minta.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka lebar, Naila masuk ke dalamnya kemudian. Lani tidak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan sang adik. Alena dan juga Alvin pun tidak bisa melakukan apapun, putri bungsu mereka memang sangat manja dan keras kepala.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut!" teriak Alena saat Lani mulai masuk ke dalam mobil.
"Baik, Mom. Aku gak akan lama!" jawab Lani mukai menyalakan mesin mobil dan perlahan meninggalkan halaman.
'Sebenarnya Lani mau ke mana? Apa mungkin dia mau menemui neneknya?' batin Alena menatap mobil yang di kendarai oleh putrinya.
.
Di perjalanan.
"Sebenarnya kita mau kemana, kak?" tanya Naila menatap wajah sang kaka.
"Udah jangan banyak nanya. Cukup duduk manis, lagian kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Tidur saja, nanti kaka bangunkan kalau kita sudah sampai," jawab Lani tanpa menoleh. Tatapan matanya nampak lurus menatap ke depan. Otaknya melayang memikirkan adiknya yang telah lama tidak dia temui.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk tidur. Bangunkan aku ketika sudah sampai," jawab Naila patuh. Dia pun memundurkan sandaran jok mobil lalu menyandarkan punggung dan seketika memejamkan kedua matanya kemudian.
Lani tersenyum kecil, dia menoleh dan menatap sejenak wajah sang adik lalu kembali menatap ke depan. Pedal gas pun di injak guna mempercepat laju mobil. Dirinya benar-benar tidak sabar ingin segera tiba di tempat tujuan.
__ADS_1
Ckiiit!
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mobil pun berhenti tepat di depan sebuah pagar. Lani menatap ke arah samping di mana rumah itu berada. Rumah yang menyisakan kenangan pahit di masa lalu, rumah di mana sang nenek dari ayah kandungnya tinggal saat ini.
Sudah berkali-kali dia mendatangi rumah tersebut, tapi dia sama sekali tidak pernah benar-benar mengunjungi rumah itu. Sama seperti yang dia lakukan saat ini, Lani hanya berhenti di tepi jalan dan berharap bahwa dia akan benar-benar bertemu dengan adik yang sangat dia rindukan.
"Kaka harap kamu benar-benar sudah pulang, Dek. Kamu sudah terlalu lama pergi, apa kamu tidak merindukan kaka dan Mommy? Kakak bahkan tidak tahu bagaimana dan seperti apa kabar kamu. Sedikit pun kakak gak pernah melupakan kamu, Lian," gumam Lani, dadanya terasa sesak karena terlalu lama menahan rasa rindu.
Lani seketika mengerutkan kening. Seorang wanita yang sudah tua renta nampak keluar dari dalam rumah tersebut. Ya ... Dia adalah neneknya, rambut sang nenek sudah sepenuhnya memutih. Lani tertegun, dia pun menatap sang nenek dengan tatapan mata sayu.
'Apa aku turun saja ya, udah lama sekali aku gak ketemu nenek. Siapa tahu aku bisa dapat kabar tentang Lian, atau mungkin saja Dede ada di dalam sekarang,' batin Lani.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka lalu kembali di tutup rapat setelah Lani keluar dari dalamnya. Sementara Naila yang saat ini masih tertidur pun dia biarkan di dalam mobil karena tidak kuasa untuk membangunkan.
"Nenek," sapa Lani sesaat setelah dia tiba tepat di hadapan sang nenek.
Wanita tua itu sontak menoleh. Keningnya yang memang sudah berkerut nampak semakin di kerutkan. Beliau sama sekali tidak mengenali cucunya karena mereka memang sudah lama sekali tidak berjumpa.
"Eneng siapa ya?" tanya nenek.
"Ini aku, nek. Aku cucu nenek Lani," jawab Lani seraya menyalami neneknya sementara sang nenek masih mencoba untuk mengingat.
"Cucu? Lani?" gumam nenek dengan nada suara lemah.
"Iya, nek. Aku Lani."
__ADS_1
Nenek masih mengerutkan kening. Sepertinya separuh ingatannya benar-benar sudah memudar. Nenek sama sekali tidak dapat mengingat Lani sedikit pun. Wajar saja, wanita tua itu sudah berusia sangat lanjut yaitu 75 tahun.
"Nenek lupa, Neng. Nenek merasa tidak punya cucu bernama Lani. Nenek juga hanya tinggal sendirian di sini. Nenek hanya sebatang kara."
"Se-sebatang kara? Lalu, Daddy? Eu ... Maksud aku, putra nenek yang bernama Alviano?"
"Si Alviano? Dia putra nenek satu-satunya, nenek sayang sekali sama dia, tapi sayang dia tidak berusia panjang. Alviano meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan."
Kedua kaki Lani seketika melemas. Tubuhnya pun gemetar setelah mendengar kabar tentang sang ayah kandung. Bola mata gadis itu memerah lengkap dengan buliran air mata yang siap untuk di tumpahkan. Ayah kandungnya sudah meninggal? Dada Lani terasa sesak kini. Jika sang ayah sudah tiada, lalu di mana Lian saat ini? Batin Lani benar-benar merasa terkejut.
"Apa me-meninggal?" tanya Lani terbata-bata mencoba untuk menguasai tubuhnya yang terasa akan tumbang.
"Eneng kenal sama putra nenek?"
Lani menganggukkan kepalanya seraya mengigit bibir bawahnya keras. Buliran air mata itu akhirnya jatuh juga membasahi wajahnya kini. Kedua kakinya seketika melangkah seraya merentangkan kedua tangannya. Dia memeluk sang nenek juga menangis sesenggukan.
"Maafkan aku, nek. Aku sering mampir ke sini sebenarnya, tapi aku tidak pernah benar-benar mengunjungi nenek. Yang aku lakukan hanyalah memperhatikan rumah ini dari kejauhan dan berharap akan bertemu dengan Dede Lian. Aku gak tahu jika ternyata Daddy sudah tiada. Aku benar-benar minta maaf," lirih Lani membuat nenek bingung tentu saja.
Otak sang nenek benar-benar mencoba untuk berpikir keras. Namun, usahanya sia-sia saja karena dia sama sekali tidak dapat mengingat apapun. Meskipun begitu, wanita tua itu tetap saja merasa senang karena hidupnya tidak sebatang kara lagi mulai sekarang.
"Gak apa-apa neng. Eneng sudah pulang saja nenek sudah senang sekali. Itu artinya nenek masih punya cucu, nenek tidak sebatang kara lagi mulai sekarang," lirih nenek mengusap punggung Lani lembut dan penuh kasih sayang.
"O iya, nek. Eu ... Bagaimana dengan adikku? Apa Lian tinggal di sini sama nenek?" tanya Lani kembali mengurai pelukan.
"Jangan pernah menyebutkan nama dia lagi, nenek benci sama anak kurang ajar itu."
Lani seketika mengerutkan kening. Dirinya benar-benar merasa heran karena raut wajah nenek benar-benar berubah setelah dia menyebutkan nama sang adik.
"Gara-gara anak kurang ajar itu, putra nenek satu-satunya kecelakaan sampai akhirnya meninggal! Hiks hiks hiks!" Nenek melanjutkan ucapannya dengan nada suara bergetar juga seketika menangis sesenggukan.
__ADS_1
BERSAMBUNG