Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Cucu Kesayangan


__ADS_3

Ceklek!


Blug!


Nyonya Inggrid membuka pintu kamar lalu kembali menutupnya setelah dia keluar dari dalamnya. Wanita paruh baya itu nampak tersenyum senang saat melihat cucunya pulang. Namun, dia seketika mengerutkan kening ketika melihat seorang pemuda yang sama sekali tidak dia kenal.


"Eyang!" sapa Naila segera berlari menghampiri sang Nenek dengan wajah yang ceria, sementara Lani dan adiknya menghentikan langkah kakinya kini.


Lian menatap lekat wajah sang Nenek. Dia mencoba untuk mengingat kenangan masa kecilnya yang sudah hampir sepenuhnya menghilang, tapi tidak dengan rasa itu. Rasa aneh yang terasa mengusik hatinya, ikatan batinnya dengan wanita paruh baya itu kian terasa hingga membuat perasaanya benar-benar merasa terhenyak. Kedua mata Lian pun kian memerah, bibirnya bergumam pelan juga dengan nada suara patah-patah.


"E-Eyang?" gumam Lian membuat sang Nenek tersentak, dia menatap lekat wajah Lian dengan tatapan mata sayu.


"Lian pulang, Eyang. Dede Lian adikku sudah pulang," ucap Lani menoleh dan menatap wajah sang adik seraya tersenyum bahagia.


"Li-lian? Lian cucunya Eyang? Kamu benar Lian? Astaga!" decak sang Nenek, antara percaya dan tidak percaya cucu yang selama ini dia rindukan kini berada di depan mata.


Lian segera berjalan menghampiri lalu memeluk tubuh sang Nenek. Bola matanya memerah menahan rasa rahu dan juga bahagia karena Neneknya itu masih mengingatnya meskipun waktu telah lama berlalu. Sementara Nyonya Inggrid benar-benar menangis sesenggukan seraya mendekap erat tubuh Lian.


"Benar, Eyang. Ini aku Lian cucu Eyang. Kenapa Eyang sudah tua sekali sekarang? Beruntung sekali karena aku masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan Eyang. Aku kangen sekali sama Eyang," lirih Lian.


"Iya, Nak. Eyang juga senang sekali. Eyang memang sudah tua, tapi Eyang tidak pernah sekalipun melupakan kamu cucu kesayangannya Eyang. Ya Tuhan ... Terima kasih! Terima kasih karena engkau telah mempertemukan hanbamu dengan cucu kesayangan saya sebelum saya benar-benar menghadap Engkau."


"Eyang! Kenapa Eyang ngomong kayak gitu? Kita baru saja ketemu lho," tanya Lian seketika mengurai pelukan.


"Maafkan Eyang, Nak. Eyang terlalu senang. Sekarang ceritakan kepada Eyang kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu tidak pulang-pulang? 15 tahun lho, 15 tahun kamu pergi tanpa kabar."


"Ibu, izinkan Lian istirahat dulu. Kita masih memiliki banyak waktu, dia masih bisa menceritakan semua itu nanti," sela Alena, berjalan menghampiri sang ibu lalu menyalami dan memeluknya sejenak.


"Gak apa-apa, Mom. Aku kangen sama Eyang, biarkan aku ngobrol-ngobrol sama beliau, hanya ngobrol santai aja ko," jawab Lian.


"Baiklah, Mommy ke kamar dulu kalau begitu. Mommy lelah sekali."


Lian menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, terlihat begitu bahagia.

__ADS_1


.


Sementara itu di tempat yang berbeda. Fazril menikmati waktu liburnya seharian di rumah. Dia ingin membayar waktu yang telah dia gunakan selama bekerja, bekerja di salah satu kantor pemerintahan menyita banyak waktunya tentu saja. Meskipun setelah 15 tahun pernikahannya dengan wanita bernama Nuri Tuhan masih belum memberikan momongan untuk mereka. Ya ... Nuri masih belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


"Kopinya di minum kang Mas," ucap Nuri meletakan kopi hangat di atas meja.


"Terima kasih istriku tercinta," jawab Fazril meraih dan meneguk pelan kopi buatan sang istri.


Srupuuut!


"Hmm! Kopi buatan kanjeng ayu Nuri tidak pernah berubah sedikit pun. Rasanya manis banget, persis seperti orangnya."


"Ish! Mulai deh gombalnya keluar."


"Tapi kamu suka 'kan?"


"Hmm! Suka dong, sukaaaa banget. Kang Mas tidak pernah berubah sedikit pun meskipun kita sudah 15 tahun mengarungi mahligai rumah tangga. Walaupun--"


"Stt! jangan di teruskan, honey, boney, sweety. Kang Masmu ini tahu kamu ngomong apa," sela Fazril meletakan jari telunjuknya di bibir Nuri sang istri.


"Gak usah di teruskan, sayang. Mas tahu kamu mau ngomong apa."


Nuri seketika menunduk seraya mengigit bibir bawahnya keras. Walau bagaimana pun dirinya merasa sedih karena dia masih belum bisa memberikan seorang putra seperti yang diidam-idamkan oleh suaminya. Fazril memang selalu mengatakan bahwa rasa cintanya tidak akan pernah berkurang meskipun istrinya itu belum mengandung sampai saat ini, tapi sebagai seorang wanita, tentu saja dia ingin merasakan yang namanya menjadi seorang ibu juga memiliki seorang anak untuk melengkapi pernikahan mereka.


"Sayangnya Mas, ko malah melamun gitu?" tanya Fazril seketika meletakan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Apa sebaiknya kita mengadopsi seorang Anak, Mas. Aku pernah dengar, bahwa dengan mengadopsi itu bisa dijadikan sebagai pancingan. Siapa tahu aku bisa hamil nanti," lirih Nuri, jemarinya memainkan rambut suaminya lembut dan penuh kasih sayang.


"Hmm! Apa kamu mau kita mengadopsi anak hanya sebagai pancingan saja? Kalau kita mau melakukan hal itu, maka kita harus benar-benar menganggap dia sebagai anak kita sendiri nanti. Kita tidak boleh membeda-bedakan Anak angkat kita dengan Anak kandung, kasihan dia nanti."


"Ya tentu saja, Mas. Masa iya kita mengadopsi anak lalu membanding-bandingkan dia dengan anak kandung kita nantinya? Aku akan menyayangi dia dengan sepenuh hati layaknya anak sendiri."


"Hmm! Kita pikirkan dulu matang-matang, lalu kita bicarakan hal ini sama Ibu."

__ADS_1


Nuri mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mengecup singkat bibir suaminya. Inilah yang membuat Nuri semakin mencintai Fazril, laki-laki ini sangat menghormati Ibunya. Setiap kali mereka akan mengambil keputusan penting, Ibunya itu selalu dilibatkan.


Dret! Dret! Dret!


Ponsel Fazril yang dia letakan sembarang di atas meja pun seketika bergetar. Nuri segera meraih ponsel tersebut dan menatap layarnya sejenak sebelum akhirnya memberikan kepada suaminya.


"Ibu, Mas. Ko bisa pas gini ya, kita baru saja membicarakan ibu, eh ... Beliau langsung menelpon," ucap Nuri tersenyum manis.


"Itulah yang di namakan ikatan batin, sayang," jawab Fazril menerima ponsel tersebut lalu mengangkat telpon.


📞 "Halo, bu. Ini saya," ucap Fazril masih dalam posisi yang sama.


📞 "Halo, Nak. Ibu mau memberitahukan kabar mengejutkan untuk kamu."


📞 "Kabar mengejutkan apa, Bu? Apa Lani akan segera menikah?"


📞 "Ish, dasar ngaco. Lani masih muda, mana mungkin dia menikah."


📞 "Hehehehe! Saya pikir kabar mengejutkannya itu. Ya udah, saya tidak sabar ingin mendengar kabar mengejutkan apa yang ingin ibu beritahukan kepada saya."


📞 "Lian sudah pulang, Zril. Cucu kesayangan Ibu sudah kembali ke rumah."


📞 "Apa?" Fazril sontak bangkit lalu duduk tegak di atas kursi dengan bola mata yang membulat sempurna merasa terkejut tentu saja.


📞 "Malam ini kamu datang ke rumah bersama istrimu, kita makan malam bersama ya. Ibu tunggu."


📞 "Ba-baik, Bu. Saya dan Nuri akan segera ke sana."


Ucapan terakhir Fazril sebelum dia benar-benar menutup telpon.


"Ada apa, Mas? Ko terkejut begitu?" tanya Nuri mengerutkan kening.


"Lian, sayang. Adik kandungnya Lani sudah pulang. Ya Tuhan saya benar-benar tidak menyangka akan bertemu kembali dengan keponakan saya yang satu itu. Dia pasti sudah besar sekarang."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2