
"Lepasin aku, Den Faaazril. Anda apa-apaan sih?" pinta Nuri menggerakkan tubuhnya sedemikan rupa.
"Saya tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu menjawab pertanyaan saya, Nuri," jawab Fazril mencengkram pinggang gadis itu.
"Pertanyaan apa?"
"Apa kamu benar-benar tidak menyukai saya?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Karena Den Faaaazril bukan type saya, Aden juga nyebelin. Saya tidak suka laki-laki seperti Anda, puas? Sekarang lepaskan saya, kalau sampai Nyonya melihat kita seperti ini saya bisa di pecat nanti."
"Hah? Laki-laki setampan saya bukan type kamu? Jangan bercanda, Nuri."
"Siapa yang bercanda? lepaskan saya Den Faazril."
"Astaga, logat kamu itu. Kenapa medok sekali sih? Apa orang jawa semuanya seperti kamu? Fazril aja sampe panjang gitu, Fazril! Bukan Faaaazril. Gimana sih?"
"Iya Den FAZRIL, sekarang lepaskan saya. Astaga!" jawab Nuri penuh penekanan.
"Apa yang harus saya lakukan agar kamu percaya bahwa saya benar-benar menyukai kamu."
"Tidak ada."
__ADS_1
"Lho, bukankah cinta itu butuh pembuktian?"
"Aku tidak butuh pembuktian cinta dari Anda Den FAZRIL, karena semuanya sia-sia. Aku tidak mungkin menerima cinta semu yang Aden rasakan."
"Cinta semu? Hahahaha! Tahu dari mana kamu kalau cinta saya ini hanya cinta semu? Dasar so tahu." Fazril seketika tertawa nyaring.
"Aden itu majikan saya, Aden sudah di jodohkan dengan wanita yang lebih pantas untuk Aden. Jadi, berhenti bersikap seperti ini. Aku tidak ingin berharap terlalu banyak, karena sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa bersatu. Aku harap Den Fazril mengerti dengan apa yang saya katakan ini," jelas Nuri panjang lebar.
"Apa kalau saya menolak perjodohan itu, kamu akan menerima cinta saya?"
"Tidak!"
Fazril diam seribu bahasa, kenapa rasanya sakit sekali ketika di tolak oleh seorang wanita? Sudah lama sekali dirinya tidak merasakan sakitnya patah hati. Hal yang paling menyakitkannya lagi adalah, dia di tolak oleh gadis yang notabenenya hanyalah seorang asisten rumah tangga biasa.
"Apa sedikit pun kamu tidak menyukai saya?" tanya Fazril menahan rasa kecewanya.
"Bohong!"
"Kenapa aku harus berbohong segala? Apa Anda lupa apa yang telah Anda lakukan kepadaku?"
"Astaga, kamu pendendam juga ternyata."
"Ya, aku memang pendendam. Jadi, lepaskan aku sekarang juga sebelum aku semakin dendam sama Anda."
Bukannya marah dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Nuri, Fazril merasa lucu dengan logat khasnya gadis itu. Terdengar menggelikan juga lucu di telinganya. Gaya bicara Nuri terdengar sangat medok khas gadis pedesaan.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan melepaskan kamu," ucap Fazril melepaskan lingkaran tangannya.
Nuri seketika berdiri tegak. Dia pun mengatur setiap helaan napasnya yang kini berhembus tidak beraturan. Jujur, jantungnya berdetak sangat kencang. Perasaanya pun merasa campur aduk tidak karuan. Walau bagaimana pun, berada di dalam pangkuan seorang laki-laki adalah hal yang baru pertama kali dia lakukan. Tentu saja, baik hati maupun perasaan gadis itu merasa campur aduk sulit untuk di ungkapkan. Dia pun membungkuk hormat lalu hendak keluar dari dalam kamar.
"Saya yakin kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti saya," ucap Fazril membuat Nuri seketika menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa Aden bisa percaya diri seperti itu? Saya sudah mengatakan kalau saya sama sekali tidak menyukai Aden."
"Kalau kamu tidak suka sama saya, kenapa kamu diam saja ketika berada di atas pangkuan saya? Jantung kamu juga berdetak kencang sekali lho, kamu pasti berdebar-debar berada di atas sini 'kan?"
Nuri seketika membulatkan bola matanya dengan wajah yang memerah. Telapak tangannya seketika bergerak mengusap dada sebelah kiri di mana jantungnya berada di dalam sana terasa dag, dig, dug, seperti hendak meledak.
"Kenapa diam saja? Apa yang saya katakan ini benar 'kan? Sudah jujur saja," tanya fazril seraya tersenyum cengengesan.
"Hah? Kata siapa? Memangnya Aden bisa dengar suara detak jantung saya apa? Wong sugih sombong. Tumindak sak senengmu, ngomong sak senengmu. Sakjane aku iki mung wong asor (Dasar orang kaya sombong. Bersikap seenaknya, berkata juga seenaknya. Mentang-mentang aku hanya orang rendahan)"
"Hah? Kamu bilang apa? Astaga, saya benar-benar gak ngerti dengan apa yang kamu katakan, Nuri!" Decak Fazril mengerutkan kening.
Nuri sama sekali tidak menanggapi pertanyaan sang majikan. Dia memang sengaja berbicara menggunakan bahasa daerahnya agar Fazril tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Gadis itu pun keluar dari dalam kamar seraya menahan senyuman di bibirnya.
"Hey, tunggu! Katakan dulu kamu bilang apa tadi? Saya tidak mengerti bahasa Jawa!"
"Pakai saja gugel translate kalau memang ndak mengerti," jawab Nuri seraya berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
"Astaga gadis ini! Hahahaha! Seharusnya saya sakit hati karena telah di tolak mentah-mentah sama dia, ini ko malah sebaliknya. Dia benar-benar lucu, Nuri, Nuri. Semakin kamu mengatakan tidak, maka saya akan semakin mengejar kamu," decak Fazril menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang seraya tertawa nyaring.
__ADS_1
BERSAMBUNG