
Hari berganti dan waktu berlalu. 3 bulan berjalan tanpa terasa, pernikahan Alena dan Alvin pun terlihat begitu bahagia. Begitupun dengan Lani yang sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran sang adik tercinta. Namun, ada yang sedang dilanda dilema ternyata. Ya ... Dia adalah Fazril.
Di usianya yang sudah menginjak 33 tahun, laki-laki itu mulai serius dalam mencari wanita yang akan dia jadikan istri, tapi Fazril masih belum menemukan wanita yang cocok. Masalahnya adalah, dia memiliki standar yang terlalu tinggi. Dirinya ingin wanita yang sempurna, baik secara fisik maupun secara pendidikan. Baginya, bibit, bebet, bobot, adalah nilai dasar dalam menilai seorang pasangan.
Seluruh keluarga nampak sedang berkumpul di meja makan, berbagai makanan pun tersaji di atas meja. Makan malam kali ini sang ayah akan memberitahukan hal yang sangat penting kepada sang putra.
"Hmm! Makanannya banyak banget, tumben," ucap Fazril menatap berbagai menu makanan yang tersaji di atas meja.
"Kebetulan ada asisten rumah tangga baru di rumah ini. Sepertinya Bibi kewalahan dalam mengurus rumah. Makannya ibu tambah satu asisten lagi. Masakannya enak lho, dia pandai memasak," jawab sang ibu memasukan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
"Hmm! Begitu rupanya. Aku belum lihat," jawab Fazril mulai mengisi piring dengan nasi lengkap dengan lauk-pauknya.
"Itu karena Abang selalu sibuk bekerja, kapan nikahnya coba kalau kerja terus kayak gitu," celetuk Alena.
"Itu dia yang ingin ayah bicarakan sama Fazril di sini sekarang. Ayah akan menjodohkan kamu dengan anak dari salah satu kawan ayah, kalau tidak di jodohkan kayak gini, kapan kamu akan menikah, Zril?" ujar sang ayah, menatap wajah Fazril dengan tatapan mata serius.
"Apa? Di jodohkan?" Fazril seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut tentu saja.
"Bagus, Yah. Abang memang harus di jodohkan, standar dia tuh terlalu tinggi. Mau cari istri yang kayak gimana coba? Ingat Abang, manusia itu tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu milik Tuhan Yang Maha Esa."
"Hmm! Pandai sekali kamu kalau ngomong ya. Abang bukan memasang standar tinggi, bibit, bebet, bobot itu penting dalam hal mencari istri, kesempurnaan memang milik Tuhan, tapi setidaknya untuk urusan istri harus mencari yang terbaik di antara yang baik. Ingat, pernikahan itu hanya sekali seumur hidup lho."
__ADS_1
"Iya-iya, Abang menang deh. Semoga Abang bisa menemukan wanita yang sesuai dengan kriteria Abang. Wanita sempurna yang memenuhi kriteria Abang yang selangit itu."
"Sudah-sudah! Ko jadi berdebat gini. Jadi gimana, mau tidak di jodohkan sama putri dari salah satu temannya ayah kamu?" tanya ibu.
"Hmm! Entahlah, saya pikir-pikir dulu," jawab Fazril dengan nada suara datar.
"Yeeeey! Om Fazril bakal nikah juga, akhirnya Om gak jones lagi!" Lani tiba-tiba saja bersorak riang.
"Jones?" Alvin sang ayah membulatkan bola matanya.
"Emangnya Daddy gak tau jones itu apa?"
Alvin menggelengkan kepalanya seraya mengerutkan kening.
"Hah? Astaga, keponakannya Om yang satu ini, tahu dari mana istilah jones? Om memang jomblo, tapi Om gak ngenes lho!" ucap Fazril menatap gemas wajah sang keponakan.
.
Setelah selesai menyantap makan malam, satu-persatu dari mereka pun mulai meninggalkan meja makan menyisakan Fazril sendirian yang saat ini sedang termenung memikirkan perjodohan yang ditawarkan oleh ayahnya. Jujur, Fazril dilanda rasa dilema. Usianya makin bertambah setiap harinya, jika dirinya tidak segera menikah maka dia akan menyandang status perjaka tua.
Laki-laki itu menopang dagunya menggunakan kepalan tangan. Tatapan matanya seolah menatap lurus ke depan, tapi sebenarnya melayangkan tatapan kosong. Bibirnya dia kerucutkan sedemikan rupa, dengan pikiran yang melayang entah kemana.
__ADS_1
"Ya Tuhan, datangkan'lah jodohku secepatnya. Kalau perlu hari ini juga, jangan sampai saya menyandang status sebagai perjaka tua. Saya tidak mau," gumam Fazril tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Seketika itu juga, Fazril tiba-tiba saja melihat wanita melintas tepat di hadapannya. Wanita berambut panjang yang diikat ujung kepala. Wajahnya nampak cantik seperti bidadari meskipun tanpa polesan make up sedikit pun.
"Permisi, Tuan. Apa Anda sudah selesai makan? Mejanya mau saya bereskan," tanya wanita tersebut lembut dan sopan, membuat Fazril seketika tertegun.
"Hah? Memangnya kamu siapa? Bukannya kamu adalah bidadari yang turun dari langit?" tanya Fazril antara sadar tidak sadar.
Otaknya masih belum bisa berpikir dengan benar, perasaanya masih begitu mengagumi kecantikan yang terpancar begitu menyilaukan mata, terlihat berbeda dari wanita-wanita yang pernah dia temui di luaran sana.
"Maaf, Tuan. Saya tidak mengerti dengan apa yang Anda katakan. Saya Nuri, asisten rumah tangga baru di rumah ini."
Gubrak!
Jiwa Fazril seperti dihempaskan dari atas awang-awang. Otaknya yang memang sedang melayang seketika tersadar. Bagaimana bisa gadis secantik ini menjadi seorang asisten rumah tangga di rumahnya? Kenapa juga gadis ini muncul di saat dia sedang mengucapkan doa yang dia ucapkan secara spontan, tapi benar-benar doa yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Apakah ini semacam definisi dari, 'ucapan adalah doa?' Fazril seketika mengusap wajahnya kasar. Jantungnya pun tiba-tiba saja berdetak kencang entah mengapa.
"Tuan? Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Nuri mengerutkan kening.
"I-iya, saya baik-baik saja. Permisi," jawab Fazril terbata-bata merasa gugup. Dia pun bangkit dan berdiri lalu pergi dari ruang makan dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan ucapan adalah doa? Kenapa gadis itu tiba-tiba saja muncul ketika saya baru saja meminta untuk di datangkan jodoh untuk saya? Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin kalau dia itu--" Fazril tidak meneruskan ucapannya.
BERSAMBUNG