
Ckiiit!
Mobil yang dikendarai oleh Fazril berhenti di halaman kediaman sang Ibu. Fazril dan istrinya segera ke luar dari dalam mobil secara bersamaan. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan terlihat mesra layaknya sepasang pengantin baru. Setiap hari bagi mereka terasa seperti pasangan yang baru menikah, selalu terlihat mesra bahkan selalu menghujani pasangan dengan limpahan kasih sayang.
Ceklek!
Pintu utama di buka keduanya masuk ke dalam rumah dengan senyuman lebar yang mengembang sempurna dari bibir keduanya kini. Fazril menatap sekeliling, Alvin yang saat ini sedang menuruni satu-persatu anak tangga segera menghampiri sang Kaka lalu menyapanya sopan.
"Akhirnya Abang datang juga," ucap Alvin menyalaminya lalu memeluknya sejenak.
"Saya dengar Lian sudah pulang?" tanya Fazril sesaat setelah mereka mengurai pelukan singkat itu.
"Lian ada di kamar Ibu, beliau tidak mau di tinggalkan barang sedetik pun oleh cucunya."
"Ibu pasti takut di tinggalkan lagi, waktu kecil Ibulah yang menjaga anak itu ketika Alena sedang berkuliah."
"Sepertinya begitu. Saya juga senang sekali karena setelah sekian lama akhirnya dia kembali berkumpul di tengah-tengah kita, ya meskipun ada kabar duka juga yang kami terima."
"Kabar duka?" Fazril mengerutkan kening merasa tidak mengerti.
"Alviano ayah kandung mereka sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan."
"Apa? Serius? Astaga, semoga dia masih di beri kesempatan untuk bertaubat sebelum azal menjemputnya."
"Ish! Abang bisa aja," decak Alvin seketika tersenyum kecil.
"O iya, saya ke kamar Ibu dulu kalau begitu. Eu ... Sayang, saya akan kenalkan kamu kepada keponakan saya itu," ujar Fazril menoleh dan menatap wajah istrinya, mereka pun berjalan ke arah kamar sang Ibu lalu masuk ke dalamnya kemudian.
Lian nampak sedang duduk di tepi ranjang, sedangkan Ibu duduk dengan bersandar bantan di belakang punggungnya. Tangan Nenek dan cucu itu nampak saling ditautkan erat seolah tidak ingin dipisahkan.
"Lian?" sapa Fazril membuat Lian seketika menoleh dan menatap wajah sang Om.
__ADS_1
Lian mengerutkan kening, dia sama sekali tidak mengenali Fazril. Meskipun begitu, pemuda itu segera berdiri seraya tersenyum ramah lalu menyalaminya sopan. Fazril nampak tersenyum lebar lalu memeluk keponakannya, anak yang dulu sering dia gendong dan di ajak ke mana pun dia pergi. Sungguh! Hati seorang Fazril benar-benar merasa haru dan juga bahagia karena akhirnya mereka bisa berkumpul lagi setelah sekian lama.
"Astaga keponakannya Om, kamu sudah besar, Nak," ujar Fazril menepuk punggung Lian secara berkali-kali.
"Iya, Om. Hehehehe!" jawab Lian seraya tersenyum cengengesan lalu kembali mengurai pelukan.
"Apa kamu tidak mengenali Om?"
Lian menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. Bibirnya tersenyum kecil seraya mencoba untuk kembali mengingat masa kecilnya. Namun, tentu saja dia tidak dapat mengingat apapun, tapi dia senang karena Omnya ini masih mengingatnya setelah sekian lama.
"Hmm! Wajar saja kalau kamu sudah melupakan Om, kamu masih sangat kecil ketika pergi dari rumah ini. Eu ... Om sudah dengar apa yang menimpa Ayahmu, semoga beliau beristirahat dengan tenang di alam sana."
"Terima kasih, Om."
"O iya, kenalkan ini Tante kamu namanya Nuri," ucap Fazril mengenalkan sang istri.
Lian segera menyalami Nuri ramah dan sopan.
Setelah puas menyapa dan melepas rasa rindu kepada keponakan yang baru saja kembali setelah 15 tahun berpisah, mereka berdua pun menghampiri sang Ibu. Sementara Lian berpamitan hendak membersihkan diri. Nuri duduk di tepi ranjang, sementara Fazril duduk tepat di samping Ibunya. Dia menggenggam erat telapak tangan sang Ibu.
"Ibu apa kabar? Ibu pasti senang sekali karena Lian sudah kembali," tanya Fazri mengusap punggung tangan Ibu lembut dan penuh kasih sayang.
"Sangat! Ibu sangat senang. Ibu ikhlas jika Tuhan mengambil nyawa Ibu sekarang juga karena kalian sudah berkumpul kembali. Ibu bahagia sekali sekarang. Ya ... Meskipun satu keinginan Ibu masih belum dikabulkan oleh Tuhan."
"Ibu! Kenapa Ibu bilang seperti itu? Ibu harus berusia panjang. Saya mohon jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi," imbuh Fazril kedua matanya seketika berkaca-kaca, sebagai seorang anak tentu saja dia merasa sedih saat mendengar Ibunya mengatakan hal seperti itu. Fazril mengecup punggung tangan Ibu secara berkali-kali dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Ibu, Bu. Kami belum sempat memberikan cucu untuk Ibu. Aku berharap Ibu berumur panjang dan menyaksikan kami menimang cucu ibu," ucap Nuri memijit kedua kaki Ibu mertuanya pelan.
"Mungkin Tuhan memang belum mempercayakan kalian untuk memiliki momongan, tapi ada 1001 cara untuk mendapatkan keturunan. Cobalah mengadopsi seorang anak, siapa tahu dengan begitu Nuri bisa hamil nanti."
"Iya, Bu. Kami memang sudah berencana untuk mengadopsi seorang anak. Ini baru mau cerita sama Ibu, hehehehe!" Fazril tersenyum lebar.
__ADS_1
"Doa ibu selalu menyertai kalian berdua. Semoga pernikahan kalian selalu bahagia, semoga Nuri bisa segera hamil. Jangan pernah berkecil hati, Nuri. Tetaplah berdoa dan berusaha, Ibu yakin bahwa kamu bisa memberikan keturunan untuk suami kamu. Jikalau pun kamu tidak bisa memberikan Fazril seorang anak, kamu tetap menantu Ibu yang terbaik. Ibu sayang sama kalian berdua," lirih Ibu menatap wajah menantunya juga sang putra secara bergantian.
"Kami juga sayang Ibu," jawab keduanya secara bersamaan lalu memeluk tubuh Ibu secara bergantian.
.
Makan malam dengan formasi lengkap pun berakhir dengan perasaan bahagia. Meskipun tanpa sang Ayah yang telah menghadap Ilahi terlebih dahulu. Ibu terlihat begitu bahagia, kedua matanya bahkan nampak berkaca-kaca menatap anak, cucu serta menantunya secara bergantian.
'Akhirnya keluarga kita lengkap lagi, Mas. Kalau kamu masih ada di sini mungkin Mas juga akan bahagia seperti yang aku rasakan saat ini. Aku sangat merindukanmu, Mas,' batin Nyonya Inggrid.
Wanita paruh baya itu seketika tersenyum ketika kedua matanya seolah menangkap sosok suaminya. Beliau duduk di meja makan bersama mereka semua. Wajah laki-laki itu tersenyum seraya menatap wajah sang istri sebelum akhirnya memudar dan menghilang dari pandangan mata.
'Apakah kamu datang untuk menjemput aku, Mas?' batin Nyonya Inggrid, wajahnya terlihat begitu bahagia.
.
Keesokan harinya.
Ceklek!
Alena membuka pintu kamar sang Ibu lalu masuk ke dalamnya. Dia membawakan sarapan pagi untuk Ibu lengkap dengan segelas susu hangat. Alena meletakan nampan yang dia bawa di atas meja lalu duduk di tepi ranjang untuk membangunkan Ibu.
"Ibu, sarapan dulu. Tumben sudah jam segini Ibu belum bangun," lirih Alena menatap lekat wajah Ibu yang terlihat begitu tenang di dalam tidurnya.
"Bu ..." Alena kembali memanggil Ibu.
Entah mengapa ada yang aneh dengan tubuh Ibu pagi ini. Tubuh Ibu bergeming, kelopak matanya bahkan tidak bergerak sedikit pun, dan yang membuat Alena seketika merasa terhenyak adalah, dada Ibu sama sekali tidak terlihat naik turun layaknya orang yang sedang tertidur. Sebagai seorang Dokter, tentu saja dia dapat merasakan bahwa ruh Ibu sudah tidak berada lagi di tempatnya.
"Ibu! Bangun, Bu. Hiks hiks hiks!"
BERSAMBUNG
__ADS_1