
"Hmm! Selamat ya, Abang. Akhirnya di restui juga," ucap Alena berjalan menghampiri sang ibu juga kakaknya.
Fazril hanya tersenyum kecil. Kedua tangannya masih menggenggam erat telapak tangan sang ibu. Dia benar-benar merasa senang karena akhirnya dirinya tidak perlu berusaha terlalu keras untuk mendapatkan restu ibu. Dirinya pun merasa tidak sabar ingin segera melenggang ke jenjang yang lebih serius, melakukan step by step sampai mereka benar-benar duduk di pelaminan sebagai sepasang pengantin baru.
"Jadi kapan? Kapan Abang akan segera memalar Mbak Nuri? Jangan menunggu terlalu lama lagi, lebih cepat lebih baik," ujar Alvin duduk bersama Alena sang istri.
"Kalau saya sih gimana ibu aja. Kalau ibu mengizinkan saya untuk segera melamar Nuri maka saya akan melakukanya secepat mungkin. Lagian, sebenarnya saya juga sudah tidak tahan ingin--" Fazril menahan ucapannya, dia pun tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
"Ingin apa hayo? Ingin seperti kami?" sela Alena yang juga tersenyum cengengesan seraya memeluk tubuh suaminya dari arah samping.
"Seperti itulah kira-kira, hehehehe!" Fazril kembali tersenyum cengengesan.
"Lakukan apa yang kamu inginkan, Zril. Jika kamu memang sudah tidak tahan lebih baik segera lamar pacar kamu dan menikah secepatnya, dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih cepat lebih baik, hidup ibu akan tenang jika kamu sudah menikah," ucap ibu mengusap punggung tangan sang putra.
"Terima kasih, bu. Kami sayang ibu."
Fazril dan juga Alena memeluk sang ibu dari arah samping. Keduanya tersenyum merasa bahagia. Ibu adalah orang yang paling berharga untuk mereka berdua. Baik Fazril maupun Alena merasa beruntung karena memiliki seorang ibu seperti Nyonya Inggrid, beliau tidak pernah memaksakan kehendak kepada kedua putra-putrinya. Beliau juga tidak pernah mengekang mereka dalam bergaul maupun ketika menginginkan sesuatu.
Bagi seorang Nyonya Inggrid, selama anak-anaknya bahagia, dan selama mereka tidak melakukan sesuatu di luar koridor agama dan bisa membedakan mana yang baik dan mana buruk, maka beliau akan selalu mendukung apapun itu yang membuat kedua anak-anaknya bahagia.
.
3 bulan kemudian.
Hari berganti dan waktu berlalu, akhirnya waktu itu pun tiba tanpa menunggu terlalu lama. Ya ... Hari di mana Fazril akan mengikat kuat jalinan cintanya dengan tali pernikahan. Pernikahan yang akan dia jalani seumur hidup tanpa ada yang namanya kata perceraian. Pernikahan pun diadakan di hotel berbintang 5. Ada lebih dari 2000 tamu undangan yang menghadiri dan menjadi saksi moment sakral mereka.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nuri Saputri dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai!"
"Sah?"
"Saaaaaah!"
Fazril mengucapkan ijab qobul dengan lancar tanpa ada hambatan sedikit pun. Hanya dengan satu kali tarikan napas saja gadis bernama Nuri pun telah sah menjadi istrinya kini. Kedua mata Fazril nampak memerah, buliran air mata pun memenuhi kelopaknya kini. Akhirnya dia telah mengakhiri masa lajangnya. Akhirnya dia telah sah menjadi suami dari wanita bernama Nuri.
__ADS_1
Fazril berjanji di dalam hatinya bahwa dia tidak akan menyakiti istrinya, tidak akan mengkhianati cinta dan kesetiaannya. Jika selama ini Nuri hanya seorang pembantu, mulai sekarang dia akan menjadi seorang ratu, baik di hatinya maupun di istananya kelak.
.
Rangkaian acara selesai diadakan. Tamu undangan pun telah meninggalkan gedung. Sepasang pengantin baru kembali ke kamarnya, kamar yang spesial di pesan untuk menghabiskan malam pertama mereka sebagai sepasang pengantin baru.
Fazril sudah berganti pakaian begitupun dengan Nuri sang istri. Namun, keduanya belum sempat membersihkan diri. Wajah Nuri masih di poles dengan make ala pengantin, wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik sempurna.
"Aku mandi dulu, Mas. Badan aku lengket banget. Muka aku juga gak nyaman pakai make up tebal kayak gini," ucap Nuri berdiri dan hendak berjalan ke arah kamar mandi.
"Tunggu, sayang. Gak usah mandi segala, kita langsung aja. Nanti juga keringatan lagi ko," jawab Fazril memeluk tubuh istrinya dari arah belakang.
"Keringetan?" Nuri mengerutkan kening, entah dia memang tidak mengerti, atau hanya pura-pura bersikap bodoh.
"Iya, mandinya nanti saja, sayang!"
"Ish! Badan aku lengket, Mas."
"Badan aku juga keringatan gak nyaman banget ini."
"Ish, saya 'kan sudah bilang. Nanti juga keringatan lagi," decak Fazril membalikan tubuh istrinya hingga mereka berdiri saling berhadapan kini.
Fazril hendak mendaratkan bibirnya di bibir merah sang istri. Namun, dia terpaksa menahan keinginannya itu karena jari telunjuk Nuri tiba-tiba saja diletakkan di bibirnya kini. Fazril mengerutkan kening dengan bibir yang dikerucutkan sedemikian rupa.
"Tahan dulu, Mas," lirih Nuri menatap lekat wajah suaminya.
"Kenapa?"
"Dengarkan aku, Mas sayang. Ini adalah malam pertama kita, apa pantas kita melakukan ritual malam pertama dengan tubuh yang lengket dengan keringat? Meskipun nanti kita akan berkeringat lagi, tapi setidaknya izinkan aku untuk memberikan yang terbaik. Izinkan aku membersihkan tubuh aku dulu, membersihkan make up aku dulu. Aku tahu Mas sudah tidak sabar, tapi jangan tergesa-gesa seperti ini," jelas Nuri panjang lebar.
"Ya sudah begini saja. Bagaimana kalau kita mandi bareng?"
"Hah! Ma-mandi bareng?" tanya Nuri seketika merasa gugup juga salah tingkah.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu gak mau?"
"Eu ... Bukannya gitu, Mas."
"Lalu?"
"Aku malu."
"Hah? Hahaha! Kenapa harus malu segala? Kita 'kan suami-istri."
"Tapi, Mas--"
Grep!
Fazril tiba-tiba saja meraih tubuh istrinya lalu menggendongnya kemudian. Nuri membulatkan bola matanya, dia semakin merasa gugup tentu saja. Meskipun begitu, dia secara refleks melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki yang telah sah menjadi suaminya itu.
Ceklek!
Blug!
Pintu kamar mandi pun di buka lalu di tutup kembali setelah keduanya masuk ke dalamnya.
"Haaaa! Mas mau ngapain?" terdengar teriakan Nuri dalam kamar mandi.
"Kenalan dulu sama Fazril junior ya, hehehehe!"
"Tidak aku takut!"
"Gak usah takut! Gak bakalan gigit ko!"
"Waaaah! bentuknya lucu juga Mas!"
BERSAMBUNG
__ADS_1