Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Benci


__ADS_3

"Ada apa adikku yang paling cantik sejagat raya? Mukanya ko kecut gitu, kayak buah mangga mentah, hehehe!" tanya Fazril tersenyum cengengesan, berjalan menghampiri Alena dan kedua anaknya.


"Pasti Abang 'kan yang bilang sama Lani kalau Alvin itu calon Daddy barunya anak-anak?" Alena dengan nada suara menahan rasa kesal.


"Emang iya 'kan? Apa yang salah?"


"Ya ... Tapi belum saatnya kita memberitahukan dia tentang hal itu. Nunggu waktu yang tepat, Abang!"


"Kapan waktu yang tepat menurut kamu? Lagi pula Lani senang ko punya calon Daddy baru seperti Om ganteng itu. Iya 'kan Lani sayang?" Fazril mengalihkan pandangan matanya kepada Lani seraya tersenyum begitu lebarnya.


"Senang dong, Om Alvin baik. Gak kayak Daddy," celetuk Lani seketika memasang wajah masam.


"Ikh! Kaka jahat, Daddy baik! Kata siapa Daddy jahat?" teriak Lian merasa tidak terima.


"Iya, Dede, iya. Terserah Dede aja, kaka lagi malas berdebat dengan kamu."


"Astaga, kalian kenapa jadi kayak gini sih? Sejak kapan kalian jadi sering berdebat? Daddy kalian baik ko, Daddy gak jahat sama sekali," lirih Alena mencoba untuk menenangkan kedua putra-putrinya.


Walau bagaimanapun Alviano tetap ayah dari kedua buah hatinya. Mereka tidak boleh tahu hal yang sebenarnya. Biarlah hanya dia sendiri yang tahu bahwa ayah mereka sedang mendekap di dalam penjara saat ini. Alena merasa khawatir anak-anaknya akan merasa rendah diri jika mereka sampai tahu bahwa ayah mereka ternyata seorang narapidana.


"Bagiku Daddy tetap jahat, titik!" Teriak Lani, sepertinya dia masih menyimpan rasa benci terhadap sang ayah.


Baik Alena maupun Fazril hanya diam seraya menatap wajah Lani lekat. Jelas sekali terlihat dari raut wajah anak ini bahwa dia tidak main-main saat mengatakan hal itu. Lani benar-benar membenci ayahnya, pertemuan terakhirnya dengan Alviano benar-benar menyisakan luka yang teramat dalam di lubuh hatinya.

__ADS_1


"Ada apa sih? Cucu-cucu Eyang ko mukanya pada kusut gini?" tanya sang ibu berjalan menghampiri putra-putri juga kedua cucunya.


"Eyang, kata Kaka Daddy aku jahat. Padahal Daddy 'kan orang baik. Iya 'kan, Eyang?" Celoteh Lian dengan wajah polosnya.


Nyonya Inggrid tentu saja hanya diam seraya tersenyum cengengesan. Beliau tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan sang cucu. Wanita paruh baya itu takut salah bicara nantinya. Hati kedua cucunya akan merasa terluka jika mereka tahu seperti apa ayah mereka sekarang.


"Ko Eyang diam saja?"


"Hah? Eu ... Nggak ko, sayang. Daddy kamu orang baik ko, kalau kaka Lani bilang bahwa Daddy orang jahat karena Kaka Lani sedang marah sama Daddy," jawab sang Nenek akhirnya menjawab pertanyaan cucu kesayangannya.


"Begitu ya? Kaka Lani, tidak boleh marah lama-lama ya. Walau bagaimanapun Daddy tetap ayah kita. Kata Opa, gak baik lho marah sama orang tua."


"Gak mau, kaka benci sama Daddy, titik!" Teriak Lani lalu berlari begitu saja meninggalkan mereka di sana.


Fazril yang menyaksikan hal itu segera berlari mengejar. Anak itu nampak duduk di teras rumah seraya memeluk lututnya, kedua mata Lani menatap lurus ke depan melayangkan tatapan kosong. Fazril menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya duduk tepat di samping keponakannya tersayang.


"Kenapa sih kalian orang dewasa masih menganggap Daddy baik? Daddy itu jahat Om. Dia menculik aku, tangan aku sakit sekali saat di cengkram sama dia. Pokoknya aku benci sama Daddy!" jawab Lani, kedua matanya seketika memerah.


"Iya, sayang. Om mengerti bagaimana perasaan kamu, Om paham betul, tapi sayang. Lian adik kamu tidak tahu apa-apa karena dia tidak berada di sana ketika Daddy membawa kamu. Selain itu, Dede Lian juga masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi."


Lani diam seraya menundukkan kepalanya. Wajahnya benar-benar terlihat sedih. Kedua tangan Fazril seketika bergerak meraih tubuh keponakannya itu lalu membawa ke dalam pangkuannya kini.


"Lani, sayang. Dengarkan Om, sejahat-jahatnya Daddy, beliau tetap ayah kamu. Om mengerti kalau kamu masih marah sama beliau. Om juga marah sekali saat tahu kamu di bawa sama beliau waktu itu, tapi jangan lama-lama marahnya. Benar apa yang dikatakan sama Dede Lian, tidak baik marah terlalu lama kepada orang tua. Paham apa yang Om katakan?" jelas Fazril panjang lebar.

__ADS_1


Lani masih diam seraya menundukkan kepala. Dia tetap pada pendiriannya. Sampai kapan pun dirinya akan tetap membenci sang ayah. Di balik senyuman ceria yang selalu diperlihatkan oleh Lani, ternyata diam-diam gadis itu menyimpan rasa trauma terhadap ayahnya sendiri.


"Om, boleh aku minta tolong sama Om?" tanya Lani mengangkat kepala menatap wajah sang Om dengan tatapan mata sayu.


"Kamu mau minta tolong apa? Katakan saja. Kamu mau kita jalan-jalan? Beli mainan yang banyak seperti waktu itu?"


Lani menggelengkan kepalanya.


"Hmm! Mau makan di Restoran?"


Lani kembali menggelengkan kepalanya.


"Lalu, kamu mau minta tolong apa, sayang?" tanya Fazril mengerutkan kening.


Lani menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya mengatakan apa yang dia inginkan. Gadis itu pun mengusap kedua matanya yang kini mulai berair membuat hati seorang Fazril seketika merasa tersentuh tentu saja.


"Tolong bilangin sama Om Alvin untuk segera menikahi Mommy, aku pernah dengar kalau Om Alvin baru akan menjadi Daddy baru aku setelah dia menikah dengan Mommy."


Fazril merasa terhenyak tentu saja. Ternyata Lani benar-benar merindukan sosok sang ayah. Dirinya saja tidak cukup untuk menggantikan kasih sayang yang telah hilang itu. Lani butuh ayah sesungguhnya, sosok yang akan menggantikan kasih sayang Alviano yang telah lama tidak dia rasakan. Tanpa sadar, bola mata Fazril mulai memerah kini. Dia memeluk erat tubuh Lani juga membelai kepalanya lembut dan penuh kasih sayang.


"Pasti sayang. Om Pasti akan mengatakan hal ini kepada Om Alvin, tapi kamu jangan bersedih lagi ya. Nanti cantiknya hilang lho."


Lani menganggukkan kepalanya balas memeluk tubuh laki-laki itu.

__ADS_1


'Kasihan sekali kamu, Nak. Ketika kedua orang tua bercerai, anak tetaplah menjadi orang yang paling terluka dan tersakiti. Semoga saya bisa menemukan wanita yang baik yang akan saya nikahi, dan pernikahan saya tidak perlu berakhir dengan perceraian,' batin Fazril mengecup pucuk kepala sang keponakan.


BERSAMBUNG


__ADS_2