
"Memangnya Alviano mengatakan bahwa dia akan datang ke mari?" tanya ibu menatap heran wajah Alena kini.
Alena tentu saja merasa bingung harus menjawab apa? Dia memang tidak mendengar sendiri mantan suaminya mengatakan hal itu, dia hanya menebak, menggunakan feeling-nya untuk menerka-nerka kemana kira-kira Alviano membawa sang putri. Feeling Alena sebagai seorang ibu tidak pernah salah selama ini, jika pada kenyataannya mereka memang tidak datang ke sana, harus ke mana lagi dirinya harus mencari putrinya itu? Alena benar-benar merasa frustasi.
"Neng? Kenapa Eneng diam saja? Ibu tidak berbohong, sebenarnya ada apa? Eu ... Kita duduk dulu, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi," ujar ibu lembut, beliau mempersilahkan mantan istri dari putranya itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
Alena tidak punya pilihan lain lagi. Dia akan menceritakan semua yang terjadi kepada mantan ibu mertuanya itu. Dari A sampai Z tidak akan ada yang dia tutup-tutupi. Alena duduk dengan perasaan berkecamuk juga bola mata yang mulai memerah menahan tangisnya sebisa mungkin.
"Saya mohon tolong saya, bu. Saya akan menceritakan semuanya sama ibu, apa dan kenapa kami sampai bercerai."
Alena mulai menceritakan semuanya. Buliran air mata itu seketika berjatuhan tidak bisa lagi dia tahan. Rasa sesak di dadanya pun kian terasa menyiksa kini.
"Kamu yakin, Alviano berselingkuh? Putra ibu itu sangat mencintai kamu lho?" tanya ibu merasa tidak percaya bahwa putranya bisa melakukan hal yang seburuk itu.
"Memang sulit untuk di percaya, tapi seperti itulah kenyataanya, bu. Mas Vian telah mengkhianati aku, dia bermain gila dengan wanita lain sementara aku kerepotan mengurus anak-anak di rumah," jawab Alena, wanita paruh baya itu masih saja tidak mempercayai ucapannya dan hal itu membuat Alena benar-benar merasa kecewa.
"Maaf, bukan maksud ibu untuk memojokkan kamu, Neng, tapi ibu yakin ada alasan kenapa putra ibu sampai berselingkuh. Sebagai seorang istri, wajib hukumnya mengurus suami dengan baik, menjaga penampilan kamu. Tidak mungkin suami kamu melirik wanita lain jika saja kamu pandai memuaskan dia."
"Tapi, bu. Apapun alasannya, berselingkuh itu adalah perbuatan yang salah."
"Ya kalau kamu pandai menjaga penampilan, bersolek dan menjaga suami kamu dengan baik, Alviano tidak mungkin melirik wanita itu!"
Alena mengepalkan kedua tangannya diam-diam. Dia melupakan satu hal, walau bagaiamapun Alviano adalah putra dari wanita paruh baya ini, sejelek-jeleknya sang anak, seorang ibu akan tetap membela anaknya. Namun, Alviano jelas-jelas salah di sini, tidak seharusnya ibu membernarkan kesalahan yang telah dilakukan oleh laki-laki itu. Alena sungguh merasa kecewa, rasa hormatnya kepada wanita paruh baya ini pun hilang kini.
"Saran ibu, jika memang Alviano meminta rujuk, sebaiknya kamu terima saja tawaran dia. Semua ini demi anak-anak kalian. Kasihan mereka, ibu tidak mau kalau cucu-cucu ibu merasa tertekan dan menjadi korban karena keegoisan kamu, Neng," ucap ibu membuat hati Alena semakin merasa tercabik merasa tidak dihargai.
"Mohon maaf, bu. Saya tidak bisa mengikuti apa yang ibu sarankan. Saya tidak bisa memaafkan sebuah perselingkuhan dan pengkhianatan. Sekali laki-laki berselingkuh, maka dia akan melakukannya lagi nanti, karena selingkuh adalah sebuah penyakit yang tidak ada obatnya."
"Lancang sekali, kamu. Kamu bilang putra saya memiliki penyakit yang tidak bisa di sembuhkan? Tahu dari mana kamu kalau dia akan kembali berselingkuh? Jangan mendahului Tuhan Alena, sepertinya Alviano memang salah dalam memilih istri. Menikahi remaja labil seperti kamu adalah sebuah kesalahan terbesar yang dia lakukan."
Alena mengusap wajahnya kasar. Air mata itu sepertinya sudah kering, hanya rasa sesaknya saja yang terasa semakin menyiksa. Bukannya mendapatkan simpati karena perselingkuhan yang telah dilakukan oleh putra dari wanita paruh baya ini, dirinya malah mendapatkan cacian dan juga di salahkan.
__ADS_1
"Saya permisi, bu," pamit Alena tanpa basa-basi. Dia pun berdiri dan hendak keluar dari dalam rumah.
"Tunggu, Alena."
Wanita itu sontak menghentikan langkah kakinya.
"Lebih baik kamu serahkan hak asuh anak-anak kepada Alviano. Gimana mau mengurus anak-anak jika mengurus suami kamu saja tidak bisa!"
"Maaf, saya ibunya. Saya akan memperjuangkan anak-anak sampai titik darah penghabisan," tegas Alena penuh penekanan lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Dih, memangnya dia mau berperang apa sampai titik darah penghabisan segala." Gumam ibu sinis.
Alena berjalan dengan hati dan perasaan kecewa. Selain karena sang putri tidak ada di sana, dia pun merasa terluka karena sikap sang ibu yang seolah membenarkan perselingkuhan mantan suaminya.
"Alena?" Sapa Alvin turun dari dalam mobil saat melihat wanita itu berjalan keluar dari halaman.
"Lani gak ada di dalam Mas."
Ckiiit!
Sebuah mobil tiba-tiba saja berhenti tepat di depan mobil milik Alvin. Seketika itu juga, Lani turun dari dalam mobil begitupun dengan Alviano, gadis kecil itu hendak berlari menghampiri sang ibu.
"Mommy! Hiks hiks hiks!" Tangis Lani menggelegar memecah keheningan malam.
"Sayangnya Mommy!" Alena balas berteriak memanggil nama sang putri.
Grep!
Tubuh Lani seketika di gendong oleh ayahnya. Dia di dekap erat menahannya agar tidak mendekati Alena ibunya membuat Alena merasa terkejut tentu saja.
"Lepaskan dia, Mas Vian. Kembalikan dia kepadaku, kasihan dia, Mas. Lani masih kecil, dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak salah apa-apa," lemah Alena menahan emosi yang sebenarnya ingin sekali dia ledakkan sebenarnya.
__ADS_1
"Mengembalikan? Dia putri saya juga, Lena. Kamu jangan bersikap seolah-olah saya ini adalah penjahat yang sedang menculik seorang anak kecil."
"Aku gak mau sama Daddy, aku maunya sama Mommy. Daddy jahaaaaaat! Mommy, tolong aku, hiks hiks hiks!" teriak Lani mengerakkan tubuhnya sedemikian rupa, mencoba untuk lepas dari dekapan tangan ayahnya.
"Kamu dengar, Mas. Lepaskan dia, biarkan Lani tinggal dengan aku, Mas. Aku mohon, kasihan dia. Lani sayang! Putrinya Mommy, hiks hiks hiks!"
"Tolong aku, Mom. Sakit! Hiks hiks hiks!" ringis Lani, dekapan tangan ayahnya membuat tubuhnya terasa sesak.
Alena segera menghampiri Alviano dan berusaha untuk merebut tubuh kecil Lani secara paksa. Terjadilah tarik-menarik tubuh mungil Lani terlihat begitu mengenaskan.
Alvin yang menyaksikan hal itu tentu saja tidak tinggal diam, dia menghampiri Alena dan mencoba untuk menenangkan. Laki-laki itu menahan tubuh Alena.
"Sabar, Len. Kasihan Lani," lirih Alvin kemudian.
"Jangan ikut campur dengan urusan kami, brengsek!" umpat Alviano merasa geram.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri. Apa kamu tidak lihat kalau putri kamu ini merasa kesakitan, hah? Anda benar-benar ayah yang jahat, Alviano!" Tegas Alvin, ingin rasanya dia menghantam wajah laki-laki ini.
Alviano sontak melonggarkan lingkaran tangannya. Dia pun menatap wajah Lani yang kian memucat juga semakin menangis histeris. Mata hatinya benar-benar telah tertutup, nalurinya sebagai seorang ayah pun perlahan menghilang tanpa dia sadar.
"Dengarkan saya Alena. Saya tidak akan mengembalikan Lani kepada kamu, jika kamu menginginkan putri kita, maka kamu harus rujuk sama aku dan kita menjaga anak-anak bersama-sama." Ketus Alviano, berjalan memasuki halaman, dia pun menutup pagar dan menguncinya kemudian.
"Tidaaaak! Jangan bawa anakku, aku mohon, Laniiiii!"
"Mommy, aku mau Mommy, huaaaaaa!"
Alviano tidak menanggapi teriakan ibu dan anak itu. Dia berjalan memasuki rumah tanpa belas kasih memisahkan mereka berdua.
'Hanya dengan cara ini kamu akan bersedia untuk kembali kepada saya,' batin Alviano.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...