
Part 9
***
Fiko berkemas didalam kamarnya, ia mencari bajunya buat bertanding, ko ndak ada dimana ya, perasaan Fiko taruh tas, ia turun dari kamar atas menemui sang Mama,
"Mama tau seragam Fiko yang baru kemarin, ndak? Baju buat lomba kemarin Ma?" Tanya Fiko pada sang mama.
"Gimana sih sebentar lagi berangkat lo, inget ga ditaruh dimana?" jawab mamanya.
"Didalam Tas sih ma,
"Kan habis pertandingan kita nginep dirumah mas mu. Inget ga?" Mungkin ketinggalan disana.
"Oh iya, kalau ndak ada disana bagaimana Ma?" tanya Fiko.
"Makanya sekarang cepat cari, mumpung masih tiga jam lagi berangkatnya." jawab mama.
"Iya deh Ma, Fiko berangkat kesana. Ucap Fiko Sambil berjalan menuju motor kesanyangannya.
"Iya hati-hati jangan ngebut Fiko!" pesen sang Mama.
"Siap Mama, Fiko berangkat dulu."
Dinaikinnya motor kesayangan menuju rumah kakaknya, Matahari mulai tenggelam pertanda petang telah tiba, Bram juga Mitha mampir ke Mall untuk membeli permainan Raka dan Rania, lalu bergegas pulang ,mobil melaju menuju kediaman rumah Bramantiyo, mobil terparkir digarasi, mereka turun dari mobil, lalu masuk kedalam rumah.
Perasaan Mitha Ada yang aneh, ternyata benar Siska sudah menunggu di ruang tamu.
Bram wajahnya mulai memerah ia sudah terjebak dalam perselingkuhanya, melihat Siska dirumah membuat Bram kesal.
Mitha meminta mbok Darmi untuk membawa anak-anak masuk ke kamar dan jangan sampai anak-anak mendengar ucapan Siska.
"Ada Apa?" Tanya Bram kesal.
"Mas Bram Siska Rindu," sambil bergelayut manja memegang tangan Bram.
"Lepaskan," ucap Bram kasar.
"Mas kenapa kalau didepan mbak yu ku itu kamu berubah padahal kalau lagi ndak ada dia Mas manja terus sama Siska." Ucap Siska.
Mitha hanya Diam, badannya terasa panas dan sedikit bergetar, ia tahu Siska memancingnya untuk marah, inget kata-kata Si Mbok, hadapi dia dengan cara elegan jangan bicara kasar. Itu pesen Si mbok, ia menahan diri untuk tidak bicara kasar.
"Ayolah Mas seperti biasa ke apartemen, yang Mas belikan untukku atau mungkin, di rumah
Ini saja kan sebentar lagi rumah ini jadi milikku."
"Jangan bermimpi Siska, Rumah ini milik Shelomitha, sertifikatnya pun milik Shelomitha ndak ada yang berhak atas Rumah ini kecuali Mitha, bahkan aku pun ndak berhak.
__ADS_1
"Ayo kalau gitu ikut ke apartemen aku," siall rencanaku gagal jadi rumah ini sudah milik mitha. Guman Siska dalam hati.
"Siska pulang sebelum kesabaranku habis," Ucap Bram geram.
"Ini pasti karena mbak Mitha yang sok malaikat ini."
"Diam jangan bicara lagi," ucap Bram frustasi
"Aku Fransiska tidak akan pulang kalau Mas Bram tidak menemaiku tidur malam ini, Mbak Yu Mitha bilang sama suaminya untuk pulang bersamaku, kalau tidak biarkan aku menginap disini satu ranjang bersama suamimu.
"Disini di rumah ini, bukan tempat orang untuk berbuat zina." Ucap Mitha kesal.
"Tuh kan Mas Bram lihat istrimu, Mulai jadi sok suci."
"Dia Memang suci, Dia wanita istimewa tidak seperti dirimu, bisanya cuma memanfatkan orang."
"Gara gara kamu Mbak Mitha, Aku jadi dimarahin sama Mas Bramku," ucapnya Siska pada Mitha.
Siska dengan cepat mendorong tubuh Mitha, Hingga Mitha hampir terjatuh tubuh tegap Fiko menahan tubuh Mitha dari belakang, Fiko meradang rahangnya mengeras, sungguh ada ya adik gila seperti ini, Mitha hampir saja jatuh, adik gadungannya itu membuatnya bener-bener muak, ucap Mitha dalam hati. Bram yang melihatnya terkejut dan menarik Siska hingga Dia jatuh di kursi sofa.
"Dasar wanita mu***an tega ya sudah jadi pelakor mau berbuat kriminal lagi, jika anda tidak pergi dari sini kupastikan anda bisa mendekam dipenjara." Ancan Fiko pada siska.
"Dasar Bocah memang Aku takut Ancaman kamu hah," ucap Siska sambil melotot.
"Sudahlah Fiko ndak ada gunanya kamu berdebat sama dia ndak ada manfaatnya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya Fiko, biasanya orang yang berasal dari lembah hitam meskipun berada ditempat yang putih Dia tetaplah hitam.
Siska berdiri ia mau menampar Mitha, langsung ditepis tangannya oleh Fiko yang kekar, sambil memegang tangan Siska, Fiko berucap. Jika dalam hidungan menit anda tidak keluar dari rumah ini Aku telepon pihak yang berwajib, ancam Fiko pada Siska.
"Baiklah, Fiko memutar vidio pertengkaran tadi ia menunjukkan pada Siska, Siska emosi dan beranjak pulang," Fiko mengusap rambutnya dengan kasar, ia takut jika mbak Mitha akan mendapat ancaman terus dari Siska.
"Mas kenapa diam saja? mbak Mitha didorong, Apa ini cara mas melindungi sang istri.
"Maafkan Mas Bram, Fiko, Mas Hanya....
"Hanya Apa Mas, Mas tau nyawa mbak Mitha dalam bahaya, Apapun akan dilakukan wanita gila itu untuk menyerang mbak Mitha, Mas berubah jadi lelaki yang lemah, Wanita itu telah merubah mas Bram. Fiko ndak percaya.
"Mas memang salah Fiko." ucap Bram tak berdaya.
Mitha yang ketakutan akhirya duduk di kursi, ia menahan tangis, sungguh dari kecil ia begitu menyayangi adiknya, sekarang berubah menjadi wanita yang mengerikan.
Fiko takut jika wanita gila itu datang lagi, ia menyuruh Mbok Darmi menyiapkan pakaian mbak Mitha nya, untuk tinggal bersama Sang Mama, Mitha hanya bisa diam, mbok Darmi juga mang kardi ikut membereskannya, mereka lalu pergi ke rumah sang Mama.
Bram hanya diam menyaksikan istrinya pergi bersama anak-anaknya, dan dia malu tidak bisa melindungi sang istri, benar kata Fiko kalau ia adalah pria yang lemah, hidupnya kini hancur, hanya ada kenangan bersama sang istri. Motor Fiko terparkir di garasi tak selang lama mobil Mitha memasuki parkir depan rumah, sang Mama mendengar ada suara ribut-ribut diluar akhirnya keluar juga.
"Fiko ada apa ini? Ada apa sama Mitha?" tanya sang mama penasaran.
"Masuk dulu mama jangan diluar ngobrolnya," jawab Fiko pada mamanya.
__ADS_1
Semuanya masuk mang Kardi sama mbok Darmi disuruh ke kamar belakang, Raka dan Rania tidur di lantai atas deket kamar Fiko, mereka disuruh istirahat di kamar. tinggal mereka bertiga diruang santai. Sang mama minta penjelasan dan Fiko akhirnya menceritakan semuanya. Sang mama hanya bisa diam, beliau hanya heran mana ada adik kandung begitu.
Mitha duduk sofa menceritakan semuanya yang dibilang mbok Darmi kemarin, akhirnya sang Mama dan Fiko mengerti. Mitha juga bilang jika Siska berubah.
"Jadi dia balas dendam Tha, sama kamu pengen rumah tangga kamu hancur, Tujuannya balas dendam critanya?" tanya sang mama tak mengerti.
Bisa jadi begitu ma, kata si mbok, Siska punya paman, nah pamannya ini dulu sekongkol sama ayahnya Siska, mungkin saja pamannya jarwo ini yang menghasut Siska ma." jawab Mitha.
"Tapi bahaya lo bener kata Fiko, kamu memang harus disini?" tanya sang mama.
"Iya ma, gimana baiknya saja," jawab Mitha
Fiko mengemasi barangnya, sebenarnya ia tak tega harus meninggalkan sang kakak ipar sendirian dirumah, Fiko tahu bahwa Siska tidak main-main dia bisa saja melukai kakaknya Fiko lalu berangkat menuju bandara juanda, ia pergi dengan rasa tidak tega meninggalkan mbak mitha.
Bram diam sendiri dibalkon atas ia menatap bintang-bintang dalam keheningan malam.
Secangkir kopi panas menemaninya, ia merasa dirinya memang terlalu lemah, melindungi istrinya saja ia tak bisa, kalau tadi ndak ada Fiko entah apa yang akan terjadi sama Mitha, bayangan saat Siska mendorong Mitha masih terlihat jelas di ingatanya, dibekakang Mitha ada vas bunga kaca, jika kepalanya membentur kaca vas itu bagaimana, Bram hanya bisa menghela nafas panjang, ia lah yang bersalah pada istrinya.
Bram akan segera mengurus surat gugatannya biar Mitha dan anak-anak nya bisa selamat dari teror Siska, semoga yang Bram lakukan bisa melindungi Mitha dan keluarga kecilnya, Mungkin ini jalan yang terbaik.
Bram masuk kedalam tempat tidur kenagan bersama istrinya selalu menari-nari diingattanya, bener kata orang, kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadiranya sungguh berharga. Bram menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, ia masih bisa merasakan aroma tubuh Mitha, angin berhembus dimalam hari membuat Bram tenggelam dalam alam mimpi.
Fajar terbit dari ufuk timur, Mitha bersama mbok Darmi juga mbok sari menyiapkan Sarapan pagi, hingga beberapa menit masakan sudah tersedia diatas meja, semua berkumpul di ruang meja makan, sang mama melihat menantu juga cucu-cucunya berkumpul, beliau merasakan kebahagiaan yang sederhana.
Tha gimana hari ini jadi pulang ke nganjuk? Tanya sang mama.
"Iya ma jadi," jawab Mitha.
"Kalau pulang jangan bawa mobil kamu, bawa mobil Fiko biar ga bisa dilacak sama Siska."
"Begitu ma, baiklah ikut kata mama saja."
"Hati-hati sayang, nanti mang usep mama suruh ke pasar pake mobil kamu, setelah bebebapa menit baru Mitha berangkat sama Mang Kardi."
"Trimakasih mama, sudah sayang sama Mitha, mitha ndak tau harus berkata apa sama mama,"
"Sayang sudahlah, kamu itu juga anak mama," sang mama sambil memeluk Mitha.
"Kabari mama kalau sampai sana?"
"Iya mama,"
Mobil Mitha berlalu menuju pasar, didalamnya ada mang Usep sama mbok Sari,
Berapa menit kemudian mobil Fiko melaju dengan kecepatan cepat menuju kota ayahnya tinggal, yang didalam nya ada Mang kardi, simbok, Mitha, juga anak-anak.
Mitha hanya bisa berdo'a semoga semuanya baik-baik saja, ancaman Siska selalu membuatnya gelisah, ada paman Jarwo yang mengendalikan Siska, mungkin saja jarwo mencuci otaknya Siska agar ia bisa dijadikan umpan untuk membalaskan dendam, kata Simbok jarwo adalah orang yang jahatnya sudah dilevel atas, Semoga saja keluargaku dilindungi Allah yag mengetahui segala sesuatu di alam semesta ini.
__ADS_1
Next.....
maaf buat kesalahan salah up😘🙏